Langsung ke konten utama

Fratelli Tutti

 


πŸ‡΅ ada tanggal, 3 Oktober 2020 Paus Fransiskus menandatangi Ensiklik “Fratelli Tutti” di Assisi, tempat kelahiran dan hidup St. Fransiskus dari Assisi. Hari berikutnya, 4 Oktober, ensiklik tersebut dipublikasikan. Berikut ini merupakan saduran dari ringkasan yang dibuat oleh Isabella Piro dalam ᗯᡉᡇ˒ⁱᡗᡉ Κ·Κ·Κ·.α΅›α΅ƒα΅—β±αΆœα΅ƒβΏβΏα΅‰Κ·Λ’.ᡛᡃ

Ensiklik ini bertujuan untuk mendorong keinginan akan persaudaraan dan persahabatan sosial. Pandemi Covid-19 menjadi latar belakang ensiklik ini. Kedaruratan kesehatan global telah membantu menunjukkan bahwa “tak seorangpun bisa menghadapi hidup sendirian” dan bahwa waktunya sungguh-sungguh telah tiba akan “mimpi sebagai satu keluarga umat manusia” di mana kita adalah “saudara dan saudari semua”. 

πŸ…‘︎𝖺𝖻 I: Awan-awan gelap yang meliputi dunia.

Dalam bab ini direfleksikan banyak penyimpangan jaman ini: manipulasi dan deformasi konsep-konsep demokrasi, kebebasan, keadilan; hilangnya makna komunitas sosial dan sejarah; cinta diri dan ketidakpedulian terhadap kesejahteraan bersama; meningkatnya logika pasar yang didasarkan pada keuntungan dan budaya membuang; pengangguran, rasisme, kemiskinan; ketidaksamaan hak dan akibat-akibatnya seperti perbudakan, perdagangan manusia, dsb.  Paus menekankan bahwa masalah-masalah global ini membutuhkan tindakan-tindakan global. Diingatkan pula bahaya “tembok-tembok budaya” yang menyuburkan kejahatan teroganisir, yang disulut oleh ketakutan dan kesendirian. 

πŸ…‘︎𝖺𝖻 II: Orang-orang asing di jalan.

Ensiklik ini ingin menanggapi banyak bayang-bayang gelap itu dengan contoh cemerlang, bentara harapan: Orang Samaria yang baik hati. Bab II menyoroti figur ini. Dalam masyarakat yang tidak sehat ini kita dipanggil, seperti orang Samaria yang baik itu, untuk menjadi sesama bagi yang orang-orang lain. Kita bertanggung jawab bersama menciptakan masyarakat yang bisa menerima, mengintegrasikan dan mengangkat mereka yang telah jatuh atau menderita. Kasih membangun jembatan dan “kita diciptakan untuk mencintai”.

πŸ…‘︎𝖺𝖻 III: Visi dari dunia yang terbuka.

Dalam bab ini Paus mendorong kita untuk pergi “’keluar’ diri sendiri” untuk menemukan “eksistensi lebih penuh dalam diri orang lain”, dengan membuka diri terhadap yang lain sesuai dengan dinamika cinta kasih yang membuat kita terarah kepada “kepenuhan universal”. Hidup rohani seseorang diukur dengan cinta kasih, yang selalu “menempati tempat pertama” dan menuntun kita untuk mencari apa yang lebih baik bagi hidup orang lain, jauh dari cinta diri. Rasa solidaritas dan persaudaraan dimulai dalam keluarga, yang harus dijaga dan dihormati perutusan pertama dan utama mereka dalam pendidikan. 

Semua orang berhak untuk hidup secara bermartabat, tidak ada seorangpun yang dikecualikan. Bapa Paus meminta kita untuk mempertimbangkan “etika hubungan-hubungan international”, karena setiap negara juga milik dari orang-orang asing dan kemakmuran suatu wilayah tidak bisa dielakkan bagi mereka yang membutuhkan dan datang dari tempat lain. 

πŸ…‘︎𝖺𝖻 IV: hati terbuka kepada dunia.

Bab ini berbicara tentang migrasi. Para migran hidup dalam keadaan bahaya, baik peperangan, penganiayaan, bencana alam, dsb. Mereka harus diterima, dilindungi, didukung. Memang migrasi yang tidak perlu hendaknya dihindari, dengan menciptakan kesempatan-kesempatan hidup di negara asal. Namun sekaligus kita perlu menghormati hak untuk mencari kehidupan yang lebih baik di manapun. 

πŸ…‘︎𝖺𝖻 V: politik yang lebih baik.

Politik yang lebih baik merupakan salah satu bentuk amat berharga dari karya kasih, karena melayani kesejahteraan bersama dan mengakui pentingnya orang-orang. Politik memberi ruang untuk diskusi dan dialog. Politik yang lebih baik juga yang melindungi pekerjaan, sebagai “dimensi hakiki hidup sosial”. Tugas politik adalah untuk menemukan solusi bagi semua yang menyerang hak-hak asasi manusia, seperti penolakan sosial; perdagangan organ-organ tubuh, senjata, narkoba; ekploitasi seksua; perbudakan, terorisme dan kejahatan terorganisir. Paus menyerukan untuk secara definitif menghapuskan perdangangan manusia, yang merupakan “sumber yang memalukan bagi umat manusia” , dan kelaparan, yang merupakan “kriminal” karena makanan adalah “hak yang harus ada”. Politik juga harus berpusat pada martabat manusia dan tidak tunduk pada ekonomi. 

