Dunia saat ini berada dalam situasi duka. Wabah pandemi covid-19 membuat semua orang tinggal dalam ketakutan. Wabah ini tidak memandang suku, ras, agama, atau golongan sosial. Ketika wabah ini pertama kali menyerang Wuhan, banyak ungkapan belasungkawa membanjiri media. Gaungan frasa pray for Wuhan terdengar di setiap sudut kota pun negara. Namun hari ini bukanlah persoalan Wuhan yang dibicarakan, namun persoalan antara saya, kamu, mereka, dia, dan engkau. Persoalan wabah Covid 19 “menyeret” dunia pada spasi reflektif yang mendalam.
Banyak spekulasi yang seolah-olah “memekakkan” telinga yang mendengar, “membutakan” mata yang membaca, dan “mengkakukan” bibir yang mengucap. Namun akankah semua spekulasi tersebut memiliki kebenaran atau sekadar pseudo-veritas. Apakah kebenaran spekulasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan dalam tataran episteme? Apakah benar, bahwa wabah ini adalah spasi bagi manusia untuk kembali ke rumah, kembali menyegarkan bumi dengan momen stay at home? Atau wabah ini adalah efek persaingan global? Bahkan miris dan naifnya, wabah ini adalah hasil kalkulasi konspirasi terstruktur? Jika wabah ini adalah hasil konspirasi yang kebenarannya masih tertunda, maka selamat menunggu sampai kapan kebenaran itu akan terungkap.
Satu yang pasti bahwa fakta ini adalah fakta kausastik. Tidak ada sesuatu yang terjadi dalam dirinya sendiri (kecuali Allah). Artinya pasti ada sesuatu yang menyebabkan sesuatu (baca: corona) itu menjadi sesuatu yang jahat. Apakah Allah yang menyebabkan sesuatu? Jika ya, mungkin terlalu dini mengafirmasi sesuatu yang belum pasti! Tetapi apakah ini adalah fenomena alam atau ini adalah numena, sesuatu yang sulit dijelaskan asal muasalnya?
Selain Allah (actus purus; ada murni tidak diadakan atau disebabkan oleh ada yang lain) sesuatu itu terjadi karena ada yang lain. Bisa karena ulah manusia, bisa pula gejala alam yang regular. Dengan demikian atas wabah yang mematikan ini, semua manusia tinggal dalam “pondok” pertanyaan besar, siapa yang menyebabkan semuanya ini? Wabah covid-19 adalah bagian dari penggalan sejarah yang pasti akan dikisahkan turun temurun.
Korona Sebuah “Keburukan”
Benar bahwa, korona, adalah fakta pademi yang sangat meresahkan begitu banyak orang. Keresahan itu bukan hanya karena dia menyerang sistem pernafasan dan imun tubuh manusia, tapi dia mematikan, ia menjadi bumerang bagi manusia.
Apa mungkin korona itu “Allah” postmodern? Yang menimbulkan ketakutan di mana-mana? Sehingga setiap manusia yang lalai dalam kehidupannya, akan dipanggil meninggalkan dunia secepatnya? Mungkin juga terlalu naif, jika korona disamakan dengan “Allah” yang dapat mengambil nyawa manusia. Namun yang menarik adalah ketika acap kali orang menyamakan Allah dan korona atau korona itu “Allah”-nya postmodern, hal yang bisa dilihat di sini adalah, terlalu cepat orang menyebut atau mempredikatkan korona sebagai Allah. Mengapa? Sederhananya, korona itu bisa dideteksi bahkan didefenisikan sebagai sebuah jenis penyakit yang mematikan dan dikenali gejalanya. Apakah Allah bisa dideteksi atau didefenisikan? Sesungguhnya, hakikat Allah itu tidak bisa didefenisikan, apalagi disamakan dengan sesuatu. Sebab Allah itu absolut dan tidak bisa didefenisikan. Bahkan St. Agustinus mengatakan, jika kita mengatakan bahwa kita sedang berbicara tentang Allah, sebenarnya bukan Allah yang sedang dibicarakan, sebab Allah itu hakikatnya tidak mampu ditangkap oleh budi manusia. Dengan demikian, jika korona bukan “Allah”, apakah dia itu sebuah kejahatan atau keburukan?
