Langsung ke konten utama

Konsistensi dalam Panggilan: Menjalankan Keputusan yang Menyelamatkan

       Gambar: https://blogger.googleuser

Bayangkan sebuah bangunan megah yang berdiri kokoh.  Kekuatannya terletak pada pondasi yang kuat dan kokoh. Demikian pula kehidupan spiritual kita: keputusan-keputusan yang kita ambil harus didasari iman yang kuat dan konsisten.  Sebab Konsistensi adalah tanda kedewasaan iman. Jika inkonsistensi terhadap hal-hal prinsipil, itu berarti Kedewasaanmu perlu diuji. Diuji oleh siapa? Oleh hati nuranimu sendiri, oleh prinsip-prinsip moralitas yang dipegang, oleh orang-orang yang memiliki pandangan luas, oleh referensi-referensi bacaan berkualitas. 

Bacaan suci hari ini, Yesaya 6, 1 Korintus 15, dan Lukas 5 mengarahkan kita pada perjalanan spiritual yang mendalam, menekankan pentingnya mencapai kedalaman spiritual, bertindak konsisten, dan mempertimbangkan dampak perbuatan kita. Sikap taat pada keputusan pribadi dan aturan yang menyelamatkan sangat penting dan berdampak positif.

"Bertolaklah ke tempat yang dalam" (Lukas 5) bukan sekadar instruksi geografis, melainkan panggilan untuk transformasi. Ini menuntut komitmen, keberanian, dan ketekunan untuk mencapai kedalaman spiritual:  memperdalam hubungan dengan Tuhan, merenungkan firman-Nya, dan mengizinkan-Nya membentuk karakter kita.  Kedalaman ini juga mencakup relasi dengan sesama mendengarkan, memahami, dan berempati serta kejujuran pada diri sendiri.  Ketaatan pada suara hati nurani, yang dibimbing Tuhan, menuntun pada keputusan-keputusan yang menyelamatkan.

Perjalanan ini menuntut niat tulus dan konsistensi.  Komitmen pada tujuan yang jelas dan prinsip moral, dibimbing doa, sangat penting untuk perubahan pribadi dan kolektif.  Tindakan harus didasari moralitas, pertimbangan dampak jangka panjang bukan berdasarkan emosional pribadi. Keputusan yang bijak mempertimbangkan semua sudut pandang.  Tuhan Yesus menuntut konsistensi dalam keputusan yang menyelamatkan.  Ketaatan membentuk karakter dan menuntun pada kehidupan yang lebih baik. Membakar sampah bukan hanya tindakan yang tidak bertanggung jawab secara lingkungan, tetapi juga menunjukkan ketidakkonsistenan moral yang serius, mengingat dampaknya terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.  Ini bukan tindakan yang menyelamatkan;  justru sebaliknya, ia merugikan dan mencederai kehidupan orang lain.

Penglihatan Yesaya (Yesaya 6) tentang kemuliaan Tuhan mengungkap kedalaman dosa dan kesucian Allah, menuntut respon mendalam, bukan sekadar pemahaman intelektual.  Ia dipanggil menjadi alat Tuhan, menyampaikan pesan-Nya.  Kita pun dipanggil untuk mengalami hubungan yang mendalam dengan Tuhan dan menjadi saksi-Nya.

Iman kepada kebangkitan Kristus (1 Korintus 15) adalah fondasi harapan dan transformasi.  Ia menjanjikan kehidupan baru, kemenangan atas kematian, dan kekuatan. Iman yang mendalam mendorong kita untuk hidup sesuai panggilan-Nya, menyebarkan Injil, dan menjadi saksi kuasa-Nya.

Panggilan Yesus kepada Petrus (Lukas 5) menuntut keberanian untuk melayani Tuhan dan sesama.  "Bertolaklah ke tempat yang dalam" merupakan panggilan untuk menyelamatkan jiwa.  Ketaatan Petrus, yang konsisten dan berkelanjutan bukan berdasarkan emosi sesaat, perhitungan untung rugi, atau kepentingan pribadi—menunjukkan pentingnya komitmen teguh untuk mencapai tujuan yang lebih besar.  Bahkan ketika Yesus tidak bersama mereka, Petrus tidak kembali menebar jala di tempat dangkal.  Hal ini menegaskan pentingnya menjalankan keputusan yang menyelamatkan, berdasarkan prinsip-prinsip moral universal (filsuf Stoa).

