Dunia Di Guncang Wabah
Mewabahnya virus Covid-19, banyak orang menghubungkannya dengan penyakit sampar versi modern. Penyakit ini dikategorikan sebagai “Pestilence” yaitu jenis wabah menular dan mematikan. Sampar pertama kali disebut dalam kitab Keluaran 5:3, dimana Harun dan Musa meminta ijin kepada Firaun untuk pergi beribadah. Karena ketegaran hati Firaun, Tuhan melepaskan Sampar bukan hanya untuk ternak tetapi juga berimbas kepada manusia (Kel. 9:15). Selanjutnya kata sampar sudah tidak asing lagi di telinga orang Israel. Bahkan dalam suatu peristiwa, Tuhan meminta Daud untuk memilih hukuman ketika Daud menjadi tinggi hati, salah satu hukuman mendatangkan sampar selama 3 hari (2 Sam. 24:13), dan Alkitab mencatat hampir tujuh puluh ribu rakyat tewas karena penyakit sampar. Sampar dalam bahasa Ibrani (deber) yang berarti: pestilence; plague; murrain, cattle disease; cattle-plague. Septuaginta menterjemahkan kata tersebut dengan kata (thanatos) yang dapat diartikan death, of natural death. Penggunaan thanatos dalam Septuaginta kemungkinan tidak adanya padanan kata Sampar dalam Bahasa Yunani. Dalam Perjanjian Baru penyakit sampar dalam Lukas 21:11 menggunakan kata: (loimos) yang berarti: pestilence; a pestilent fellow, pest, plague; origin: of uncertain affinity. Sampar dapat diterjemahkan sebagai suatu penyakit yang menular yang dijinkan Tuhan untuk menghukum orang Israel maupun orang Mesir di dalam zaman Perjanjian Lama dengan kematian yang begitu cepat. Sampar Modern tercatat dalam sejarah permulaan pertengahan tahun 1300, dimana kapal-kapal dari Laut Hitam merapat di pelabuhan Sisilia, yang menimbulkan kematian mecapai 20 juta orang di Eropa, sampar ini di kenal dengan nama Black Death. Sejarah mencatat pada awal abad ke-20, dalam zaman Dinasti Manchuria ada epidemi wabah pneumonia primer. Salah satu cataatn sejarah epidemic semacam sampar mendapat perhatian terbatas, terjadi pada tahun 1904 di Johannesburg, Afrika Selatan, berdekatan dengan lading emas Witwatersrand, yang sering di sebut Bubonic plague. Setelah itu, muncul juga virus-virus yang lain yang mematikan seperti wabah Pes yang diinfeksi oleh bakteri Yersinia pestis dan ditularkan melalui kutu yang terjadi di London pada abad 14 dan berhasil membunuh sekitar 20% penduduknya. Kemudian flu Spanyol yang menyebar di seluruh dunia sekitar tahun 1918-1919 yang disebabkan oleh virus H1N1 yang berasal dari burung dan menelan sekitar 50 juta penduduk bumi. Flu Asia yang sebabkan oleh virus jenis H2N2. Virus ini berasal dari Timur Asia dan baru pertama kali terdeteksi di Singapura pada Februari 1957. Serangan wabah ini menelan korban sekitar 1,1 juta orang. Ada pandemi flu 1968 (flu Hongkong) yang berasal dari Cina pada juli 1968. Flu ini disebabkan oleh virus influena A (H3N2). Wabah flu pandemi abad 20 inipun berhasil menelan korban 1 juta penduduk dunia. Kemudian ada pandemi flu 2009/flu babi di AS yang disebabkan oleh virus influenza baru-H1N1 dengan jumlah korban seluruh dunia yang meninggal sekitar 575.400 orang. Kemudian ada HIV/AIDS yang ditemukan pada awal tahun 1980 di Amerika Serikat pada kelompok Gay. Virus dan penyakit ini sebenarnya berkembang dari virus simpanse dari Afrika sejak tahun 1920. Data CDC tahun 2006, HIV/AIDS masuk dalam proporsi pandemi. Korban meninggal akibat virus dan penyakit ini sekitar 25 juta kematian penduduk dunia. Akan tetapi dari semua wabah yang pernah ada tidak secepat dan seganas virus Covid-19 yang penyebarannya merata hampir disemua negara.
____________________________________________________________________
https://kbbi.web.id/sampar disadur tanggal 21 Maret 2020
BibleWorks7 Keluaran 5:3
Lukas 21:11
https://www.history.com/topics/middle-ages/black-death, 21 Maret 2020
Health. Grid.id.
COVID-19/SARS.COV-2 Sebagai Pandemi Global
Meskipun dunia telah melewati beberapa gelombang wabah mematikan diatas, dunia tidak lantas membentuk suatu anti body atau daya tahan secara alami bagi tubuh manusia sehingga dapat bertahan jika ada serangan virus baru di kemudian hari. Justru mungkin rentan untuk terpapar serangannya apalagi dunia sedang tidak siap seperti sekarang ini. Mengenai virus baru ini, pakar penyakit menular Amesh A. Adalja, MD, senior di Johns Hopkins Center of Health Security, menegaskan bahwa pandemi Covid19 ini adalah serangan wabah terburuk dan lebih berisiko disepanjang sejarah modern karena penyebaran virusnya yang begitu masif dan cepat. (Sumber: Kompas.com/sains-update 12 dan 28 Maret 2020)
Virus yang dikatakan sama seperti SARS-CoV-2, termasuk dalam kelompok virus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan virus penyebab Middle-East Respiratory Syndrome (MERS) ini masih belum diketahui secara pasti baik sifat, jenis dan spesiesnya, karenanya belum ada vaksin. Jika ada pasien yang mengalami kesembuhan itu karena daya tahan tubuh yang baik, mengonsumsi makanan sehat, pola hidup teratur dan tidak memiliki riwayat penyakit penyerta.