Untuk memahami keburukan, orang harus memahami apa itu kebaikan. Dalam metafisika, kebaikan merupakan modus lain dalam mengekspresikan ada, yakni menyangkut modus essendi dari sesuatu yang dikehendaki. Semua yang ada sejauh mereka ada, adalah mungkin mereka dicapai oleh kehendak. Karena itu, tetap berlaku prinsip bahwa ada dan baik itu bersifat konvirtebel. "Ens et bonum conventutur” (ada dan baik bisa dipertukarkan). Semakin sesuatu baik, maka semakin aktual dalam adanya. Kalau kebaikan barang itu hilang, maka hilang pula adanya. Dengan kata lain, kehilangan kebaikan berarti, kehilangan atau ketiadaan barang itu. Oleh karena itu tidak ada suatu barang pun yang dari kodratnya adalah buruk. Kalau buruk berarti tidak ada kebaikan, kalau tidak ada kebaikan berarti sesuatu tidak ada. Berarti sesuatu itu tetap tidak ada, jika kehilangan kebaikan?
Tentu, akan menjadi hal yang sangat kontradiktif, jika saya menyetujui atas konsekuensi logis yang diambil dari konsep metafisika tentang keburukan. Bahwa korona bukanlah sebuah keburukan. Lantas apakah dia itu baik? Mengapa baik itu, membahayakan bahkan mengancam nyawa banyak orang? Kalau itu merugikan berarti itu buruk (tidak baik). Tapi tidak ada sesuatu yang secara kodrat itu buruk! Atau tidak ada apa-apa yang per essentiam buruk.
Tentang korona yang katanya “buruk” ada benarnya juga. Walaupun secara metafiska contradiction in terminis! Mari sejenak bergrilia dengan logika kita! Semua penyakit itu menyerang manusia, saat manusia berada pada titik terlemah (baca: imun tubuh berkurang). Saat berada pada titik terlemah, manusia jatuh sakit, karena bakteri atau virus menyerang daya tahan tubuh yang sedang lemah. Jika manusia memiliki daya tahan tubuh baik, maka penyakit akan dengan sulit menyerang tubuh kita. Pada umumnya, korona itu meyerang manusia, saat manusia berada pada titik terlemah. Sehingga, protokol waspada Covid adalah perkuat daya imun tubuh dengan cara a, b, c, d, e, f, g dst.
Maka, saat manusia berada pada posisi fit, manusia akan sulit diserang penyakit atau virus dan saat itu pula semua jenis penyakit pada dirinya bisa saja dikatakan “baik”, karena tidak menyerang siapa-siapa. Namun, dia (baca: korona) dipredikatkan sebagai yang “buruk” ketika menyerang manusia bahkan mematikan manusia. Namun ketika, manusia sehat atau fit, maka dia tidak bisa menyerang organ manusia. Sehingga dia tetap tinggal sebagai penyakit yang sama sekali tidak bisa dipredikatkan “buruk” sebab dia tidak menyerang siapa-siapa. Dan dia hanya tinggal sebagi sebuah virus atau jenis penyakit. Hanya karena manusia berada pada titik terlemah, dia menyerang manusia.
Begitupun korona. Jikalau semua orang memiliki daya tahan tubuh yang kuat atau imun yang kuat maka akan sulit diserang oleh korona. Saya dan anda, mengatakan korona itu sesuatu yang “buruk”, bukan karena dia pada kodratnya buruk, tapi karena dia menyerang manusia, pada saat manusia berada pada titik terlemah, maka dia menyerang manusia.
Adanya Allah, Sebuah Teodise
Dalam dunia modern, hilangnya rasa kepercayaan kepada Tuhan semakin meluas. Pembahasan eksistensi Tuhan dalam dunia modern membutuhkan defenisi tentang Tuhan dan dunia modern. Tuhan dalam peradaban Barat dan di semua kultur yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran Yahudi, Kristen dan Islam terdapat apa yang disebut gagasan generik tentang Tuhan. Dalam gagasan ini, Allah atau Tuhan dilihat sebagai perujukan pada suatu pribadi yang memiliki tujuan, memiliki kebaikan sempurna, kekuasaan tertinggi, pencipta dan pemberi takdir pada dunia. Kadang-kadang manusia bisa merasakan hadir-Nya, khusunya sebagai sumber aturan moral dan pengalaman religius, menjadi landasan yang mendasari makna dan harapan, sehingga patut disembah.
