Langsung ke konten utama

Menyelamatkan Liberalisme dari Diri Sendiri

 



ᑭada 03 Oktober 2020, Paus Fransiskus menandatangani dokumen Fratelli tutti di Asisi. Damian Howard menulis, 'Ensiklik ketiga Paus Fransiskus merupakan perluasan bertahap tradisi Pengajaran Sosial Gereja yang dengan hati-hati meletakkan logikanya dan dengan lembut meradikalisasi beberapa implikasinya'. Lima tahun lalu Laudato Si’ secara profetik menempatkan panggung pusat krisis ekologi bagi Gereja dan dunia. Agenda yang dipetakan kini memunculkan banyak kosa kata baru: Brexit, MAGA, Covid-19, BLM, berita palsu, lockdown, QAnon. Rasanya, dunia membutuhkan akal sehat Katolik, dan itulah tepatnya yang disediakan Fratelli tutti.


Tampaknya politik saat ini berfungsi dalam dua visi: bertahan dengan proyek ekonomi neo-liberal dengan suksesi krisis ekonomi, rezim pengetatan dan globalisasi teknokratis yang dingin; atau untuk melawan semua dengan mempromosikan populisme nasional pemicu propaganda tetapi berkolusi dengan kepentingan finansial yang korup.


Rasanya termin 'Liberal' telah menjadi kata kotor bagi jutaan orang yang setiap instingnya sebenarnya liberal. Visi Pencerahan yang didirikan di atas prinsip kebebasan individu telah digabungkan dengan ortodoksi ekonomi yang berkomitmen pada operasi pasar bebas. Namun nilai budaya liberal tidak hanya bermuara pada selera. Ada kemuliaan dalam kisah perkembangan hak asasi manusia pasca perang, penyebaran supremasi hukum, banyak lembaga internasional dibentuk untuk menjaga kebaikan bersama, dll. Sepertinya, rasa jijik akibat Shoah dan penggunaan senjata termonuklir pada masa perang mengkristalkan hasrat kesetaraan dan perdamaian ras. Dan Gereja sadar akan dasar-dasar rapuh teori liberal.


Dalam Fratelli tutti, gagasan persaudaraan universal dimasukkan ke dalam dialog dengan pesan Injil yang menunjuk ke arah persaudaraan manusia. Injil memberikan jiwa pada gagasan menghormati martabat. Namun visi liberal itu sendiri kering, formal,dan abstrak. Yang dibutuhkan adalah peradaban universal perdamaian yang didasari cinta sebagai kebajikan liberal. Cinta umat manusia, Dostoyevsky katakan, terlalu mudah hidup bersama dengan cemoohan bagi manusia sejati yang hidup berdaging dan bertulang. Tetapi jika cinta universal ingin menjadi lebih dari sekadar gigitan saleh, seseorang berhak bertanya seperti apa dalam praktiknya dan bagaimana belajar bertindak berdasarkan cinta. Menjawab pertanyaan pertama, Paus menawarkan satu perumpamaan dan dua figur Kristen: Orang Samaria yang Murah Hati (dasar biblisensiklik)— khususnya 'Orang Asing di Jalan'— Fransiskus Asisi dan Charles de Foucauld.


Bagi Paus, cinta harus dikerjakan, tidak spontan, dan bukan hanya masalah bersikap baik. Kita harus dibentuk oleh keluarga dan dididik ke dalam praktik dan kebajikan cinta universal, yang titik awalnya adalah mencintai akar kita sendiri, budaya kita sendiri, tanah air kita sendiri. Tapi bukankah ini jebakan populisme dan nasionalisme? Tidak semuanya. Cinta yang benar tidak tertutup, tetapi mekar. Menyinggung Carl Schmitt, Paus mengatakan, budaya lain bukanlah "musuh", tetapi refleksi yang berbeda dari kekayaan kehidupan manusia' (147).


Ensiklik ini sebetulnya tidak memberikan banyak kebaruan tetapi tepi baru aspek-aspek ajaran Katolik. Sebagian besar ensiklik dikhususkan untuk penderitaan para pengungsi, dan 'hak semua individu untuk menemukan tempat yang memenuhi kebutuhan dasar mereka' (129). Ada juga himbauan untuk mengingat kengerian sejarah manusia: terutama Shoah, Hiroshima dan perbudakan (247). Ingatan itu, kata Fransiskus, adalah komponen esensial cinta sosial dan politik.


