Patron Of The Internet & Social Media Blessed Carlo Acutis (B.1991-2006)
𝐿𝑎 𝑇𝑜𝑚𝑏𝑎 𝑑𝑖 𝐶𝑎𝑟𝑙𝑜 𝐴𝑐𝑢𝑡𝑖𝑠 - 𝐴𝑠𝑠𝑖𝑠𝑖

𝑃𝑎𝑡𝑢𝑛𝑔 𝐶𝑎𝑟𝑙𝑜 𝐴𝑐𝑢𝑡𝑖𝑠🆃︎𝑒𝑟𝑘𝑒𝑠𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑘 biasa melihat Patung 𝑑𝑎𝑟𝑖 seorang Kudus Modern tepatnya dari kalangan 𝑌Generation (𝑔𝑒𝑛𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑚𝑖𝑙𝑒𝑛𝑖𝑎𝑙). Dengan fashion sepatu sneaker dipadupadankan dengan kemeja berkerah sementara tangan memegang laptop dan tas di belakangnya. Begitupula di makamnya ia pun terlihat mengenakan pakaian santai, jeans, sneaker dan dipadukan dengan sweater. Kelihatan cukup keren dan fashionable, bukan?. Gayanya itu seolah memberi pesan kepada dunia bahwa seorang pemuda milenial pun bisa menjadi suci. Siapakah dia? Anak-anak milenial dan generasi Z/ generasi internet tentu tidak asing lagi dengan sosok yang satu ini. Dia adalah seorang teenager berkebangsaan Italy, menguasai bidang komputer dan internet.
Ia bernama Carlo Acutis seorang remaja Katolik Roma, lahir pada tanggal 03 Mei 1991 di London Britania Raya. Ayahnya bernama Andrea Acutis dan ibunya bernama Antonia Salzano. Beberapa bulan setelah kelahirannya, orang tuanya pindah ke London untuk urusan pekerjaan.
Meski usianya masih tergolong belia, ia sangat setia dan menunjukkan kecintaannnya kepada Bunda Maria dengan sering mendaraskan Doa Rosario. Itu dilakukannya sebagai tanda pengabdianya kepada Bunda Allah. Carlo kecil menerima komuni pertama saat berusia 7 tahun di biara S. Ambrogio Nemus. Sejak komuni pertama dia tidak pernah melewatkan Misa harian.
Baik sebelum maupun sesudah perayaan Ekaristi sebelum meninggalkan Gereja ia selalu menyempatkan diri berlutut di depan Tabernakel dan sujud menyembah Tuhan yang benar-benar hadir dalam Sakramen Mahakudus. Ia tekun membuat pengakuan dosa seminggu sekali. Ia lebih suka mengunjungi Assisi dari pada tempat-tempat wisata atau hiburan seperti wahana permainan sebagaimana anak-anak seusianya.
𝐸𝑘𝑎𝑟𝑖𝑠𝑡𝑖 𝐽𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑅𝑎𝑦𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑗𝑢 𝑆𝑢𝑟𝑔𝑎
Masih belia, namun memiliki kepeduliaan dan semangat cinta kasih yang luar biasa. Carlo menaruh perhatian yang luar biasa kepada teman-temannya terutama yang mengalami broken home. Teman-teman yang orang tuanya akan bercerai diajak ke rumahnya untuk sekedar mendukung mereka. Cinta dan kebesaran hatinya ia berikan kepada teman-temannya yang mengalami disabilitas dan yang sering mendapat bully-an di sekolahnya. Dia selalu membela hak-hak orang yang memiliki keterbatasan fisik.
Ia dikenal sebagai anak yang jenius dalam segala hal berkaitan dengan komputasi; Orang-orang disekitarnya memang mengenalnya sebagai anak yang menyukai komputer. Dia bersekolah di Millan dan sekolah menengahnya di bawah bimbingan Yesuit di Istituto Leone XIII. Menguasai bidang komputer, ia dikenal juga sebagai programmer, pengedit film sekaligus pembuat situs website yang ia dedikasikan untuk membuat surat kabar dan katalog dari setiap mukjizat yang dilaporkan dan dia melakukan itu pada tahun 2005, setahun sebelum ia didiagnosa oleh dokter sebagai pengidap leukimia. Dia memang aktif membuat katalog dari setiap mukjizat Ekaristi di seluruh dunia dan memuatnya pada website yang dibuatnya. Bahkan sejak ia berumur 11 tahun. Dia menghargai inisiatif dari Beato Giacomo Alberione untuk menggunakan media sebagai sarana pewartaan dan evangelisasi. Ia melanjutkan karya itu dalam website yang dibuatnya. Selain itu ia juga dikenal sebagai penyunting film dan komik. Di situsnya, ia menulis: “semakin banyak Ekaristi yang kita terima, semakin kita menjadi seperti Yesus, sehingga di bumi ini kita akan merasakan Surga.
Pada awal oktober 2006, diusianya yang menginjak 15 tahun oleh dokter dia di diagnosa sebagai pengidap leukemia. Karena sakitnya itu, orang tuanya hendak membawanya untuk semakin sering mengunjungi banyak tempat ziarah, situs-situs tempat terjadinya mukjizat Ekaristi yang mereka ketahui di dunia. Tetapi karena kesehatannya yang kian memburuk, rencana peziarahan pun dibatalkan. Penderitaannya itu ia dedikasikan untuk Paus Benediktus XVI dan Gereja universal. “Saya menawarkan semua penderitaan yang harus saya derita untuk Tuhan, untuk Paus, dan untuk Gereja,” kata Carlo.
