Langsung ke konten utama

Postingan

Memahami Dunia Melalui Lensa Stoisisme: Sebuah Refleksi atas Kutipan Marcus Aurelius dan Karya Pramoedya

  Kutipan Marcus Aurelius, "Segala yang kita dengar adalah opini, bukan fakta. Segala yang kita lihat adalah perspektif, bukan kebenaran,"  sangat relevan dengan fenomena post-trust yang kita alami saat ini.  Post-trust  merujuk pada era di mana kepercayaan terhadap institusi,  media,  dan bahkan individu semakin terkikis.  Ketidakpercayaan ini muncul karena  kelimpahan informasi yang tidak terverifikasi,  manipulasi media,  dan  kejadian-kejadian yang menggoyahkan kepercayaan publik. Dalam konteks ini,  ajaran Stoisisme yang menekankan pentingnya  kritis terhadap informasi dan  mencari kebenaran  menjadi sangat penting.  Kita tidak dapat lagi menerima informasi begitu saja,  tanpa mempertanyakan sumbernya atau konteksnya.  Kita harus  melakukan verifikasi,  membandingkan berbagai sumber,  dan  menganalisis informasi dengan  kacamata kritis. Contoh sederhana dalam kehidupan...

Kasih yang Memulihkan dan Menyelamatkan

Ada buah terlarang di taman,  Hawa tergoda, Adam pun ikut.  Kejatuhan manusia, tanda zaman,  Kasih sejati, mampu pulihkan sakit. Hari Valentine, yang dirayakan setiap 14 Februari, identik dengan pemberian hadiah seperti cokelat dan bunga.  Di balik simbol-simbol ini, mari kita merenungkan makna kasih yang sejati. Bacaan pertama hari ini mengingatkan kita akan kisah kejatuhan manusia pertama di Taman Eden karena ketidaktaatan kepada Allah. Ular membujuk Hawa, dan akibatnya, manusia kehilangan kedekatan dengan Sang Pencipta, menderita, dan hubungan antarmanusia retak. Ketidakpercayaan dan ketidaktaatan menjadi akar perpecahan dan penderitaan.  Kisah ini menyoroti kerapuhan hubungan manusia dan konsekuensi dari pilihan yang salah.  Lebih dari itu, tindakan memetik buah terlarang tindakan yang tampak kecil menimbulkan kerusakan besar yang berdampak hingga kini.  Apakah tindakan kita selama ini selalu membawa keselamatan atau justru kerusakan?  Pertany...

Konsistensi dalam Panggilan: Menjalankan Keputusan yang Menyelamatkan

        Gambar: https://blogger.googleuser Bayangkan sebuah bangunan megah yang berdiri kokoh.  Kekuatannya terletak pada pondasi yang kuat dan kokoh. Demikian pula kehidupan spiritual kita: keputusan-keputusan yang kita ambil harus didasari iman yang kuat dan konsisten.  Sebab Konsistensi adalah tanda kedewasaan iman. Jika inkonsistensi terhadap hal-hal prinsipil, itu berarti Kedewasaanmu perlu diuji. Diuji oleh siapa? Oleh hati nuranimu sendiri, oleh prinsip-prinsip moralitas yang dipegang, oleh orang-orang yang memiliki pandangan luas, oleh referensi-referensi bacaan berkualitas.  Bacaan suci hari ini, Yesaya 6, 1 Korintus 15, dan Lukas 5 mengarahkan kita pada perjalanan spiritual yang mendalam, menekankan pentingnya mencapai kedalaman spiritual, bertindak konsisten, dan mempertimbangkan dampak perbuatan kita. Sikap taat pada keputusan pribadi dan aturan yang menyelamatkan sangat penting dan berdampak positif. "Bertolaklah ke tempat yang dalam" (Luk...

Ahli Agama: Kesenjangan antara Kata dan Perilaku

Jangan menjadi batu sandungan".  Paulus menasihati jemaat agar tidak membuat orang lain jatuh ke dalam dosa, mundur, atau menimbulkan syak di hati orang lain [ I Korintus 8:1-13] ~ Perjalanan spiritual, dengan segala kompleksitas dan nuansanya, menuntut lebih dari sekadar mendalami kitab suci dan ajaran.  Seorang ahli agama, selain memiliki pemahaman yang mendalam, juga dituntut untuk menghadirkan nilai-nilai luhur tersebut kepada dunia luar. Di sinilah keseimbangan menjadi kunci. Seorang ahli agama idealnya memiliki dua sisi yang saling melengkapi:  kedalaman spiritual dan kecakapan dalam berinteraksi dengan masyarakat.  Ia bukan sekadar pengajar teori, tetapi juga pembimbing yang mampu mengaplikasikan ajaran dalam kehidupan sehari-hari.  Sayangnya, tak jarang kita menjumpai sosok yang terjebak dalam satu sisi saja, dan akhirnya menjadi "batu sandungan" bagi orang lain. Batu sandungan dalam konteks ini bukan hanya benda fisik yang menghalangi perjalanan, tapi j...