Apakah fenomena korona yang mewabah dunia hingga saat ini, dengan berbagai macam penanganan yang belum selesai, membuat orang-orang sampai pada kesimpulan bahwa Allah itu tidak ada! Ketika berhadapan dengan kejahatan dan penderitaan. Apakah mereka-mereka adalah epikurian yang mengikuti empat tesis Epikurus, pertama, Allah bisa tapi tidak mau= Allah tidak bermoral, kedua, Allah mau tapi tidak bisa= Allah tidak Mahakuasa, ketiga, Allah tidak mau dan tidak bisa= Allah bukanlah yang Mahakuasa dan Mahabaik dan keempat, Allah mau, Allah bisa, tetapi mengapa masih ada kejahatan dan penderitaan? Maka, sebenarnya bagi Epikurus Allah tidak ada!
Jika sejenak membaca argumen Epikurus, mungkin kita bisa berasumsi bahwa ada benarnya juga? Bukannya terlalu dini, jika hanya membaca empat tesis Epikurus ketika disejajarkan dengan penderitaan akibat korona, kita mengatakan bahwa Allah tidak ada. Sebab sudah dikatakan bahwa Allah itu sesuatu tidak bisa didefenisikan apa lagi disamakan dengan sesuatu yang kontinges atau fana. Sebab, jika manusia mengatakan Allah itu baik, bijaksana, sebenarnya itu hanyalah analogi manusia untuk mempredikatkan Allah. Karena, Allah itu terlampau rumit, dan untuk mengenal sifat Allah, maka manusia melihat dan mengalami, jika manusia yang adalah ens contingens sebagai ada yang diadakan adalah baik, bijaksana, apalagi Allah yang mencipatakan kita. Maka digunakan predikat kepada manusia (baik, bijaksana) untuk mendefenisikan Allah, walaupun sebenarnya defenisi atau predikat itu tidak memadai, tapi tetap digunakan, agar manusai tetap menganggap bahwa Allah itu memang ada.
Kita perlu mempertahankan tesis bahwa tanpa Tuhan, manusia tidak mungkin mencapai kepenuhan dan kesempurnaan. Seperti yang dikatakan Franklin Baumer-mengikuti Arthur Koester bahwa mereka melihat adanya kebenaran dalam nubuat Nietzsche: dunia yang sepenuhnya kehilangan Tuhan lebih buruk daripada dunia yang percaya Tuhan yang dipandang rendah oleh Nietzsche dan modernitas tahap akhir. Sebab, manusia adalah ens continges, yang dalam seluruh keberadaanya tergantung sepenuhnya dan selalu pada ens necessarium, yang kita namakan Tuhan. Bahkan dalam Filsafat Ketuhanan, Tuhan adalah Veritas Suprema dan Bonum Supremum.
Apakah dengan penderitaan yang manusia alami akibat wabah korona ini, menghilangkan adanya Allah? Tentu tidak! Faktanya, ketika altar di gereja (baca; Paroki, Kapela) banyak yang ditutup, ternyata semakin banyak “altar” di rumah yang dijadikan sebagai tempat atau wadah untuk meraskan hadirnya Allah walapun lewat virtual. Ketika, wabah ini, tak kunjung berakhir, manusia digiring untuk sampai pada spasi reflektif dan semakin sadar bahwa, kekuatan manusia tidak sanggup untuk menyelesaikannya. Lantas siapakah yang akan diandalkan, jika manusia sendiri menyerah dengan keadaan ini? Tentulah Allah, yang diharapkan untuk dapat membantu manusia. Sebab, korona dapat diartikan sebagai situasi tertentu manusia (situasi batas) yang memaksa manusia memikirkan dan mempertimbangkan kembali arti, nilai, dan tujuan hidupnya. Manusia terpaksa mengakui ia sebagai ens contingens dan tidak dapat menolak fakta bahwa ia sepenuhnya tergantung pada sesuatu yang menglampaui dirinya sebagai manusia, sesuatu yang mutlak tidak dapat digantikan, Ada sebagai Actus Purus atau Ens Necessarium. Dengan demikian, fakta berbahayanya korona, tidak akan menghilangkan fakta bahwa Allah itu tetap ada dan dibutuhkan. Sebab Dia adalah Ada sebagai yang Unum, Verum, Bonum, dan Pulchrum.(EL)
________
https://ebithlonekpondokepisteme.blogspot.com/2020/06/korona-sebuah-keburukan-dan-adanya.html fbclid=IwAR32ZihSfJwOP_NVSsVkEc0OCgxDxECIJCkRpSIDPDD_JwgtSBviDEuQuIhttps://ebithlonekpondokepisteme.blogspot.com/2020/06/korona-sebuah-keburukan-dan-adanya.html?fbclid=IwAR32ZihSfJwOP_NVSsVkEc0OCgxDxECIJCkRpSIDPDD_JwgtSBviDEuQuI

Komentar
Posting Komentar