Sejak kemunculannya pertama kali di Wuhan Cina pada 31 Desember 2019 dan diumumkan secara resmi pertama kali pada 5 januari 2020 oleh WHO sebagai pandemi global (unknown cause), covid-19/virus SARS COV-2 telah berhasil menyita perhatian dunia, menyita energi dan psikis kaum elit negeri pun masyarakat umum yang terus panik dan takut karena berita dan informasi yang terus menjejali laman berita dan layar ponsel. Tak seorangpun luput dari pembahasan soal pandemi baru ini karena seluruh warga dunia sedang berada dalam satu tantangan menghadapi badai yang sama. Ulasan demi ulasan dari berbagai sudut pandang, termasuk dampak dan isu-isu dari pandemi ini berseliweran di media lokal, nasional maupun global. Tak habis-habisnya. Hanya dalam kurun waktu yang sangat singkat wabah ini berhasil bermutasi dan menyebar ke beberapa belahan dunia. Penyebaran tercepat ini memang dipengaruhi arus urbanisasi yang begitu masif disertai peningkatan mobilitas manusia yang tidak terkontrol. Karenanya wabah yang semula lokal kemudian berkembang menjadi sebuah pandemi. Indonesia sendiri termasuk satu dari sekian negara terdampak covid-19. Tak terasa sudah 3 bulan ini, sejak pertama kali diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Maret, patogen ini telah hadir membuka cakrawala berpikir semua kalangan, semua beranalisa baik dengan keluasan, kesempitan dan kesumpekan, di dalamnya. Banyak sekali sebaran informasi, cerita dan berita belum tentu benar yang entah sekedar dicopas, gambar yang di-broadcast sehingga kemudian memunculkan benturan perasaan, pikiran setiap orang baik tentang tata dunia, hidup bahkan kematian. Hingga melampaui batas kewarasan berpikir, merasa bahkan bertindak atas nama covid-19 meski belum tahu persis tentang spesies ataupun sifat dari virus ini. Belum lagi yang disebut – meminjam istilah Sosiolog Slavoz Zizek “triggered a vast epidemics of ideological viruses (memicu meluasnya epidemic virus ideology-2020:39)”. Tidak sedikit orang menggunakan teori konspirasi untuk terus membangun opini tak berdasar, menggiring massa untuk bermain di wilayah emosi dari pada wilayah logika berbasis data agar melihat pandemi ini dari sisi yang berbeda.
Sementara itu, para peneliti nasional maupun dunia terus berupaya untuk mengidentifikasi secara saintis mengenai virus ini dengan melakukan berbagai riset, menggali informasi, melacak penyebaran infeksi sekaligus memberi informasi terbaru terkait pencegahan penyebarannya. Para ahli kesehatan, dokter, tenaga medis yang di sebut-sebut sebagai garda terdepan terus bekerja menyelamatkan orang-orang yang terinfeksi. Secara material dan immaterial kaum agamawan, aktivis, relawan, donatur giat membantu orang-orang termasuk keluarga-keluarga terdampak. Pemerintah menetapkan berbagai regulasi baik PSBB, pemberhentian jalur transportasi udara, laut maupun darat. Seluruh regulasi pusat hingga regulasi swakarsa tingkat dukuh pun dituntut untuk ditaati masyarakat bahkan jika ada yang melanggar diberi sanksi. Setiap hari situs WHO, situs-situs nasional dan lokal terus menyajikan data-data terbaru terkait kasus terinfeksi maupun jumlah korban meninggal dunia dengan data statistik yang cenderung meningkat seolah sedang mempertontonkan di depan mata manusia berjatuhan. Sementara virus sendiri masih terus berkeliaran bebas disambut mesra warga yang secara sengaja ataupun tidak yang berada pada zona-zona terdampak entah untuk suatu alasan tertentu.
Reaksi Pemerintah
Dalam menghadapi pandemi covid-19 berbagai negara tentu menetapkan beragam kebijakan tergantung kondisi negaranya terlebih kondisi ekonomi. Beberapa negara harus menutup wilayah/kawasannya (lockdown) termasuk kerjasama dalam bidang bisnis, ekonomi maupun investasi jasa. Sementara itu, ada negara yang tetap membiarkan masyarakatnya beraktifitas dengan bergantung pada protokol kesehatan dan sejumlah aturan yang ditetapkan. Ada negara yang cukup signifikan menekan angka penyebaran, sebaliknya ada juga yang cukup kewalahan menangani peningkatan jumlah orang terinfeksi. Italia dengan mayoritas warga lansia tentu sungguh mengalami hal buruk itu. Amerika juga sempat tak berdaya menghadapinya. Amerika berada pada posisi teratas jumlah korban terpapar virus yaitu 104.256 orang, meninggal 1.704 orang. Kemudian disusul Italia sebanyak 86.498 terpapar dan meninggal sebanyak 9.134 orang. Jumlah ini tentu melampui China sebagai negara asal covid-19 dengan jumlah terpapar 81.394 dan yang meninggal 3.295 orang. (Sumber data Worldmeter, dikutip Kompas.com 28 Maret).