Ketiga bacaan ini saling melengkapi:  pengalaman Yesaya (kedalaman spiritual), iman kepada kebangkitan Kristus (kekuatan dan harapan), dan panggilan kepada Petrus (aksi dan kesaksian).  Kita dipanggil untuk mencapai kedalaman spiritual, memiliki iman yang teguh, dan menjadi saksi Kristus, selalu mempertimbangkan dampak perbuatan kita dan bertindak konsisten dengan panggilan kita. Konsistensi, adalah kunci kebajikan dan hidup yang bermakna.

Marilah kita, dengan kekuatan dan bimbingan Tuhan, membangun pondasi iman yang kokoh, konsisten dalam menjalankan panggilan-Nya, membuat dan mengambil keputusan yang menyelamatkan, dan menjadi berkat bagi sesama. Amin. (VM)

.

.

Bacaan I Yes. 6:1-2a,3-8

Bacaan II 1Kor. 15:1-11, 

Injil Lukas 5:1-11,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gereja Katolik~ nikah Dua Kali?

“Bolehkah Dilakukan Peneguhan Ganda Perkawinan?” Seorang pemuda Katolik menjalin relasi kasih dengan seorang gadis dari  Gereja Protestan. Mereka berdua sebenarnya sudah memutuskan untuk menikah secara Katolik dan pacarnya itu bersedia akan ikut suaminya pindah ke Katolik. Tapi dalam perjalanan, keinginan dan niat mereka berdua ini ternyata tidak didukung oleh keluarga sang gadis. Pihak keluarga wanita bersikukuh supaya pihak laki-laki yang mengalah dan mengikuti wanitanya. Mereka berdua lalu berdiskusi lagi dan membuat kesepakatan baru, yaitu: mereka akan berencana menikah dua kali. Rencana mereka, mereka akan menikah dulu di Gereja Protestan supaya orang tua wanita ini jangan marah, lalu setelah itu baru mereka diam-diam menikah lagi di Gereja Katolik. Apakah diperbolehkan ada peneguhan ganda dalam perkawinan? Apakah tidak akan menjadi masalah ke depannya dari calon keluarga baru tersebut kalau dari awal mereka membangun keluarga mereka dengan kebohongan? Dalam Kitab Hukum Kanoni...

Filsafat: Sebuah Perjalanan Intelektual

Filsafat adalah ilmu yang mempelajari esensi kebenaran, pengetahuan, kehidupan, dan keberadaan.  Filsafat juga dapat diartikan sebagai pandangan kritis terhadap segala sesuatu.  Menurut KBBI, filsafat/filosofi adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai inti segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya.  Kata "filsafat" berasal dari bahasa Yunani philosophia, gabungan dari philos (cinta, kecintaan) dan sophos (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan).  Dengan demikian, filsafat berarti kecintaan akan kebijaksanaan. Filsafat telah berkembang melalui berbagai zaman, dan setiap zaman memiliki ciri khasnya sendiri. Pengertian Filsafat Menurut Para Ahli 1. Aristoteles:  Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu secara umum dan universal.  Filsafat bertujuan untuk mencari kebenaran tentang segala sesuatu dan memahami hakikat realitas. 2. Plato:  Filsafat adalah upaya untuk mencapai pengetahuan yang benar dan abadi.  Filsafat merupa...

Gereja Katolik Membolehkan Menikah Lagi Setelah Cerai Sipil?

“BOLEHKAH MENIKAH LAGI SETELAH CERAI SIPIL?”   Kisah nyata seorang pria Katolik menikah melalui dispensasi 17 tahun lalu dengan seorang wanita Kristen Protestan. Sejak tahun ke-10 hubungan perkawinan mereka renggang. Bahkan mereka sudah tidak lagi melakukan hubungan seks meskipun tinggal serumah. Kemudian mereka memutuskan untuk bercerai secara sipil tahun 2016. Putri semata wayang mereka oleh pengadilan diputuskan untuk ikut dengan sang pria. Tahun 2017  sang mantan istri  menikah lagi dengan pria selingkuhannya semasa mereka masih terikat perkawinan secara hukum. Kini mereka juga sudah dikaruniai anak. Dari kisah ini apakah sang pria dapat memproses pembatalan pernikahan? Apakah ia masih boleh menerima komuni? Jika ia bertemu dengan wanita Katolik kemudian menikah dengannya secara Katolik, apakah pasangannya juga terkena sanksi tidak boleh menerima komuni juga? Dalam Injil Matius perihal perceraian ditegaskan Yesus ketika orang-orang Farisi mempertanyakannya. Tuhan Yesu...