Hari Valentine, yang dirayakan setiap 14 Februari, identik dengan pemberian hadiah seperti cokelat dan bunga. Di balik simbol-simbol ini, mari kita merenungkan makna kasih yang sejati.
Bacaan pertama hari ini mengingatkan kita akan kisah kejatuhan manusia pertama di Taman Eden karena ketidaktaatan kepada Allah. Ular membujuk Hawa, dan akibatnya, manusia kehilangan kedekatan dengan Sang Pencipta, menderita, dan hubungan antarmanusia retak. Ketidakpercayaan dan ketidaktaatan menjadi akar perpecahan dan penderitaan. Kisah ini menyoroti kerapuhan hubungan manusia dan konsekuensi dari pilihan yang salah. Lebih dari itu, tindakan memetik buah terlarang tindakan yang tampak kecil menimbulkan kerusakan besar yang berdampak hingga kini. Apakah tindakan kita selama ini selalu membawa keselamatan atau justru kerusakan? Pertanyaan ini perlu direnungkan.
Injil Markus mengisahkan penyembuhan seorang yang tuli dan bisu oleh Yesus. Yesus menunjukkan belas kasih dan kuasa-Nya untuk memulihkan apa yang telah rusak. Kasih-Nya, tindakan nyata yang melampaui kata-kata, membawa penyembuhan fisik dan rohani. Yesus mendemonstrasikan kasih yang aktif, yang tidak hanya menerima tetapi juga bertindak untuk memperbaiki. Kasih-Nya adalah antitesis dari kerusakan yang terjadi di Taman Eden.
Di Italia, perayaan Valentine diwarnai dengan tradisi unik. Selain pertukaran hadiah dan kartu ucapan, ada tradisi memberikan baci Perugina, cokelat berbentuk hati, sebagai simbol kasih sayang. Berjalan-jalan bersama pasangan di tempat-tempat indah, menikmati hidangan lezat, dan menikmati suasana malam yang penuh cahaya juga menjadi bagian dari perayaan. Tradisi ini menunjukkan bahwa ungkapan kasih sayang bisa beragam, tetapi inti perayaan tetap pada rasa cinta dan penghargaan antar sesama.
Hari Valentine tidak hanya tentang cokelat, bunga, dan kado. Ia harus direfleksikan sebagai hari kasih sayang yang menyelamatkan. Ini termasuk menyelamatkan lingkungan alam tempat tinggal kita bersama. Chaos di Taman Eden, yang diciptakan oleh manusia pertama, bermula dari "memetik buah"—sebuah tindakan merusak. Akibatnya? Hanya penderitaan. Siklus kerusakan ini perlu diputus.
Kejatuhan manusia di Taman Eden mengajarkan kita tentang konsekuensi pilihan yang salah: perpecahan dan penderitaan. Kisah penyembuhan oleh Yesus menunjukkan kasih yang memulihkan, yang mampu mengatasi perpecahan dan penderitaan tersebut. Maka, Hari Valentine seharusnya menjadi pengingat akan kasih yang memulihkan, yang memperbaiki hubungan yang rusak (kita dengan sesama, kita dengan alam), bukan sekadar ungkapan romantis semata. Ia harus melampaui pemberian hadiah-hadiah materi.
Kasih sejati, seperti yang ditunjukkan Yesus, adalah kasih yang tulus, pengorbanan, dan pemaaf. Ini adalah kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, tetapi selalu berusaha untuk kebaikan orang lain. Kasih ini mampu mengatasi segala perbedaan, memperbaiki hubungan yang retak, dan membawa penyembuhan bagi jiwa yang terluka. Kasih ini bukan hanya kata-kata manis, tetapi juga tindakan nyata. Ia bahkan bisa terasa "sakit", datang dalam bentuk teguran, koreksi, atau "pukulan" yang membangun, mendorong kita untuk tumbuh dan melampaui keterbatasan diri.
Cinta sejati bukanlah sekadar kata-kata manis yang membungkus perasaan palsu. Ia bukan tentang penampilan luar yang menarik, atau hadiah-hadiah mahal yang menipu. Cinta sejati adalah kejujuran, berani bicara apa adanya, tanpa perlu berdandan dengan kata-kata yang muluk-muluk. Ia adalah kebenaran yang terungkap dari lubuk hati terdalam, tanpa ada perbedaan antara apa yang diucapkan, apa yang dihati dan apa yang dirasakan.
Mari, jadikan Hari Valentine sebagai momentum untuk merenungkan kualitas kasih kita. Apakah kasih kita hanya sebatas kata-kata manis, atau sudah sampai pada tindakan nyata yang membangun dan menyelamatkan? Apakah kita berani jujur dan terbuka dalam mengungkapkan perasaan, atau masih terjebak dalam topeng kepalsuan? Semoga kita semua dapat menemukan dan menghayati cinta yang sesungguhnya, cinta yang membangun, memulihkan, dan menyelamatkan, bukan hanya cinta yang superfisial. Semoga kasih yang tulus dan penuh pengorbanan dapat mewarnai setiap hubungan kita, dan menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik. (VM)
.
.
Jumat 14 Februari 2025 merupakan hari Jumat biasa V, peringatan wajib Santo Syrilius dan Metodius, Uskup dan Rahib, Santo Valentinus, Martir, Santo Maro, Abbas, Beato Yohanes dari Aldomovar, Pengaku Iman, dengan Warna Liturgi Putih.
Bac.Kejadian 3:1-8
Injil Markus 7:31-37

Komentar
Posting Komentar