Sebelum teridentifikasi kasus orang dengan Covid-19 pada 2 Maret, warga Indonesia sejenak berbangga dan bersukaria menduga bahwa menjadi satu-satunya negara yang tidak akan terpapar virus baru ini. Semua orang masih bepergian, menjalankan bisnis, mengadakan seminar, pertemuan keagamaan. Namun, sejak pengumuman, hanya dalam waktu dua menjelang tiga bulan data statistik korban terpapar naik secara drastis. Jumlah positif terinfeksi telah mencapai 24.538 dan meninggal 1.496. (Sumber: Kemenkes RI 28 Mei 2020). Muncul beragam pandangan melihat pergerakan penyebaran pandemi yang begitu cepat. Ada yang menganggap karena kelalaian pemerintah, masyarakat yang tidak taat dan kurang disiplin bahkan cenderung menyepelekan. Kurangnya APD dan persiapan sarana dan prasarana kesehatan. Sungguh, pemerintah diperhadapkan dengan sebuah situasi dilematis untuk mengambil kebijakan seperti lockdown misalnya, dengan kenyataan mayoritas warganya adalah masyarakat kelas menengah yang jenis pekerjaanya menuntut penanganan langsung, masyarakat benar-benar menggantungkan hidupnya pada upah harian.
Reaksi Masyarakat
Ketika wabah covid-19 ditemukan di Wuhan Cina pada Desember lalu dan diumumkan secara resmi oleh WHO pada 12 januari, warga Indonesia terkesan menyepelekannya. Indonesia adalah negara paling belakang terpapar virus. Sejak adanya kasus terinfeksi yang diumumkan pada 2 Maret, banyak sekali himbauan-himbauan kemudian baik dari pemerintah maupun dari pihak kesehatan. Ditambah lagi ketika media mulai gencar me-broadcast gambar, video dan berita korban covid-19, baru kesadaran muncul. Himbauan untuk tetap di rumah saja, tidak melakukan perkumpulan raya, larangan untuk bepergian mulai dipatuhi warga. Himbauan-himbauan untuk meningkatkan imunitas tubuh, membatasi interaksi fisik, menjaga jarak (physical distancing), bekerja dari rumah (WFH) akhirnya diberlakukan dan ditaati. Warga seolah dipaksa untuk masuk dalam budaya zaman 4.0. Kegiatan pendidikan, pertemuan/rapat, konferensi, diskusi publik dijalankan secara virtual secara daring. Hampir sebagian pekerjaan warga dunia dilakukan melalui media daring. Siap tidak siap warga dunia dituntut untuk mengusai dunia perinternetan termasuk yang berkecimpung di dunia kewirausahaan, pendidikan bahkan hidup keagamaan.
Dampak Positif dan Negatif Covid-19
Demikian mengerikan dan menakutkan wabah ini, dalam kurun waktu yang cukup singkat menghilangkan banyak nyawa penduduk dunia. Melalui informasi, berita, dan cerita yang gencar melalui laman media sosial tentang virus ini, warga dunia yang semula menganggap ini adalah hal sepele, berimbas pada perubahan pola lakunya. Orang mulai takut untuk bekerja di luar rumah, menjaga jarak, takut berinteraksi langsung dengan orang lain. Hal ini membuat aktifitas sosial, bahkan kegiatan keagamaan pun terhenti. Tidak sedikit masyarakat kelas menengah kebawah harus kehilangan pekerjaan, di PHK atau di rumahkan. Hal ini berimbas pada penghasilan menjadi tidak stabil sementara harus bertanggungjawab atas hidup sendiri dan keluarga.
Selain itu, karena penyebarannya yang terus meluas membawa dampak pada perekonomian dunia baik perdagangan, investasi maupun pariwisata. China adalah negara dengan eksportir terbesar dunia dengan adanya wabah ini, membuat perdagangannya memburuk. Hal ini berpengaruh juga terhadap perdagangan dunia termasuk Indonesia. Penurunan permintaan bahan mentah dari China seperti batu bara, kelapa sawit tentu akan mengganggu sektor ekspor Indonesia yang dapat berimbas pada harga komoditas dan barang tambang. Covid-19 juga berdampak pada investasi dan memengaruhi proyeksi pasar. Investor dapat saja menunda investasi karena ketidakjelasan supply chain atau akibat asumsi pasarnya berubah. Dibidang investasi, China termasuk negara yang menanamkan modalnya di Indonesia. Selain itu, Indonesia juga memberlakukan larangan perjalanan dari dan ke China untuk mengurangi penyebaran virus. Larangan tersebut tentu juga berimbas pada sejumlah maskapai yang terpaksa membatalkan penerbangan hingga berdampak pula pada sektor pariwisata. Berkurangnya jumlah wisatawan asing tentu berdampak pula pada kelangsungan bisnis hotel, restoran/rumah makan, industry retail, sektor usaha mikro, kecil dan menengah sementara pihak wisata masih harus memenuhi biaya operasionalnya. Menghadapi dampak ini, pemerintah Indonesia telah menetapkan langkah-langkah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik sekaligus menjaga agar inflasi dan stabilitas eksternal tetap terjaga. Namun kebijakan pemerintah tersebut sama sekali tidak berdampak bagi ekonomi masyarakat kelas menengah. Banyak warga yang terpaksa tetap harus bekerja di luar rumah agar mendapat penghasilan harian (Sumber: duta co).
“Setiap musibah ada hikmah dibaliknya, setiap kegelapan ada titik cahaya! Segala sesuatu yang terjadi entah itu suatu kemajuan ilmu pengetahuan termasuk wabah seperti sekarang ini tentu memiliki dampak, positif, negatif tergantung dari sudut pandang mana orang memandang dan menganalisannya”.