Mereka yang benar-benar memaafkan tidak lupa. Sebaliknya, memilih untuk tidak menyerah pada kekuatan destruktif. Mereka memutus lingkaran setan, menghentikan kemajuan kekuatan penghancur, dan memilih untuk tidak menyebarkan semangat balas dendam. Balas dendam tidak pernah benar-benar memuaskan para korban. Beberapa kejahatan begitu kejam sehingga hukuman bagi mereka yang melakukannya tidak berfungsi untuk memperbaiki. Bahkan membunuh penjahat saja tidak akan cukup, juga tidak ada bentuk penyiksaan yang bisa dibuktikan dengan penderitaan korban. Balas dendam tidak menyelesaikan apapun (251).


Paus lalu beralih ke modifikasi ajaran resmi Gereja tentang hukuman mati. Logika, -martabat manusia yang tidak dapat dicabut bahkan dari para pembunuh - dengan hati-hati diartikulasikan pada akhir Fratelli tutti, bersamaan dengan kutukan perang. Ini kontroversial. Siapapun yang menganggap posisi seperti itu plastisin belum memerhatikan pandangan yang semakin mengejutkan dari para pakar Katolik. Mereka memandang ekonomi neo-liberal sebagai implementasi optimal Ajaran Sosial Katolik.


Banyak dari keprihatinan Paus Benediktus XVI juga bergema dalam kesinambungan ensiklik sosialnya, Caritas in veritate (2009) sebagai dokumen kedua yang paling banyak dikutip (setelah Laudato si'): pentingnya tatanan politik global baru (138 ), tindakan sosial yang diatur oleh logika pemberian (139), dan tindakan amal pribadi dengan upaya politik untuk mengubah struktur sosial (187). Selain itu, Fransiskus juga menekankan pentingnya perjumpaan yang di era Covid kedengarannya mustahil terwujud, berkomitmen menjadi manusia berarti bagi suatu bangsa, populisme yang berubah, dengan karakter 'mitis' (158), dan membayangkan masyarakat inklusif sebagai 'polihedral':menghormati perbedaan bukankerangka kerja homogenisasi (215). Keinginannya memahami relasi orang Kristen, Yahudi,dan Muslim membingkai seluruh dokumen, dengan referensi Dokumen Abu Dhabi. Tetapi nilai sebenarnya adalah pengulangan yang koheren dari esensi pesan Injil.


Ketika Paus Benediktus menulis Deus caritas est (2005), dia fokus pada prinsip sentral iman, yakni 'kembali ke dasar' identitas kita sebagai putri dan putra Gereja. Bukti kebutuhan untuk panggilan semacam itu adalah banyaknya ventilasi limpa online yang memprovokasi Fratelli tutti. Salah satu keluhan yang ditujukan pada pengajaran KV II adalah bahwa hal itu mencerminkan optimisme hippy-dippy1960-an. Penulis Fratelli tutti menyadari, idealismenya, mimpinya akan budaya baru, keyakinannya bahwa rintangan perdamaian dunia dapat dihadapi, semua menjamin bahwa dia akan dituduh naif. Namun tidak seorang pun yang dapat menuduhnya menggantungkan diri pada optimisme zaman ini. Ensiklik muncul dalam masa-masa penuh gejolak, pandemi yang terbungkus dalam krisis keuangan dan bencana ekologi.


Kita dapat mulai dari bawah dan bertindak pada tingkat yang paling konkret dan lokal, dan kemudian memperluas jangkauan dengan perhatian yang ditunjukkan orang Samaria. Kesulitan yang tampak membebani adalah kesempatan bertumbuh, bukan alasan pengunduran diri yang muram. Namun janganlah kita melakukan ini sendiri sebagai individu. Orang Samaria menemukan pemilik penginapan … Mari kita berhenti mengasihani diri sendiri dan mengakui kejahatan kita, sikap apatis kita, kedustaan kita. Reparasi dan rekonsiliasi akan memberi kita hidup baru dan membebaskan kita dari rasa takut (78).


Dari mana keyakinan untuk memanggil kita kembali ke keluarga, ke lingkungan,dan kota dapat timbul? Jawabannya adalah Fransiskus dari Assisi: “Dunia pada masanya, penuh menara pengawas dan tembok pertahanan, kota-kota adalah teater perang brutal antara keluarga-keluarga yang berkuasa, bahkan ketika kemiskinan menyebar ke seluruh pedesaan, Fransiskus dapat menyambut kedamaian sejati ke dalam hatinya dan membebaskan dirinya dari keinginan menggunakan kekuasaan atas orang lain….”(4).


