Langsung ke konten utama

Postingan

Sebuah Teodise: “Korona dan adanya Allah”! (Telaah Filsafat Ketuhanan)

     Dunia saat ini berada dalam situasi duka. Wabah pandemi covid-19 membuat semua orang tinggal dalam ketakutan. Wabah ini tidak memandang suku, ras, agama, atau golongan sosial. Ketika wabah ini pertama kali menyerang Wuhan, banyak ungkapan belasungkawa membanjiri media. Gaungan frasa pray for Wuhan terdengar di setiap sudut kota pun negara. Namun hari ini bukanlah persoalan Wuhan yang dibicarakan, namun persoalan antara saya, kamu, mereka, dia, dan engkau. Persoalan wabah Covid 19 “menyeret” dunia pada spasi reflektif yang mendalam.    Banyak spekulasi yang seolah-olah “memekakkan” telinga yang mendengar, “membutakan” mata yang membaca, dan “mengkakukan” bibir yang mengucap. Namun akankah semua spekulasi tersebut memiliki kebenaran atau sekadar pseudo-veritas. Apakah kebenaran spekulasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan dalam tataran episteme? Apakah benar, bahwa wabah ini adalah spasi bagi manusia untuk kembali ke rumah, kembali menyegarkan bumi dengan...

Ghosting

 𝙳𝚒𝚔𝚜𝚒 𝚕𝚊𝚐𝚒 𝚗𝚐𝚎𝚝𝚛𝚎𝚗𝚍✍️ 𝚙𝚊𝚜𝚊𝚕 𝚋𝚎𝚛𝚎𝚍𝚊𝚛 𝚒𝚜𝚞 𝚜𝚎𝚙𝚞𝚝𝚊𝚛 "𝑅𝑒𝑙𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛𝑠ℎ𝑖𝑝" 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚕𝚒𝚋𝚊𝚝𝚔𝚊𝚗 𝚊𝚗𝚊𝚔 𝚗𝚘.𝚠𝚊𝚑𝚒𝚍 𝚍𝚒 𝚁𝙸. 𝙼𝚞𝚗𝚌𝚞𝚕 𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚛𝚎𝚏𝚕𝚎𝚔𝚝𝚒𝚏 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚜𝚎𝚘𝚛𝚐 𝚝𝚎𝚖𝚊𝚗, "𝚊𝚔𝚊𝚗𝚔𝚊𝚑 𝑮𝒉𝒐𝒔𝒕𝒊𝒏𝒈 𝚒𝚝𝚞 𝚖𝚎𝚗𝚓𝚊𝚍𝚒 𝑳𝒐𝒄𝒖𝒔 𝑻𝒉𝒆𝒐𝒍𝒐𝒈𝒊𝒄𝒖𝒔 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚖𝚊𝚜𝚊 𝚔𝚒𝚗𝚒"  𝚜𝚊𝚢𝚊 𝚢𝚊𝚔𝚒𝚗 𝚙𝚎𝚛𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊𝚊𝚗 𝚒𝚝𝚞 𝚕𝚊𝚑𝚒𝚛 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚔𝚎𝚙𝚛𝚒𝚑𝚊𝚝𝚒𝚗𝚗𝚢𝚊 𝚝𝚎𝚛𝚑𝚊𝚍𝚊𝚙 𝚒𝚜𝚞-𝚒𝚜𝚞  𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚞𝚍𝚊. 𝙹𝚊𝚠𝚊𝚋𝚔𝚞 "𝚑𝚊𝚛𝚞𝚜𝚗𝚢𝚊 𝚒𝚝𝚞 𝚙𝚞𝚗 𝚖𝚗𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚕𝚘𝚌𝚞𝚜 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚞𝚝𝚔 𝚋𝚎𝚛𝚝𝚎𝚘𝚕𝚘𝚐𝚒".  𝙼𝚎𝚛𝚎𝚗𝚞𝚗𝚐 𝚖𝚊𝚔𝚗𝚊 𝚍𝚒𝚔𝚜𝚒 𝚒𝚗𝚒, 𝚜𝚊𝚢𝚊 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚢𝚊𝚗𝚐𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚒𝚝𝚞𝚊𝚜𝚒 𝚋𝚊𝚝𝚑𝚒𝚗 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐2 𝚢𝚐 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚗𝚐𝚊𝚕𝚊𝚖𝚒𝚗 𝚑𝚊𝚕 𝚜𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚓𝚊 𝚜𝚘𝚊𝚕 𝑟𝑒𝑙𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛𝑠ℎ𝑖𝑝 𝚙𝚊𝚜𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗, 𝚋𝚒𝚜𝚊 𝚓𝚊𝚍𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚞𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚒𝚋𝚊-𝚝𝚒𝚋𝚊 𝚍𝚒-𝚐𝚑𝚘𝚜𝚝𝚒𝚗𝚐 ...