Selain dampak negatif, covid19 juga memberi dampak positif bagi perekonomian Indonesia yakni terbukanya peluang pasar ekspor baru selain China. Dan tentu berpeluang memperkuat ekonomi dalam negeri. Juga dampak positif lain yang justru mengubah perilaku manusia terhadap bumi. Seiring dengan penyebaran virus yang begitu cepat, ternyata bumi pun telah banyak berubah. Situasi pandemi ini terpaksa memberhentikan banyak aktivitas manusia yang terlampau tidak ekologis. Dan lihatlah perubahan yang terjadi! Bumi di-refresh kembali. Untuk pertama kalinya secara berturut-turut, emisi gas, rumah kaca, konsumsi bahan bakar fosil, lalu lintas udara, darat dan laut telah menurun drastis. Keadaan ini membuat kondisi emisi gas rumah kaca menjadi sama kondisinya dengan emisi gas rumah kaca di tahun 1990-an. Menurunnya pergerakan manusia di alam dan lingkungan luar ruangan secara signifikan mengurangi jumlah polusi udara. Sekitar 3,5 miliar orang penduduk bumi bepergian dengan kereta api, mobil, pesawat, kapal dan alat transportasi lainnya disetiap harinya. Wabah ini berhasil memberhentikan sejenak hampir seluruh gerak operasional manusia dan ini tentu berdampak baik untuk bumi. Lapisan ozon mulai menebal kembali, meningkatnya keanekaragaman hayati, berkurangnya bencana alam seperti kebakaran hutan dan gempa bumi. Hal ini tentu sangat memudahkan bagi para ahli geologi untuk meneliti kerak luar bumi. (Sumber: Kompas.com). Udara menjadi lebih bersih dan tentu penting untuk kesehatan. Perubahan-perubahan signifikan ini tentu berdampak baik untuk masyarakat dunia kala menjalani tatanan kehidupan baru nanti/new normal life. Banyak pembelajaran yang didapat dalam masa pandemi ini.
Membangun Kepedulian dan Semangat Solidaritas di Tengah Wabah
“Pagi-pagi buta Maria Magdalena mengunjungi kubur Yesus, di sana dia bertemu dengan Yesus. “Jangan sentuh aku,” (Yohanes 20:17) ini adalah perkataan Yesus untuk pertama kalinya setelah kebangkitanNya di taman dekat kuburan ketika Maria Magdalena mengenali-Nya. Perkataan Yesus ini juga mengandung makna bahwa kehadiran-Nya tidak lagi sebagai pribadi “tersentuh” secara ragawi, melainkan ikatan cinta dan solidaritas di antara orang-orang - jadi, “jangan menyentuh-Ku”, melainkan sentuhlah dan uruslah orang lain dalam semangat cinta.”
Hari-hari ini, di tengah-tengah pandemi virus corona, semua warga dunia dibombardir dengan seruan dan himbauan untuk tidak menyentuh orang lain tetapi mengisolasi diri, menjaga jarak sebagai bentuk kasih dan kepedulian. Fisik boleh berjarak tetapi hati jangan. Dengan hati timbul kepekaan dan kepedulian kepada sesama yang berjarak. Paus Fransiskus dalam pesan Paskahnya menyerukan solidaritas global. Semua umat beriman pada situasi pandemi ini dituntut untuk terlibat menderita bersama. Membangun sikap kepedulian terutama kepada mereka yang sakit dan menderita. Karena ini adalah pandemi global maka sudah tentu ini adalah tantangan bersama. Karena itu, perlu komitmen dari semua pihak untuk berkerja demi kebaikan bersama. Pemerintah perlu menetapkan kebijakan yang memberi rasa aman, damai dan tidak merugikan masyarakat terutama masyarakat kelas menengah. Menjalin kerjasama antar negara secara adil dan tidak saling merugikan. Begitupula masyarakat dituntut untuk bertindak sesuatu yang mempunyai dampak untuk kebaikan bersama. Menjauhkan sikap ketidakpedulian, egoisme termasuk menghindari cerita-cerita yang berunsur provokatif yang justru meresahkan dan menimbulkan perpecahan. Sebagaimana ditegaskan Paus Fransiskus dalam memaknai Hari Komsos Sedunia yang ke 54 yang bertemakan “cerita”. Dalam situasi menggetirkan seperti sekarang ini, semua orang menjadi sangat sensitif terhadap cerita-cerita. Jika cerita itu menyejukkan, menenangkan tentu membawa dampak positif bagi yang mendengarkan. Sebaliknya, hanya akan mengurangi imunitas tubuh dan kesehatan seseorang.
Selain itu, perlu mengikuti himbauan demi himbauan dari pihak yang berwenang. Hal itu juga merupakan wujud kepedulian dan solidaritas terhadap sesama.
Makna perkataan Yesus "jangan sentuh Aku" Sebetulnya juga menegaskan bahwa hanya dengan tangan kita tidak mungkin bisa menjangkau orang lain; kita hanya dapat saling mendekati jika digerakkan oleh sesuatu dari kedalaman bathin yakni ‘cinta’- dan jendela ke “dalamnya” adalah mata. Tak dipungkiri bahwa akhir-akhir ini, ketika bertemu orang-orang terdekat (bahkan orang asing) kita serta merta langsung menjaga jarak, namun pandangan tetap ke dalam mata orang itu. Hal itu justru dapat mengungkapkan sesuatu lebih dari sentuhan fisik dan intim.