Dokter yang merawatnya bertanya apakah dia sangat menderita dan jawaban penuh keyakinan, dengan iman yang luar biasa, “ada orang yang lebih menderita dari pada saya”. Dia kemudian meninggal dunia pada 12 oktober 2006 pada pukul 06;45 pagi waktu setempat oleh karena penyakit M3 Fulminan Leukimia. Dia lalu dimakamkan di Assisi sesuai permintaannya.
Makam Venerabilis Carlo Acutis dibuka untuk penghormatan publik menjelang beatifikasi pada hari Kamis, 01 Oktober hingga 17 Oktober 2020. Seluruh tubuh masih dalam keadaan utuh, tetapi tidak rusak. Jenazah yang telah mati secara biologis, selama bertahun-tahun terkubur di Assisi. “Setiap manusia yang meninggal secara natural jasadnya akan melewati proses pembusukan, sebagai yang alami dari kondisi manusia setelah dipanggil oleh Tuhan, Sang Sumber Kehidupan. Tetapi tubuh fana Carlo Acutis ditakdirkan untuk dibangkitkan. Demikian kata Uskup Assisi, Mgr. Domenico Sorrentino pada Misa pembukaan pada makam Carlo Acutis di Assisi pada 01 Oktober 2020. Dalam homilinya dia menjelaskan bahwa tubuh Acutis disatukan kembali dengan seni dan cinta. Dia meninggal dalam kekosongan yang besar dan tentu meninggalkan kekaguman yang mendalam terutama bagi mereka yang mengenalnya meski kesaksiannya yang amat singkat namun intens tentang kehidupan Kristen yang otentik.
“Tujuan kita haruslah yang tak terbatas, bukannya yang terbatas, tak terbatas adalah tanah air kita. Kita telah diharapkan di Surga sejak dahulu kalah. Semua lahir dalam keorisinalitasnya sendiri, tetapi banyak yang mati sebagai yang tidak orisinal,” Carlo Acutis.
Proses beatifikasi dimulai pada 2013 silam setelah Konferensi Episkopal Lombard menyetujui petisi untuk kanonisasi. Pembukaan penyelidikan keuskupan diadakan pada tanggal 15 Februari 2013 dengan Kardinal Angelo Scola sekaligus meresmikan prosesnya dan menutupnya kemudian pada tanggal 24 November 2016. Perkenalan resmi tentangnya pada 13 Mei 2013 dan diberi gelar pada waktu itu sebagai Hamba Tuhan. Paus Fransiskus mengukuhkan kehidupan kebajikan heroiknya pada 5 Juli 2018 dan menyebutnya sebagai “Yang Mulia”.
Carlo sangat berbakat dalam bidang komputer. Karenanya dalam “Christus Vivit” Nasihat Kerasulan yang diterbitkan setelah Sinode Para Uskup tahun 2018 tentang kaum muda, Paus Fransiskus menyatakan Carlo Acutis sebagai model kekudusan di era digital. Berita itu merupakan sinar cahaya pada periode ini di mana negara sedang berjuang dengan kondisi kesehatan, sosial, dan ekonomi, pekerjaan yang sulit. Pada masa ini, kita telah mengalami aspek positif dari internet, teknologi komunikasi di mana Carlo memiliki bakat khusus itu. Sungguh, kasih Tuhan yang luar biasa mengubah krisis besar dengan rahmat yang besar pula.
Mukjizat yang diterima oleh Vatikan untuk beatifikasi Carlo Acutis. Pada tahun 2013 sang Imam pernah meminta setiap orang untuk mendekati altar dan secara terbuka menyatakan apa yang mereka doakan kepada Carlo Acutis. Seketika setelah permohonan itu dilakukan, anak kecil asal Brasil yang lahir dengan kelainan anatomi pankreas bawaan yang langka yang telah membuatnya tak dapat makan makanan padat seketika mengatakan bahwa ia sudah tidak mengalami muntah dan menyadari bahwa dirinya sudah bisa mengonsumsi makanan padat dan oleh pihak medis, anak kecil itu sembuh total.
Pakar medis mengakui mukjizat yang diberikan kepadanya pada 14 November 2019. Dan Paus Fransiskus membenarkan mukjizat itu dalam sebuah dekrit pada 21 Februari 2020 yang akhirnya memungkinkan Acutis dibeatifikasi di Assisi pada 10 Oktober 2020.
Carlo Acutis yang Terberkati, Doakanlah kami; anak-anak kami kaum milenial, generasi digital agar tetap menggunakan media digital secara bijak demi kesejahteraan dan kebahagiaan hidup mereka dan orang lain.(VM)
#ᑭ𝑒𝑙𝑖𝑛𝑑𝑢𝑛𝑔 𝑘𝑎𝑢𝑚 𝑚𝑢𝑑𝑎-𝑀𝑎ℎ𝑎𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎
Jean Ko Din (4 June 2016). "Photo exhibit chronicles the miracle of the Eucharist". The Catholic Register. Retrieved 6 May 2017.
"Servant of God Carlo Acutis". Santi e Beati. Retrieved 31 October 2017




Komentar
Posting Komentar