Saya sempat membaca seuntai tulisan yang baru-baru ini viral di media sosial. Tulisan tersebut berkisah mengenai curhatan seorang ibu muda yang sedang kasmaran terhadap pastor parokinya. Entah tulisan itu benar atau hanya khayalan dari penulisnya saya tidak tahu, tetapi bahwa apa yang terungkap dalam tulisan itu sangat mungkin untuk terjadi. Mereka yang menyandang status sebagai imam bukanlah manusia setengah dewa, mereka juga manusia biasa yang punya rasa sebagai seorang lelaki. Sebagai seorang manusia normal maka sangat mungkin hati mereka bisa berlabuh pada hati seorang wanita. Ini menjadi hal yang normal pada seorang lelaki pada umumnya. Namun ketika seorang imam membiarkan hatinya tertambat pada seorang wanita, lalu menjalin asmara ini menjadi hal yang tidak normal atau tidak wajar
Seorang imam dalam Gereja Katolik diikat oleh ketetapan untuk hidup selibat alias hidup bertarak atau tidak menikah. Peraturan ini masih berlaku sampai sekarang, kecuali pada kasus-kasus tertentu bisa diterima setelah mendapat persetujuan dari tahta suci. Misalnya menyangkut imam-imam yang dulunya dari Gereja Ortodoks dan Anglikan kembali dalam persekutuan Gereja Katolik. Gereja Ortodoks dan Anglikan menerima tahbisan imam yang menikah. Di kemudian hari mereka ingin kembali ke dalam pangkuan Gereja Katolik. Mereka diterima dan atas persetujuan tahta suci mereka tetap bisa menjalankan fungsi iamamatnya. Namun dalam situasi normal, Gereja tetap teguh pada pendirian bahwa imam hidup bertarak.
Tentu hal ini bukanlah hal baru bagi umat, bahwa para imam itu hidup bertarak. Namun perlu juga disadari bahwa para imam itu juga manusia biasa. Manusia yang bisa mengalami pasang surut dalam hidupnya. Manusia yang rapuh yang terancam pada kejatuhan dan ketidaksetiaan. Oleh karena itu umat perlu terlibat untuk mendukung dan menjaga panggilan para imamnya tetap terjaga dengan baik. Mereka layak untuk menjaga dengan bijak jangan sampai imamnya terjerumus dalam hidup yang tidak pantas sebagai seorang imam.
Harus diakui bahwa kehidupan seorang imam itu selalu membawa daya tarik tersendiri. Daya tarik itu bisa membuat banyak orang sampai pada sikap simpati, empati, kagum dan sebagainya. Rasa-rasa inilah yang dominan ada dalam diri umat ketika berhadapan dengan imamnya. Patut disyukuri tentunya, bahwa umat perhatian kepada imamnya, namun terkadang daya tarik yang tidak terkontrol bisa berakibat buruk.
Misalnya ada seorang ibu mudah, yang sangat kagum dengan pastor parokinya…
Kekagumannya itu kemudian berwujud dalam keinginan sang ibu mudah untuk mengenal lebih dekat dengan sang imam. Ibu tersebut kemudian mengajak sang imam makan di restoran, memasak makanan lalu memberikannya ke imam, mulai kirim-kirim pesan rohani mula-mula menjelang tidur, pergi bersama-sama untuk suatu kegiatan pastoral dan sebagainya. Lama kelamaan terciptalah suasana yang saling mengikat dan membutuhkan tanpa sadar. Sang ibu mulai gelisah kalau tidak melihat atau tidak mendapat pesan lagi dari imamnya, demikian pun sebaliknya dengan sang imam. Maka terjadilah hubungan suasana hati yang saling mendambakan. Sang ibu mulai lupa kalau dia punya suami dan anak-anak, sebaliknya sang imam juga mulai lupa kalau dia pernah mengungkapkan janji suci selibat. Semua terjadi begitu saja karena tidak ada kontrol diri dari kedua belah pihak dan juga tidak ada kontrol sosial. Setidaknya inilah yang tergambar dalam curhatan seorang ibu dalam tulisan yang saya baca tersebut.
Saya juga teringat ketika masih frater saat itu, saya bertamu ke rumah seorang keluarga non Katolik yang saya kenal baik. Kebetulan ketika saya bertamu ke rumah tersebut ada anak gadis mereka yang sedang liburan dari luar kota. Oleh ibu tuan rumah, saya di suruh masuk dan diperkenalkan dengan anak gadisnya. Sang ibu tersebut kemudian bercanda pada saya bahwa seandainya saya bukan calon imam dia akan jodohkan saya dengan anak gadisnya itu. Mendengar itu saya senyum-senyum saja sambil tetap jaga wibawa di hadapan mereka, pada hal dalam hati saya berharap juga. Saya mulai mengandai-andai dalam hati, iya ya, seandainya saya bukan calon imam, sudah kusambar perkataan ibu tadi. Siapa yang tidak mau jadi menantu ibu itu, anak gadisnya menurut saya nyaris sempurna. Anaknya cantik, calon dokter, ramah lagi. Untuk saya sempurnalah cewek itu, dan beruntung sekali rasanya kalo saya jadian dengannya. Itulah angan-angan saya saat itu.