“Manusia adalah malam, tidak ada yang kosong, yang berisi segala sesuatu dalam kesederhanaannya - kekayaan tak berujung dari banyak representasi, gambar, tidak ada yang menjadi miliknya - atau yang tidak hadir. Seseorang menangkap pemandangan malam ini, ketika seseorang menatap mata manusia”, (Hegelian muda)
Tidak ada virus yang dapat mengambil itu dari kita. Jadi, ada harapan bahwa jarak tubuh justru akan memperkuat intensitas hubungan kita dengan orang lain. Meskipun situasi ini membuat kita harus menghindari banyak orang termasuk orang-orang terdekat, orang-orang terkasih tetapi pada saat yang sama kita benar-benar mengalami bahwa sesungguhnya kehadiran orang lain adalah penting.
Konstitusi Gaudium et Spes. Art. 24-32 memaknai solidaritas dalam tiga hal yakni, solidaritas berkaitan dengan fakta saling ketergantungan dan rasa saling keterkaitan yang tumbuh di dalam komunitas global. Menyediakan kerangka kerja untuk mengidentifikasi dan mengklarifikasi tanggung jawab untuk orang lain yang jauh dan “keinginan untuk membuat kondisi kehidupan lebih menguntungkan bagi semua, serta menghubungkan relasionalitas manusia dan solidaritas kepada Inkarnasi, yang menyatakan, “Tuhan tidak menciptakan manusia secara terpisah, tetapi membentuk kesatuan sosial. Karakter komunitarian ini dikembangkan dan disempurnakan dalam karya Yesus Kristus. Karena firman itu menjadikan manusia berkehendak berbagi dalam persekutuan manusia.
Di tengah krisis dan situasi menggetirkan ini, sangat diperlukan semangat solidaritas. Ada banyak cara membangun sikap solidaritas di tengah wabah ini. Banyak orang kehilangan pekerjaan, karena kecemasan berlebihan sehingga jatuh sakit, dan mereka yang kurang beruntung nasibnya harus terpapar virus mematikan ini. Karenanya, mengutip istilah Marxis Slavoj Zizek-“We are all on the same boat”, kita telah berada di kapal yang sama, (Panic Covid-19 Shake the World, 2020). Sudah seharusnya kita bersatu hati dengan pemerintah dan semua warga dunia untuk bersama-sama berbagi problem yang sama, baik dalam tindakan pencegahan penyebaran maupun tindakan penyembuhan bagi yang terjangkit.
Dalam semangat kepedulian dan solidaritas kemanusiaan, kita tidak mungkin menghindari begitu saja dari mereka yang terjangkit, membiarkan mereka menderita sendirian, tetapi justru menyatukan diri dalam kesatuan cinta bersama orang-orang yang mempunyai semangat yang sama mengembangkan “Diakonia Karitatif Antarkeluarga” dengan mendorong warga yang berkelebihan/berkecukupan secara finansial/materiil, untuk membantu keluarga-keluarga yang berkekurangan, yang mengalami dampak ekonomi buruk dari situasi ini melalui (makanan, minuman maupun obat-obatan), maupun non materi seperti memberikan dukungan doa, kata-kata yang meneguhkan dan taat pada setiap himbauan yang bermanfaat. Kepada yang kehilangan pekerjaan, perlu dibantu baik berupa modal usaha maupun pekerjaan. Dengan adanya modal mereka bisa membuka usaha dan memperoleh penghasilan untuk pemenuhan kebutuhan sekaligus meringankan beban keluarga.
Konsili Vatican II Konstitusi Gaudium et Spes Art. 24-32
Pope Francis and Cristological Dimensions of solidarity in Catholic Social Teaching
Slavoj Zizek-Panic Covid-19 Shake the World, (2020)
_________________________________________________________________________________________
Peran Gereja di Tengah Wabah Covid-19
Wabah ini telah menghadirkan banyak masalah di semua sektor kehidupan umat manusia tidak terkecuali kehidupan menggereja umat Kristiani. Namun, momentum ini sebetulnya menjadi saat penuh rahmat untuk merefleksi peran Gereja sambil memaknai kembali keberadaannya di tengah dunia. Dalam dunia Gereja dipanggil untuk keluar dari dirinya untuk turut terlibat dalam mewujudkan semangat solidaritas dan mengambil tanggung jawab atas derita yang dialami umat manusia sebagaimana Allah bersolider dengan manusia dengan mengirimkan Putra-Nya yang tunggal untuk menebus dan membebaskan manusia dari dosa dan maut. Maka, penderitaan, salib dan wafat Kristus menjadi tanda solidaritas Allah kepada manusia, dan itu menjadi inspirasi solidaritas Gereja sepanjang masa.
