"Perempuan Liar ~ perempuan Naif"
Sejatinya perempuan adalah makhluk liar namun dipaksa jinak hingga menjadi naif. Perempuan itu kini berjuang untuk keluar dari kerangkeng sempit dan ingin hidup bebas dan liar.
Jika jujur, masih sangat banyak perempuan hari ini yang ingin berteriak, yang ingin suaranya didengarkan, yang menuntut keadilan karena diperlakukan tidak adil. (baca: konteks perempuan dalam kerangkeng budaya dan standar patriarki). Baik sebagai korban KDRT, korban HT atau sedang dalam π‘ππ₯ππππ‘π¦ πππππ‘ππππ βππ, ππππ¦ π βπππππ, πππ‘...).
Mereka sudah bersuara tetapi suaranya ibarat nada getar ππππππ¦ dipagi hari jika sudah sangat mengganggu maka sengaja dibekap atau disenyapkan, alih-alih bangun lalu melakukan sesuatu.
Konstruksi sosial justru menπ ππ‘π‘πππ dan mengkondisikan perempuan untuk tetap dalam ππππ π’πππ’π‘π. Jika bersuara, perempuan akan terlihat aneh seperti manusia serigala. Padahal perempuan sejatinya adalah "Serigala Betina" (Meminjam istilah E.Linawati dari bukunya yang berjudul, "Dalam Diri Setiap Perempuan Ada Serigala Betina." Serigala Betina sebagai representasi dari arketipe Perempuan Liar)...
"Putri-Putriku, Jadilah Liar" demikian judul Prosa yang ditulis E.Linawati untuk kedua putrinya. Ajakan untuk menjadi liar ini memang berlaku untuk semua perempuan. "Perempuan-Perempuan, Jadilah Liar". Liar bukan dlm artian negatif/tdk terkendali tetapi mengandung makna kebersatuan dengan alam. Perempuan mesti menjalani kehidupannya secara alami tanpa perlu diikat "norma-norma" yang membelenggu kebebasannya untuk menentukan pilihan-pilihannya, menjalani keputusan-keputusannya. Perempuan memiliki hak yang sama untuk aktif terlibat dalam berbagai aspek kehidupan dan memiliki hak yang sama untuk mengakses berbagai sumber daya.
Sudah sekian lama, budaya patriakal berupaya menjinakkan "perempuan liar" ini dengan banyak norma. Hingga perempuan hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Takut bersuara, takut membantah, takut menjadi yang berbeda, takut memilih dan mengambil keputusan apalagi bertindak. Oleh karena itu, terlihat wajar jika perempuan hari ini cenderung menyukai zona nyaman. Wajar jika perempuan tidak ikut terlibat membuat keputusan besar apalagi menyangkut alihwaris.
Perempuan agresif, ambisius, suka petualangan dan tantangan terlihat aneh dan liar. Padahal perempuan liar ini adalah pribadi yang hangat dan autentik, kritis, jujur terhadap diri sendiri dan orang lain, tidak berpura-pura hanya supaya terlihat baik, banyak sahabat/teman. Perempuan liar tidak takut mengkritisi dan dikritik, tidak takut akan penolakan sosial. Perempuan liar terlihat ikut arus tapi tetap mempertahankan jati dirinya, mampu beradaptasi namun tetap menjadi diri sendiri. Ia punya identitas sendiri. Ia tidak mengijinkan intervensi pihak lain atas apa yang akan ia pilih dan lakukan.
Perempuan liar paham sebagai perempuan sejati, ia bukan properti, bukan pula sebagai objek yang hanya berfungsi untuk memuaskan tatapan orang lain.
"Perempuan liar" dikerangkeng dalam budaya dan standar sosial. Pergerakkannya dibatasi dan diawasi. Padahal ia tidak benar-benar jinak, namun berusaha terlihat jinak agar diterima dalam kelompok sosialnya. Walau sebenarnya sedang meraung raung dalam diam karena kepedihan hidup yang dijalani. Ia sadar tapi hanya bisa menyalahkan dan menghakimi diri sendiri alih-alih membongkar kerangkeng, melewati tirai pembatas, melawan ketakutan dan berjuang untuk keluar dari kekalutan dan kesuraman hidup.
Akibatnya perempuan menjadi naif. Kenaifan membuatnya cenderung negatif memandang dirinya sendiri. Perempuan naif rela menghilangkan ambisi tuk' merealisasikan mimpi-mimpinya hanya demi terlihat sempurna mengurus urusan domestik. Perempuan naif, beberapa setelah menikah memilih utk' hanya diam di rumah meski seringkali mengalami rumah (=kamp konsentrasi). Perempuan naif, menganggap dirinya sebagai perempuan sejati jika ia mengorbankan banyak hal dalam hidupnya dan mengabdikan diri sepenuhnya hanya utk' suami, anak-anak dan urusan domestik. Perempuan naif, akan merasa bangga dan puas jika karier suaminya terbangun, anak-anaknya terurus, dapurnya bersih dan terisi dengan berbagai peralatan masak yang canggih.
Apakah tingkat kepuasan dan rasa bangga perempuan hanya sebatas ketika urusan domestik beres?(VM)
#InsightkajianfeminisBettyFriedan #Adaserigalabetinadalamdirisetiapperempuan

Komentar
Posting Komentar