Spiritualitas il poverello terlihat jelas di seluruh Fratelli tutti. Menurut saya, itulah sebabnya judul, kutipan dari orang suci, bertahan meskipun ada keberatan terhadap bahasa seksis dalam teks gerejawi. Itu adalah kunci yang menyatukan daya tarik untuk hidup sederhana, cinta universal, dan keterbukaan kepada Muslim. Revolusi multi-segi yang dibawa oleh Fransiskus dan orde baru ke Gereja pada zamannya begitu tenggelam dalam semangat Kristus. Nama 'Fransiskus' yang saat itu dipilih oleh Kardinal Bergoglio pada aksesi Takhta Petrus, ternyata, tidak mewakili program reformasi gerejawi belaka, melainkan menawarkan jendela ke misteri pemeliharaan. 

ᗰungkin Paus Yesuit ini sedang menyempurnakan paragraf terakhir yang terkenal dari After Virtue (1981) karya Alasdair McIntyr: “After Virtue harus dibaca sebagai sebuah karya yang masih dalam proses…” (278).


Warm Regard

Fra.P. Pit Duka Karwayu✍️

Mahasiswa Fak.Filsafat Keilahian

Universitas Sanata Dharma - Yogyakarta


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gereja Katolik~ nikah Dua Kali?

“Bolehkah Dilakukan Peneguhan Ganda Perkawinan?” Seorang pemuda Katolik menjalin relasi kasih dengan seorang gadis dari  Gereja Protestan. Mereka berdua sebenarnya sudah memutuskan untuk menikah secara Katolik dan pacarnya itu bersedia akan ikut suaminya pindah ke Katolik. Tapi dalam perjalanan, keinginan dan niat mereka berdua ini ternyata tidak didukung oleh keluarga sang gadis. Pihak keluarga wanita bersikukuh supaya pihak laki-laki yang mengalah dan mengikuti wanitanya. Mereka berdua lalu berdiskusi lagi dan membuat kesepakatan baru, yaitu: mereka akan berencana menikah dua kali. Rencana mereka, mereka akan menikah dulu di Gereja Protestan supaya orang tua wanita ini jangan marah, lalu setelah itu baru mereka diam-diam menikah lagi di Gereja Katolik. Apakah diperbolehkan ada peneguhan ganda dalam perkawinan? Apakah tidak akan menjadi masalah ke depannya dari calon keluarga baru tersebut kalau dari awal mereka membangun keluarga mereka dengan kebohongan? Dalam Kitab Hukum Kanoni...

Filsafat: Sebuah Perjalanan Intelektual

Filsafat adalah ilmu yang mempelajari esensi kebenaran, pengetahuan, kehidupan, dan keberadaan.  Filsafat juga dapat diartikan sebagai pandangan kritis terhadap segala sesuatu.  Menurut KBBI, filsafat/filosofi adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai inti segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya.  Kata "filsafat" berasal dari bahasa Yunani philosophia, gabungan dari philos (cinta, kecintaan) dan sophos (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan).  Dengan demikian, filsafat berarti kecintaan akan kebijaksanaan. Filsafat telah berkembang melalui berbagai zaman, dan setiap zaman memiliki ciri khasnya sendiri. Pengertian Filsafat Menurut Para Ahli 1. Aristoteles:  Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu secara umum dan universal.  Filsafat bertujuan untuk mencari kebenaran tentang segala sesuatu dan memahami hakikat realitas. 2. Plato:  Filsafat adalah upaya untuk mencapai pengetahuan yang benar dan abadi.  Filsafat merupa...

Gereja Katolik Membolehkan Menikah Lagi Setelah Cerai Sipil?

“BOLEHKAH MENIKAH LAGI SETELAH CERAI SIPIL?”   Kisah nyata seorang pria Katolik menikah melalui dispensasi 17 tahun lalu dengan seorang wanita Kristen Protestan. Sejak tahun ke-10 hubungan perkawinan mereka renggang. Bahkan mereka sudah tidak lagi melakukan hubungan seks meskipun tinggal serumah. Kemudian mereka memutuskan untuk bercerai secara sipil tahun 2016. Putri semata wayang mereka oleh pengadilan diputuskan untuk ikut dengan sang pria. Tahun 2017  sang mantan istri  menikah lagi dengan pria selingkuhannya semasa mereka masih terikat perkawinan secara hukum. Kini mereka juga sudah dikaruniai anak. Dari kisah ini apakah sang pria dapat memproses pembatalan pernikahan? Apakah ia masih boleh menerima komuni? Jika ia bertemu dengan wanita Katolik kemudian menikah dengannya secara Katolik, apakah pasangannya juga terkena sanksi tidak boleh menerima komuni juga? Dalam Injil Matius perihal perceraian ditegaskan Yesus ketika orang-orang Farisi mempertanyakannya. Tuhan Yesu...