Gereja tidak mungkin menjangkaui semua umat dengan seluruh pergumulan hidupnya jika lingkup pemberitaan Injil sebatas mimbar gereja. Paus Fransiskus memberi pesan supaya Gereja tidak menjadi tawar hati, menjadi tidak peduli dan tidak bersolider ketika berhadapan dengan dunia yang menderita. Gereja harus turut merasakan keterlukaan, dan penderitaan umat dengan demikian dapat dengan sukacita keluar menemui kaum miskin papah, mereka yang menderita. Gereja yang hidup adalah Gereja yang berani menjangkau lingkup akar rumput. Turut bergumul bersama penderitaan umat. Karena hanya dengan cara demikian, Gereja bisa dengan mudah menarik keluar umat yang menderita, yang hidup dalam keterpurukan kepada kemerdekaan hidup. Karena itu, Paus Fransiskus terus memberi dorongan kepada pemimpin gereja untuk bertransformasi, dengan berani mengambil resiko termasuk memberitakan suka cita Injil dengan cara-cara baru seturut konteks hidup umat, terutama saat ini umat sedang bergumul melawan pandemi covid-19. Hari ini Gereja harus senantiasa bersiaga dan ikut bertanggung jawab atas penderitaan yang dialami umat manusia. Para pemimpin Gereja harus bekerja ekstra menemukan cara-cara atau bentuk pelayanan yang kreatif untuk menjawabi kebutuhan umat terutama umat yang menderita karena pandemi covid-19 ini. Namun, diharapkan juga agar pemimpin gereja turut melibatkan umat beriman dalam mewujudkan rasa kepedulian, solidaritas dan tanggung jawab kepada sesamanya.
“Gembalakanlah domba-dombaKu” (Yohanes 21:15-19), perkataan Yesus ini dialamatkan kepada pemimpin Gereja. Mereka diserahi tanggung jawab atas hidup umat. Hal ini berarti, kekurangan, kemiskinan, penderitaan umat adalah juga tanggung jawab pemimpin Gereja. Pemimpin Gereja harus benar-benar memberi diri dalam pelayanannya namun tidak melulu memberi ikan tetapi juga mata kail agar umat juga sadar atas perannya dalam Gereja dan bertanggung jawab pula atas hidupnya. Maka, perlu juga menerapkan prinsip subsidiaritas. Pemimpin Gereja perlu menyadarkan umat bahwa upaya menghidupi Gereja adalah juga tanggung jawab umat. Dengan demikian, umat dan pemimpin Gereja bisa secara sinergis membangun Gereja menjadi hidup tanpa mengambil alih peran dan tugas.
Apa peran para pemimpin Gereja sebagai gembala terutama di tengah wabah seperti sekarang ini? Apakah melepaskan kawanan dan lari meninggalkannya? Atau sebaliknya menjaga kawananya agar tetap bersatu dan tidak membiarkan satu pun terluka!
Pandemi virus Corona menguasai bumi baru sejak akhir desember 2019 hingga hampir pertengahan tahun ini, namun sudah menelan begitu banyak korban. Karenanya, orang-orang yang terpapar harus mengisolasi diri dan dan menjauhkan diri dari orang-orang terdekatnya bahkan tidak memberi ruang dan waktu bagi keluarga untuk sekedar menyentuhnya sebagai bentuk dukungan. Apalagi yang meninggal dunia. Mereka seperti pahlawan yang gugur dalam pertempuran. Mengalami sakit dan kematian dalam kesendirian dan ketersembunyian. Mereka dikuburkan tanpa melalui tradisi dan upacara selayaknya. Sungguh sedih jiwa mereka kala melihat raganya tak disentuh orang-orang tercinta bahkan ditolak. Mereka sedih kalah melihat keluarga dan sanak saudaranya dikucilkan. Begitulah virus ini mengadu domba manusia. Menanggapi situasi urgensi ini Gereja perlu mengambil langkah bijak dari biasanya sesuai konteks pandemi sehingga cepat tanggap dan responsif terhadap kebutuhan umat terutama yang membutuhkan. Situasi dan kondisi pandemi secara tidak langsung memaksa pemimpin gereja untuk bertindak cepat dan kreatif terutama dalam pelayanan dan karya pastoral. Dalam situasi yang demikian darurat Gereja perlu membuat kebijakan dan keputusan praktis dan strategis agar kebutuhan umat yang terdesak segera terpenuhi. Di tengah pandemi, para pemimpin Gereja harus tetap memenuhi kebutuhan umat seperti penerimaan sakramen pengakuan dosa, perminyakan suci termasuk pendampingan bagi keluarga-keluarga yang terdampak pandemi Covid-19. Pemimpin Gereja bertanggung jawab bukan saja dalam hal kebutuhan liturgis, sakramen, tetapi bertanggung jawab pula merawat dan memelihara jiwa-jiwa (cura animarum), terutama jiwa mereka yang menderita karena kehilangan orang-orang terdekat, akibat terinfeksi virus, mereka yang harus kehilangan pekerjaan dan penghasilan, mereka yang di kucilkan dari tengah masyarakat sambil tidak mengabaikan keselamatan diri. Himbauan isolasi dan karantina diri tidak menjadi alasan bagi pemimpin gereja untuk tidak melayani umat. Para pemimpin gereja diharapkan menjadi teladan kesadaran Gereja sekaligus juga pengambil keputusan dan tindakan konkret yang memberi inspirasi bagi umat beriman untuk juga melibatkan diri dalam keprihatinan masyarakat. Tidak semua menyadari bahwa situasi pandemi ini sebenarnya menantang dan menguji kecakapannya pekerja pastoral, pemimpin gereja dalam hal pengambilan keputusan dan kebijakan untuk kehidupan gereja. Pemimpin gereja harus menjadi orang pertama bahkan inisiator mengambil langkah keterlibatan. Karena yang dilakukannya, teladan dan sikap yang ditampilkan menjadi kesaksian hidup nyata dan bisa menginspirasi banyak orang/umat untuk juga melibatkan diri dalam karya pastoral dan hidup menggereja. Sangat diharapkan bahwa pemimpin Gereja pada situasi ini, bukan hanya soal melayani perayaan ibadah melalui via daring tetapi lebih dari itu terutama menemukan strategi praktis untuk membangun iman umat.