Namun saya segera menyadari bahwa ibu itu berani berkata demikian justru karena mengenal saya sebagai calon imam, yang tidak akan macam-macam. Sang ibu itu tentu yakin bahwa saya dewasa sehingga berani bergurau pada saya. Tentulah dia tidak akan berani bergurau pada sembarang orang jika tidak mengenal siapa yang dia hadapi. Namun sebaliknya dari pihak saya, seolah-olah berharap seandainya perkataan sang ibu tadi bukan candaan. Soalnya hati sudah kepincut dengan anak gadis sang ibu tadi. Singkat kata saya mau mengatakan bahwa selalu ada situasi atau kondisi dimana seorang imam hatinya bisa tergoda, karena dia juga seorang lelaki.
Pada umumnya umat berpandangan bahwa para imam itu telah menghabiskan banyak waktu dalam studi dan pengolahan diri sehingga pastilah mereka matang dan dewasa ketika sudah menjadi imam. Saya pribadi tidak pernah setuju dengan anggapan itu. Matang atau dewasa bagi saya adalah sesuatu yang terus berproses. Kita tidak bisa menilai seseorang itu sudah matang hanya karena berhasil mencapai titik-titik tertentu yang dapat diamati.
Ada istilah “don’t judge a book by its cover” jangan menilai buku dari sampulnya. Dengan kata lain jangan menilai sesuatu dari apa yang tampak. Istilah ini juga cocok untuk mengingatkan kita agar tidak melihat tahbisan seorang yang menjadi imam sebagai suatu titik dimana ia dinyatakan sudah dewasa sepenuhnya. Fakta bahwa banyak imam menanggalkan imamatnya dan memilih untuk hidup menikah atau menanggalkan imamatnya dengan alasan lainnya adalah bukti bahwa tahbisan tidak bisa dijadikan ukuran kedewasaan atau kematangan bagi seorang imam. Kedewasaan tidak pernah selesai pada titik tertentu tetapi terus berproses dalam waktu.
Kedewasaan bagi seorang imam adalah kesetiaannya menghidupi panggilannya, tanpa ada noda celah menyangkut persoalan iman dan moral. Jabatan-jabatan akademis, atau gelar-gelar kehormatan lainnya tidak bisa menjadi ukuran kedewasaan seorang imam. Mungkin ada imam yang hidupnya biasa-biasa saja, tidak menjadi terkenal, juga mungkin tidak menjadi imam yang difavoritkan tetapi bahwa dia telah setia menjaga imamatnya sampai akhir hayatnya menunjukkan kualitas yang sebenarnya sebagai seorang imam. Mereka inilah yang layak disebut imam yang dewasa. Kedewasaan bagi seorang imam tidak menunjuk pada banyaknya embel-embel yang disandang tetapi menunjuk pada kesetiaan dalam panggilannya.
Beranjak dari kondisi yang demikian maka umat juga punya tanggungjawab moral untuk ikut menjaga imamnya agar setia dalam panggilannya. Jika ada seorang gadis atau ibu-ibu yang mengagumi imamnya, kagumilah pada batas-batasnya. Jika ada imam yang mulai gelagatnya aneh-aneh misalnya mengajak chat tengah malam maka janganlah diladeni. Jika ada seorang imam muda mengajak seorang gadis atau seorang ibu muda berboncengan atau hanya berduaan di atas motor/mobil tolaklah ajakan itu.
Bukannya kita menuduh tetapi menjaga situasi yang selalu netral bagi sang imam adalah cara terbaik untuk mendukung mereka dalam panggilan. Jangan bertindak sebaliknya. Sudah tau bahwa mereka adalah imam eh malah digodain, dengan membuka peluang-peluang kejatuhan mereka. Tak ada keuntungan apa-apa yang anda peroleh dari kejatuhan seorang imam, selain kerugian bagi diri Anda sendiri dan kerugian bagi Gereja.
Imam adalah jantung Gereja. Jika Anda ingin Gereja menjadi kokoh dalam mengarungi zaman maka dukunglah imamat imam Anda. Tegurlah dengan bijaksana, berdoalah untuk para imam, dan bantulah karya-karya para imam. Cintailah mereka dengan menjaga privilese mereka, sayangilah mereka tetapi tidak memanjakan yang berlebihan. Hormati mereka tetapi tidak menjauh dari mereka.
Marilah dengan penuh kedewasaan kita membangun Gereja di dunia ini dengan peran dan tanggungjawab kita masing-masing dan juga saling mendukung dan membantu mengatasi kelemahan kita masing-masing.(MJB)
Komentar
Posting Komentar