Menjelajahi Gelombang Pandemi: Refleksi Pribadi
"We are all on the same boat," demikian kata filsuf Slavoj Zizek dalam "Panic Covid-19 Shake the World."
~
Sejak muncul pertama kali di Wuhan, China pada 31 Desember 2019, virus SARS-CoV-2 telah memicu kepanikan global dan menyebabkan penderitaan bagi banyak orang.
Pandemi ini bagaikan medan perang tanpa senjata, di mana setiap individu harus waspada dan melindungi diri dari serangan virus yang tak kenal ampun. Meskipun tidak berkontak langsung dengan pasien COVID-19, tinggal di zona merah membuat saya dibombardir informasi tentang pandemi setiap hari. Kisah-kisah penderitaan dari keluarga, sahabat, dan kenalan membuat saya merasakan kepanikan, kecemasan, dan ketakutan mereka seolah-olah nyata di depan mata. Perasaan ini mengingatkan saya pada pergumulan batin yang saya alami ketika mendampingi ayah saya yang sakit hingga meninggal dunia. Rasa sakit dan kepedihan yang saya pendam tersembunyi di balik sikap tegar yang saya pamerkan. Menghadapi penderitaan sendirian memang berat.
Banyak orang yang mampu mengatasi rasa sakit dengan introspeksi, tetapi bagi mereka yang belum mampu atau menolak menerima penderitaan sebagai bagian dari hidup, akan sangat sulit untuk bangkit. Pengalaman mendampingi ayah saya mengajarkan saya bahwa di balik kesedihan, ada juga rasa bahagia dan kekuatan. Meskipun kehilangan beliau, saya tidak menyesal karena telah memberikan kasih sayang, perhatian, dan dukungan hingga akhir hayatnya. Saya menyadari bahwa sakit adalah bagian alami dari kehidupan manusia, sebagaimana tertulis dalam Mazmur 90:10: "Umur hidup manusia tujuh puluh tahun, atau kalau kuat delapan puluh tahun, tetapi yang terbaik adalah kerja keras dan kesukaran."
Bagi pasien COVID-19, kesendirian di ruangan isolasi menjadi beban tersendiri. Mereka harus menjalani masa sakit, pengobatan, dan pemulihan tanpa kehadiran orang-orang terkasih. Ketidakpastian kapan bisa bertemu keluarga dan rasa rindu yang mendalam membuat mereka bertanya-tanya apakah akan ada kesempatan untuk bertemu lagi.
Saya teringat kisah Beni Rianghepat, seorang pemuda asal Flores Timur yang menawarkan kain tenunannya seharga satu karung beras. Beni, seorang guide lokal, menceritakan kesulitannya dalam mencari nafkah akibat pandemi yang membuat jumlah wisatawan asing berkurang. Saya berempati dengannya, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena juga berada dalam kesulitan sebagai mahasiswa perantauan yang mengandalkan bantuan keluarga. Rasa bersalah dan pertanyaan "tega sekali kamu" menghantui saya. Kisah lain datang dari Verra, seorang mahasiswi di Malang yang meminta bantuan untuk temannya yang hendak melahirkan karena keluarga terlambat mengirimkan biaya hidup bulanan. Sekali lagi, saya hanya bisa berempati tanpa bisa berbuat apa-apa. Saya merasa tidak berguna karena tidak bisa membantu orang lain yang membutuhkan. Karena keterbatasan ruang gerak dan materi, saya hanya bisa berdoa dan memberikan saran sederhana. Saya menyarankan Beni untuk datang ke paroki terdekat dan menceritakan kesulitannya. Saya yakin ini adalah solusi terbaik dalam situasi darurat, asalkan dia jujur dan tulus. Untuk Verra, saya menyarankan agar dia tetap mengantar temannya ke rumah sakit untuk proses persalinan sambil menghubungi keluarganya. Dalam situasi seperti itu, keselamatan ibu dan anak harus diutamakan.
Saya berusaha memberikan dukungan kepada keluarga, sahabat, dan kenalan dengan mengirimkan tulisan, gambar, atau kutipan yang memotivasi mereka untuk tetap berpikir positif dan kuat menghadapi pandemi. Saya berharap hal ini dapat membantu mereka menjaga ketenangan dan fokus pada diri mereka sendiri dan orang-orang terdekat.
Dalam rentang waktu merebaknya situasi pandemi ini, mungkin sama dengan kebanyakan orang. Situasi di mana saya sempat melihat hidup serba tidak pasti dan takut untuk mengambil langkah apa pun. Berada jauh dari keluarga, saya melihat dan merasa diri dan hidup saya seperti berada di sebuah perahu kecil yang terombang-ambing di tengah laut. Saya melihat banyak orang tenggelam karena hantaman badai laut, karena ketidakmampuan mereka untuk tetap menjaga keseimbangan perahu. Adapula yang berteriak minta tolong karena sudah tak mampu menahan lapar, haus dan sakit. Dan saya melihat pula banyak orang yang mati menggenaskan dan harus ditenggelamkan agar sakit mereka tidak tertular. Ingin berteriak dan memberontak tetapi berusaha menahan diri karena ada rasa malu juga menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menderita. Ingin keluar dari perahu untuk melakukan sesuatu tetapi ada ketakutan. Karena itu, dengan sedikit kekuatan dan kemampuan yang tersisa, saya berkeputusan untuk tetap berdiam diri, tenang dan tidak membiarkan energi terkuras habis untuk sebuah kesia-siaan. Saya yakin dan percaya, mengambil sikap diam dan tenang menghadapi situasi genting, darurat akan mendapatkan sebuah kepastian, entah jawaban ataupun langkah tepat dan benar. Dan benar bahwa tenang dan diam di tengah situasi yang mencekam, saya masih bisa berpikir waras dan berbuat sesuatu seperti yang sudah saya kisahkan di atas. Karena berada dalam keterbatasan ruang gerak, keterbatasan materi, maka saya menanggapi situasi pandemi ini dengan hal sederhana dan juga mungkin tidak berdampak, yakni doa yang terus mengalir memohonkan rahmat kekuatan dari Tuhan bagi diri saya sendiri dan orang lain. Hal lain yang cukup sederhana saya lakukan dan berdampak bagi orang lain adalah menjaga diri, menjaga jarak, memakai masker bila harus berpergian ke luar rumah. Karena sadar bahwa menjaga kesehatan diri sendiri di situasi ini tentu berdampak juga bagi kesehatan orang lain dan tentu ini sebagai bentuk keterlibatan aktif meminimalisir bahkan memutuskan rantai penyebaran virus.