Karena pandemi Covid-19 ini Gereja mengalami situsi sulit. Namun, Gereja tidak boleh menyerah. Gereja mesti menemukan cara-cara baru untuk mengatasi krisis dan kesulitan intern Gereja. Sebagai komunitas Umat Allah yang dipanggil untuk mewujudnyatakan karya keselamatan-Nya di dalam dunia, maka dalam situasi apapun Gereja harus tetap kokoh berdiri, sambil terus memperat kesatuan dalam bentuk nyata terlibat aksi kepedulian dan membangun solidaritas terhadap sesama dan bertanggung jawab atas penderitaan semua umat manusia. Dalam situasi ini, peran pemimpin Gereja sangat menentukan gerak keterlibatan Gereja.
E.Riyadi, Bernurani Tajam di Tengah Pandemi.Artikel Imamat&Pemimpin Jemaat
Memaknai Gereja Rumah di tengah Pandemi covid-19
Pandemi Covid-19 bukan saja berdampak pada kehidupan sosial ekonomi, budaya dan politik tetapi berimbas juga pada kehidupan spiritual umat Kristiani. Pandemi yang mendisrupsi ini membuat Gereja terpaksa mengambil bentuk-bentuk pelayanan spiritual secara berbeda sebagaimana dari biasanya. Gereja secara tiba-tiba terpaksa mengubah liturgi dan tata ibadah dari tatap muka menjadi virtual (tanpa interaksi langsung). Hal ini, membuat Gereja berefleksi dan mendefinisikan ulang makna keberadaannya di tengah dunia: apakah keberadaan Gereja dalam dunia sungguh memberikan ruang dan memudahkan umatnya untuk mengalami Allah melalui suatu pengalaman rohani? Ataukah Gereja hanya menjadi salah satu institusi agamawi yang justru menggagalkan orang untuk bertemu dengan Allah?
Pada tanggal 18 Maret 2020, Paus Fransiskus dari Vatikan mengeluarkan imbauan resmi bagi hampir 1,3 miliar warga Gereja Katolik Roma di seluruh dunia untuk beralih ke perayaan ekaristi secara daring. Tidak sedikit terjadi perdebatan kontroversial antara warga Gereja yang mengundang polemik dan menjadi viral di tengah masyarakat dan media soaial. Berikut beberapa topik yang sempat melintasi platform media sosial pada awal-awal himbuan Gereja rumah; “Gereja kosong dan harus Misa online! Gereja kalah dari Corona? Gereja kok libur?, Itu sih, Gereja yang tidak punya iman! Menghardik Virus Covid-19 dengan Doa!” Covid19, tulah dari Tuhan!. Hal ini wajar, karena umat tidak siap harus membawa dirinya sendiri pada Tuhan. Ditambah lagi harus mengikuti perayaan secara virtual tanpa komuni. Umat seperti kehilangan arah dan merasa tawar-tawar saja. Umat lupa bahwa konsep gereja rumah bukan hal yang baru dalam kekristenan. Prototipe gereja rumah adalah pola ibadah jemaat perdana (Kis.2:41-47). Pada masa para rasul kegiatan ibadah dan pengajaran rohani mengenai iman Kristen memang biasanya diadakan dari rumah ke rumah. Dalam Alkitab Perjanjian Baru kata “rumah” banyak digunakan, sekitar 274 ayat, baik dalam pengertian harfiah maupun metafora. Sebutan untuk “rumah” dalam bahasa Yunani adalah oikos atau oikia. Arti yang paling banyak muncul dalam Perjanjian Baru untuk oikia dan oikos adalah dalam arti dasar yaitu rumah, bangunan atau tempat tinggal; oikos 46 kali dan oikia 71 kali. Banyaknya penggunaan oikos dan oikia menunjukkan bahwa penulisan teks-teks Perjanjian Baru mempunyai latar belakang para pembaca jemaat gereja rumah.
________________________________________________________________
Djeffry Hidajat, “Gereja Di Rumah: Kontekstualisasi Fungsi-Fungsi Rumah Dalam Masa Perjanjian Baru
Pekabaran Injil.” Jurnal veritas.2018. V17i2.310
Kata oikos lebih pahami sebagai rumah dan tempat tinggal tetapi merujuk juga pada sebuah tempat ibadah. Kata oikia dalam Perjanjian Baru dapat berarti rumah, keluarga atau rumah tangga. Itu sebabnya jika melihat ke dalam Kisah Para Rasul, maka para rasul melayani dan melakukan ibadah dari rumah ke rumah, seperti salah satunya di rumah Kornelius (Kis. 10). Paulus dalam pelayanannya pun selalu memulai dari rumah. Rumah menjadi pusat awal pekabaran Injil Paulus seperti di kota Filipi Paulus tinggal di rumah Lidia (Kis 16:15-16) begitu pun di kota-kota lain. Di Tesalonika Paulus tinggal di rumah Yasron (Kis. 17:7), rumah Akwila di Korintus (Kis. 18:1), ruang atas di Troas (Kis. 20:8, 11), rumah Filipus di Kaisarea (21:8). Paulus juga melayani jemaat di rumah-rumah tertentu: jemaat di rumah Priskila dan Akwila (Rm. 16:3-5); rumah Aristobulus (Rm. 16:10), rumah Narkisus (Rm. 16:11), Gayus yang memberi tumpangan (Rm. 16:23), jemaat di rumah Nimfa (Kol. 4:15), Paulus pernah tinggal di rumah Karpus di Troas (2Tim. 4:13). Hasil buah pelayanan dari pemberitaan kabar baik di rumah, juga di tuntaskan di rumah. Hal ini menjelaskan mengapa dalam Perjanjian Baru terdapat banyak baptisan serumah, misalnya Kornelius (Kis.10:2; Lidia di Filipi (Kis. 16:15) dan kepala penjara (Kis. 16:33), Keluarga Stefanas di Korintus (1Kor. 1:16; 16:5). E.A.Judge menjelaskan bahwa pertobatan serumah bukan hanya alamiah dan diperlukan untuk memantapkan agama baru dalam lingkungan yang belum dikenal, tetapi rumah adalah merupakan fondasi paling masuk akal untuk pertemuan Kristiani. Fungsi religius rumah juga tampak ketika orang Kristen mula-mula memilih rumah sebagai tempat beribadah. Menurut Gehring fungsi gereja rumah dijelaskan dalam dua aspek, yaitu aspek eklesiologis dan aspek misiologis. Struktur gereja rumah bagi Gehring penting untuk melakukan pekerjaan misi dan pekabaran Injil.