Harapan lain juga disampaikan berkaitan dengan reformasi PBB: dalam menghadapi dominasi dimensi ekonomi. PBB diharapkan menjadi “keluarga bangsa-bangsa” yang bekerja untuk kesejahteraan umum, pengentasan kemiskinan dan perlindungan hak-hak manusia. 

πŸ…‘︎𝖺𝖻 VI: dialog dan persahabatan.

Hidup merupakan “seni perjumpaan” dengan setiap orang, bahkan dengan orang-orang di pinggiran dunia dan dengan bangsa-bangsa asli, karena “masing-masing dari kita bisa belajar sesuatu dari yang lain. Tak seorangpun tidak berguna dan tak seorangpun bisa disingkirkan”.  Paus memberi catatan khusus tentang mukjizat “kebaikan hati”, suatu sikap untuk dipulihkan kembali karena merupakan bintang “yang bersinar di tengah-tengah kegelapan” dan “membebaskan kita dari kekejian…kecemasan…keramaian yang gila-gilaan” yang menonjol di era sekarang ini.    

πŸ…‘︎𝖺𝖻 VII: perjumpaan yang dibarui.

Dalam bab ini direfleksikan tentang nilai dan promosi tentang perdamaian.  Paus menggarisbawahi bahwa perdamaian berkaitan dengan kebenaran, keadilan dan belas kasih. Perdamaian adalah “seni” yang melibatkan setiap orang dan masing-masing harus melakukan bagiannya masing-masing dalam “tugas tanpa akhir”.  Pengampunan terkait dengan perdamaian: kita harus mencintasi setiap orang, tanpa kecuali, namun mencintai seorang penindas berarti membantu dia untuk berubah dan tidak membiarkan dia terus menindas sesamanya. 

Bagian dari bab ini berbicara khusus tentang perang, sebagai perwujudan dari “penolakan semua hak”, “kegagalan politik dan kemanusiaan”, dan “kekalahan yang memedihkan di hadapan kekuatan-kekuatan kejahatan”.  Penghapusan senjata nuklir adalah “perintah moral dan kemanusiaan”. 

Paus juga menegaskan dengan jelas sikapnya terhadap hukuman mati: tidak bisa diterima dan harus dihapuskan di seluruh dunia.  Bahkan seorang pembunuh tidak kehilangan martabat pribadinya, “dan Allah sendiri berjanji menjamin ini”.  Harus ditekankan perlunya menghormati “kesucian hidup” di mana sekarang “beberapa bagian dari keluarga manusia kita, nampaknya, bisa dengan mudah dikorbankan”, seperti bayi yang belum lahir, orang miskin, orang cacat dan orang-orang lanjut usia. 

πŸ…‘︎𝖺𝖻 VIII: Agama dan persaudaraan

Dalam bab ini ditekankan bahwa agama-agama itu melayani persaudaraan di dunia kita dan bahwa terorisme bukan disebabkan oleh agama namun oleh penafsiran salah terhadap teks-teks agama, seperti halnya “kebijakan-kebijakan yang terkait dengan kelaparan, kemiskinan, ketidakadilan, penindasan”.  Perdamaian di antara agama-agama adalah mungkin dan oleh karena itu perlulah menjamin kebebasan beragama, hak asasi dasar manusia bagi semua umat beriman.

Ensiklik secara khusus merefleksikan tentang Gereja: Gereja tidak “membatasi misinya pada ranah privat”. Sementara tidak mengikatkan diri dalam politik, namun Gereja tidak meninggalkan dimensi politik dari hidupnya sendiri, perhatian kepada kesejahteraan umum dan peduli pada perkembangan manusiawi yang integral, sesuai dengan prinsip-prinsip Injil. 

Pada akhirnya, Paus Fransiskus mengutip “Dokumen tentang Persaudaraan Manusiawi bagi Kedamaian Dunia dan Hidup Bersama”, yang ditanda tangani 4 Februari 2019 di Abu Dhabi: dari tonggak dasar dialog antar agama, Bapa Paus kembali menyerukan bahwa, atas naman persaudaraan manusiawi, dialog diambil sebagai suatu jalan, kerjasama bersama sebagai perintah, dan pemahaman satu sama lain sebagai metode dan ukuran. (VM)