Selama masa pandemi sejak akhir Maret lalu, di mana diberlakukannya penerapan lockdown, saya akhirnya berusaha membiasakan diri dan berusaha menikmati suasana rumah yang begitu sepi karena beberapa penghuni terjebak COVID-19 di daerah lain dan tinggal di sana beberapa waktu lamanya. Sebagai perantau jauh dari keluarga, saya tentu mengalami gejolak rasa (cemas, takut, sesak, sepi) bahkan sampai pada titik di mana saya ingin berteriak. Lagi-lagi sebagai mahasiswa yang belum mempunyai penghasilan sendiri dan masih mengharapkan bantuan dari keluarga, tentu ketika berada dalam situasi ini saya pun merasakan kepanikan yang luar biasa. Sementara ada tuntutan biaya hidup (makan, minum, tempat tinggal, obat-obatan, dan sebagainya) sekaligus biaya pendidikan yang cukup besar harus terpenuhi dalam waktu yang bersamaan. Berhubungan dengan biaya hidup, saya kemudian berusaha mengelola keuangan sebaik-baiknya, yakni berusaha hidup hemat, makan seadanya. Namun, penghematan ini muncul masalah baru bagi saya, justru berdampak negatif bagi kesehatan. Himbauan agar menjaga imunitas tubuh dengan mengonsumsi makanan dan minuman sehat menjadi tidak berlaku bagi saya. Bagi saya di situasi seperti ini, hal yang terpenting adalah berusaha bertahan hidup meski dalam keadaan yang serba terbatas, namun kegiatan yang berhubungan dengan perkuliahan harus tetap berjalan tanpa ada hambatan, meski saya sendiri harus menanggung banyak pengorbanan. Menahan diri dari keinginan dan kebutuhan-kebutuhan yang bisa ditunda pemenuhannya. Berusaha mengatur keuangan dengan berusaha hidup hemat karena memang dampak pandemi ini juga mengenai keluarga saya, keuangan keluarga menjadi tidak stabil sehingga mereka harus mengurangi jumlah kiriman di setiap bulannya.
Berada di titik ini, agar tidak mengalami stres, saya berusaha untuk memfokuskan diri berempati dengan yang lain yang lebih susah sambil tetap melihat situasi ini sebagai suatu pembelajaran hidup. Agar tidak terus terpuruk dan terkungkung dengan situasi diri sendiri, saya memberanikan diri membuka mata lebar-lebar melihat bahwa masih banyak orang yang lebih menderita di luaran sana. Banyak dari mereka yang harus keluar rumah mengais rezeki dengan risiko yang besar demi memperoleh upah untuk pemenuhan hidup keluarga. Melihat itu, saya harusnya bersyukur, bahwa masih bisa makan sekali sehari, tidur di tempat yang aman dan tidak perlu mengais rejeki di luar rumah karena toh, setiap bulan masih mendapat uang bulanan dari keluarga.
Pengalaman penderitaan selama berada dalam sebuah perahu yang sama dengan warga dunia, mengalami situasi badai yang sama, saya akhirnya menyadari bahwa mengambil sikap diam dan tenang dalam situasi buruk tidak selalu berkesan negatif. Itu adalah tindakan bijak karena akhirnya dapat menemukan jawaban, menemukan ide dan langkah solutif meski berada dalam ruang dan situasi batas.
"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang hidupmu, akan apa yang kamu makan atau akan apa yang kamu minum, atau tentang tubuhmu, akan apa yang kamu pakai. Bukankah hidup lebih penting dari pada makanan dan tubuh lebih penting dari pada pakaian? Perhatikanlah burung-burung di udara: mereka tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun Bapamu yang di surga memberi mereka makanan. Bukankah kamu jauh lebih berharga dari pada mereka?" (Matius 6:25-26). Kutipan Injil ini mengingatkan saya bahwa di tengah kesulitan, kita harus tetap percaya bahwa Tuhan akan selalu menyertai dan menopang kita. Kita tidak perlu kuatir berlebihan, tetapi fokus pada hal-hal yang lebih penting, yaitu menjaga iman dan kasih kepada Tuhan serta sesama.
Pandemi ini memang berat, tetapi melalui pengalaman ini, kita belajar untuk lebih menghargai hidup dan lebih berempati kepada sesama. Kita belajar untuk lebih bersyukur atas apa yang kita miliki dan lebih berani untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Semoga kita semua dapat melewati masa sulit ini dengan penuh iman, harapan, dan kasih.(VM)
Komentar
Posting Komentar