Kelirumologi Kristen dan Katolik

          Kelirumologi adalah istilah humoris untuk merujuk kepada beberapa kekeliruan logika dalam pembentukan frasa dan kata yang sudah terlalu sering dipakai pengguna Bahasa Indonesia sehingga dianggap benar. Dari judul artikel ini, tentulah yang akan di bahas adalah kekeliruan logika dalam pembentukan istilah “Kristen dan Katolik”. Banyak umat Katolik di Indonesia terjebak pada istilah yang salah kaprah yaitu "Kristen dan Katolik" di mana umat Katolik berpikir bahwa Katolik bukanlah Kristen.  Ada pula yang ditanya, "Anda seorang Kristen?"; tetapi umat Katolik tersebut malah menjawab "Bukan, saya seorang Katolik". Salah kaprah di Indonesia termasuk dalam pembuatan KTP menyebabkan istilah yang tidak tepat "Kristen dan Katolik" mendarah-daging di mana pemahamannya nama “Kristen” itu merujuk kepada Protestan sementara “Katolik” kepada Katolik. Sayangnya, karena kesalahkaprahan yang sudah mendalam ini, sulit sekali untuk mengoreksinya secara luas....

Menyelamatkan Liberalisme dari Diri Sendiri

  ᑭada 03 Oktober 2020, Paus Fransiskus menandatangani dokumen Fratelli tutti di Asisi. Damian Howard menulis, 'Ensiklik ketiga Paus Fransiskus merupakan perluasan bertahap tradisi Pengajaran Sosial Gereja yang dengan hati-hati meletakkan logikanya dan dengan lembut meradikalisasi beberapa implikasinya'. Lima tahun lalu Laudato Si’ secara profetik menempatkan panggung pusat krisis ekologi bagi Gereja dan dunia. Agenda yang dipetakan kini memunculkan banyak kosa kata baru: Brexit, MAGA, Covid-19, BLM, berita palsu, lockdown, QAnon. Rasanya, dunia membutuhkan akal sehat Katolik, dan itulah tepatnya yang disediakan Fratelli tutti. Tampaknya politik saat ini berfungsi dalam dua visi: bertahan dengan proyek ekonomi neo-liberal dengan suksesi krisis ekonomi, rezim pengetatan dan globalisasi teknokratis yang dingin; atau untuk melawan semua dengan mempromosikan populisme nasional pemicu propaganda tetapi berkolusi dengan kepentingan finansial yang korup. Rasanya termin 'Liberal...

Fratelli Tutti

  🇵 ada tanggal, 3 Oktober 2020 Paus Fransiskus menandatangi Ensiklik “Fratelli Tutti” di Assisi, tempat kelahiran dan hidup St. Fransiskus dari Assisi. Hari berikutnya, 4 Oktober, ensiklik tersebut dipublikasikan. Berikut ini merupakan saduran dari ringkasan yang dibuat oleh Isabella Piro dalam ᗯᵉᵇˢⁱᵗᵉ ʷʷʷ.ᵛᵃᵗⁱᶜᵃⁿⁿᵉʷˢ.ᵛᵃ Ensiklik ini bertujuan untuk mendorong keinginan akan persaudaraan dan persahabatan sosial. Pandemi Covid-19 menjadi latar belakang ensiklik ini. Kedaruratan kesehatan global telah membantu menunjukkan bahwa “tak seorangpun bisa menghadapi hidup sendirian” dan bahwa waktunya sungguh-sungguh telah tiba akan “mimpi sebagai satu keluarga umat manusia” di mana kita adalah “saudara dan saudari semua”.  🅑︎ 𝖺𝖻 I: Awan-awan gelap yang meliputi dunia. Dalam bab ini direfleksikan banyak penyimpangan jaman ini: manipulasi dan deformasi konsep-konsep demokrasi, kebebasan, keadilan; hilangnya makna komunitas sosial dan sejarah; cinta diri dan ketidakpedulian terhadap ...

D oa Kepada Beato Carlo Acutis