π‘«π’π’Œπ’–π’Žπ’†π’ π’…π’‚π’π’‚π’Ž π’ƒπ’†π’“π’ƒπ’‚π’ˆπ’‚π’Š 𝒃𝒂𝒉𝒂𝒔𝒂 π’ƒπ’Šπ’”π’‚ π’…π’Š π‘‘π‘œπ‘€π‘›π‘™π‘œπ‘Žπ‘‘ π‘π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘™π‘–π‘›π‘˜πŸ‘‰Κ°α΅—α΅—α΅–://Κ·Κ·Κ·.α΅›α΅ƒα΅—β±αΆœα΅ƒβΏ.ᡛᡃ/αΆœα΅’βΏα΅—α΅‰βΏα΅—Λ’/ᡖᡃᡖᡃ-αΆ Κ³α΅ƒβΏαΆœα΅‰Λ’αΆœα΅’/ᡉⁿ/α΅‰βΏαΆœΚΈαΆœΛ‘β±αΆœα΅ƒΛ‘Λ’/α΅ˆα΅’αΆœα΅˜α΅α΅‰βΏα΅—Λ’/ᡖᡃᡖᡃ-αΆ Κ³α΅ƒβΏαΆœα΅‰Λ’αΆœα΅’-20201003_α΅‰βΏαΆœβ±αΆœΛ‘β±αΆœα΅ƒ-ᢠʳᡃᡗᡉˑˑⁱ-α΅—α΅˜α΅—α΅—β±.ʰᡗᡐ

Tᡉʳʲᡉᡐᡃʰᡃⁿ α΅ˆα΅ƒΛ‘α΅ƒα΅ ᡇᡃʰᡃ˒ᡃ β±βΏα΅ˆα΅’βΏα΅‰Λ’β±α΅ƒ Λ’α΅‰α΅ˆα΅ƒβΏα΅ ᡈⁱ ᡏᡉʳʲᡃᡏᡃⁿ ᡒˑᡉʰ α—ͺᡒᡏᡖᡉⁿ Kα—―I.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gereja Katolik~ nikah Dua Kali?

“Bolehkah Dilakukan Peneguhan Ganda Perkawinan?” Seorang pemuda Katolik menjalin relasi kasih dengan seorang gadis dari  Gereja Protestan. Mereka berdua sebenarnya sudah memutuskan untuk menikah secara Katolik dan pacarnya itu bersedia akan ikut suaminya pindah ke Katolik. Tapi dalam perjalanan, keinginan dan niat mereka berdua ini ternyata tidak didukung oleh keluarga sang gadis. Pihak keluarga wanita bersikukuh supaya pihak laki-laki yang mengalah dan mengikuti wanitanya. Mereka berdua lalu berdiskusi lagi dan membuat kesepakatan baru, yaitu: mereka akan berencana menikah dua kali. Rencana mereka, mereka akan menikah dulu di Gereja Protestan supaya orang tua wanita ini jangan marah, lalu setelah itu baru mereka diam-diam menikah lagi di Gereja Katolik. Apakah diperbolehkan ada peneguhan ganda dalam perkawinan? Apakah tidak akan menjadi masalah ke depannya dari calon keluarga baru tersebut kalau dari awal mereka membangun keluarga mereka dengan kebohongan? Dalam Kitab Hukum Kanoni...

Filsafat: Sebuah Perjalanan Intelektual

Filsafat adalah ilmu yang mempelajari esensi kebenaran, pengetahuan, kehidupan, dan keberadaan.  Filsafat juga dapat diartikan sebagai pandangan kritis terhadap segala sesuatu.  Menurut KBBI, filsafat/filosofi adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai inti segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya.  Kata "filsafat" berasal dari bahasa Yunani philosophia, gabungan dari philos (cinta, kecintaan) dan sophos (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan).  Dengan demikian, filsafat berarti kecintaan akan kebijaksanaan. Filsafat telah berkembang melalui berbagai zaman, dan setiap zaman memiliki ciri khasnya sendiri. Pengertian Filsafat Menurut Para Ahli 1. Aristoteles:  Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu secara umum dan universal.  Filsafat bertujuan untuk mencari kebenaran tentang segala sesuatu dan memahami hakikat realitas. 2. Plato:  Filsafat adalah upaya untuk mencapai pengetahuan yang benar dan abadi.  Filsafat merupa...

Gereja Katolik Membolehkan Menikah Lagi Setelah Cerai Sipil?

“BOLEHKAH MENIKAH LAGI SETELAH CERAI SIPIL?”   Kisah nyata seorang pria Katolik menikah melalui dispensasi 17 tahun lalu dengan seorang wanita Kristen Protestan. Sejak tahun ke-10 hubungan perkawinan mereka renggang. Bahkan mereka sudah tidak lagi melakukan hubungan seks meskipun tinggal serumah. Kemudian mereka memutuskan untuk bercerai secara sipil tahun 2016. Putri semata wayang mereka oleh pengadilan diputuskan untuk ikut dengan sang pria. Tahun 2017  sang mantan istri  menikah lagi dengan pria selingkuhannya semasa mereka masih terikat perkawinan secara hukum. Kini mereka juga sudah dikaruniai anak. Dari kisah ini apakah sang pria dapat memproses pembatalan pernikahan? Apakah ia masih boleh menerima komuni? Jika ia bertemu dengan wanita Katolik kemudian menikah dengannya secara Katolik, apakah pasangannya juga terkena sanksi tidak boleh menerima komuni juga? Dalam Injil Matius perihal perceraian ditegaskan Yesus ketika orang-orang Farisi mempertanyakannya. Tuhan Yesu...