Mengambil cara hidup Jemaat perdana dan pengajaran Paulus dalam Kisah Para Rasul, maka bukanlah sesuatu yang aneh dan asing jika rumah menjadi tempat beribadah sekaligus mewujudkan fungsi diakonia gereja. Dan hal itu dapat diterapkan dalam situasi sekarang ini di mana orang-orang Kristiani “dipaksa” oleh keadaannya untuk beribadah di rumah. Gereja rumah menjadi satu tawaran dan sekaligus strategi yang dibangun oleh gereja itu sendiri selain pertama-tama untuk, memperkuat sendi kehidupan iman keluarga Kristiani, juga dapat menjangkau semua orang percaya.
Melalui gereja rumah, setiap umat beriman sudah seharusnya menghidupi keberimanannya secara lebih dewasa dan tanggung jawab hidup. Semakin jelas melihat kualitas hidup rohani dan bertanggung jawab atas itu. Jika sebelum terjadi serangan pandemi, umat sangat bergantung pada fungsi kegembalaan Gereja saja, imam dan diakon yang senantiasa melayani kebutuhan rohani, maka dalam situasi ini umat sudah harus mandiri dan menjadi dewasa terutama dalam pencahariannya akan yang ilahi. Umat harus semakin memahami dan memaknai hidup keberimanannya secara lebih mendalam dan luas bukan sebatas perayaan ekaristi, komuni ataupun tata liturgi baku gereja.
____________________________________________________________________
E.A. Judge, “The Social Pattern of Christian Groups in the First Century,” The Journal of Romans Studies 50, no. 1–2 (1960): 283.
R Gehring, “House Church and Mission: The Importance of Household Structures in Early Christianity,”
The Journal of Theological Studies 58, no. 2 (2007): 666–671.
Djeffry Hidajat, “Gereja Di Rumah: Kontekstualisasi Fungsi-Fungsi Rumah Dalam Masa Perjanjian Baru
Pekabaran Injil.” Jurnal veritas.2018. V17i2.310
Kesimpulan
Peristiwa pandemi Covid-19 ini telah mengubah banyak hal menjadi positif. Banyak hal berubah secara signifikan. Mulai dari perilaku manusia terhadap alam, perlakuan terhadap sesama, pola hidup, dan masih banyak lagi. Ini tentu berdampak baik untuk kelangsungan hidup. Hal-hal itu bisa menjadi bahan reflektif bagi segenap warga dunia. Wabah covid-19 belum berakhir mungkin masih terus ada, tetapi manusia ingin terus hidup. Jika wacana new normal life adalah langkah tepat dan bijak, sangat diharapkan agar new normal life segera di berlakukan mengingat banyak masyarakat yang menderita bukan saja karena terjangkit virus corona tetapi juga karena kehilangan pekerjaan dan penghasilan yang membuatnya terus hidup dalam kecemasan. Sudah saatnya manusia beradaptasi dengan keberadaan virus ini, sambil tetap menjalankan pola hidup baru yang sudah berjalan beberapa waktu ini. Tetap peduli terhadap alam dan juga terhadap sesama.
Bagi gereja, kesempatan ini menjadi momentum untuk menyadarkan umat bahwa dalam situasi ini, kondisi keluarga menjadi sangat penting baik untuk tumbuh kembang anak juga pertumbuhan iman keluarga. Karena keluarga pada hakikatnya adalah gereja maka sangat diharapkan benih-benih iman itu tetap bertumbuh subur disana dalam situasi dan kondisi apapun. Keluargalah menjadi tempat persemaian yang subur bagi benih-benih iman. Gereja perlu menanggapi larangan dan himbauan pemerintah terhadap pencegahan penyebaran virus ini sebagai peluang untuk membangun gereja rumah sambil mempertimbangkan manfaat yang signifikan dari pelaksanaannya. Pada kesempatan ini, Gereja berpeluang untuk saling belajar baik tentang kebijakan, praktik dan strategi yang efektif untuk menjalankan fungsinya.
Bagi pemimpin gereja, situasi ini menjadi momentum untuk kembali menggali kekayaan gereja, menemukan kembali peran gereja yang sesungguhnya di dalam dunia. Menemukan cara-cara baru dan efektif dalam upaya membangun gereja yang transformatif. Pemimpin Gereja terus mendorong umat untuk tetap giat dalam aksi kepedulian dan hidup dalam semangat solidaritas bukan saja hanya pada masa sekarang ini melainkan untuk seterusnya.(VM)
Komentar
Posting Komentar