Perempuan Liar ~ Perempuan Naif

 "Perempuan Liar ~ perempuan Naif"           Sejatinya perempuan adalah makhluk liar namun dipaksa jinak hingga menjadi naif. Perempuan itu kini berjuang untuk keluar dari kerangkeng sempit dan ingin hidup bebas dan liar.  Jika jujur, masih sangat banyak perempuan hari ini yang ingin berteriak, yang ingin suaranya didengarkan, yang menuntut keadilan karena diperlakukan tidak adil. (baca: konteks perempuan dalam kerangkeng budaya dan standar patriarki). Baik sebagai korban KDRT, korban HT atau sedang dalam ๐‘ก๐‘œ๐‘ฅ๐‘–๐‘๐‘–๐‘ก๐‘ฆ ๐‘Ÿ๐‘’๐‘™๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘›๐‘ โ„Ž๐‘–๐‘, ๐‘๐‘œ๐‘‘๐‘ฆ ๐‘ โ„Ž๐‘Ž๐‘š๐‘–๐‘›๐‘”, ๐‘’๐‘๐‘ก...).  Mereka sudah bersuara tetapi suaranya ibarat nada getar ๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘š๐‘ฆ dipagi hari jika sudah sangat mengganggu maka sengaja dibekap atau disenyapkan, alih-alih bangun lalu melakukan sesuatu. Konstruksi sosial justru men๐‘ ๐‘’๐‘ก๐‘ก๐‘–๐‘›๐‘” dan mengkondisikan perempuan untuk tetap dalam ๐‘š๐‘œ๐‘‘๐‘’ ๐‘ข๐‘›๐‘š๐‘ข๐‘ก๐‘’. Jika bersuara, perempuan akan terlihat aneh seperti manusia ser...

Sebuah Teodise: “Korona dan adanya Allah”! (Telaah Filsafat Ketuhanan)

     Dunia saat ini berada dalam situasi duka. Wabah pandemi covid-19 membuat semua orang tinggal dalam ketakutan. Wabah ini tidak memandang suku, ras, agama, atau golongan sosial. Ketika wabah ini pertama kali menyerang Wuhan, banyak ungkapan belasungkawa membanjiri media. Gaungan frasa pray for Wuhan terdengar di setiap sudut kota pun negara. Namun hari ini bukanlah persoalan Wuhan yang dibicarakan, namun persoalan antara saya, kamu, mereka, dia, dan engkau. Persoalan wabah Covid 19 “menyeret” dunia pada spasi reflektif yang mendalam.    Banyak spekulasi yang seolah-olah “memekakkan” telinga yang mendengar, “membutakan” mata yang membaca, dan “mengkakukan” bibir yang mengucap. Namun akankah semua spekulasi tersebut memiliki kebenaran atau sekadar pseudo-veritas. Apakah kebenaran spekulasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan dalam tataran episteme? Apakah benar, bahwa wabah ini adalah spasi bagi manusia untuk kembali ke rumah, kembali menyegarkan bumi dengan...

Ghosting

 ๐™ณ๐š’๐š”๐šœ๐š’ ๐š•๐šŠ๐š๐š’ ๐š—๐š๐šŽ๐š๐š›๐šŽ๐š—๐š✍️ ๐š™๐šŠ๐šœ๐šŠ๐š• ๐š‹๐šŽ๐š›๐šŽ๐š๐šŠ๐š› ๐š’๐šœ๐šž ๐šœ๐šŽ๐š™๐šž๐š๐šŠ๐š› "๐‘…๐‘’๐‘™๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘›๐‘ โ„Ž๐‘–๐‘" ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š–๐šŽ๐š•๐š’๐š‹๐šŠ๐š๐š”๐šŠ๐š— ๐šŠ๐š—๐šŠ๐š” ๐š—๐š˜.๐š ๐šŠ๐š‘๐š’๐š ๐š๐š’ ๐š๐™ธ. ๐™ผ๐šž๐š—๐šŒ๐šž๐š• ๐š๐šŠ๐š—๐šข๐šŠ ๐š›๐šŽ๐š๐š•๐šŽ๐š”๐š๐š’๐š ๐š๐šŠ๐š›๐š’ ๐šœ๐šŽ๐š˜๐š›๐š ๐š๐šŽ๐š–๐šŠ๐š—, "๐šŠ๐š”๐šŠ๐š—๐š”๐šŠ๐š‘ ๐‘ฎ๐’‰๐’๐’”๐’•๐’Š๐’๐’ˆ ๐š’๐š๐šž ๐š–๐šŽ๐š—๐š“๐šŠ๐š๐š’ ๐‘ณ๐’๐’„๐’–๐’” ๐‘ป๐’‰๐’†๐’๐’๐’๐’ˆ๐’Š๐’„๐’–๐’” ๐š”๐š’๐š๐šŠ ๐š–๐šŠ๐šœ๐šŠ ๐š”๐š’๐š—๐š’"  ๐šœ๐šŠ๐šข๐šŠ ๐šข๐šŠ๐š”๐š’๐š— ๐š™๐šŽ๐š›๐š๐šŠ๐š—๐šข๐šŠ๐šŠ๐š— ๐š’๐š๐šž ๐š•๐šŠ๐š‘๐š’๐š› ๐š๐šŠ๐š›๐š’ ๐š”๐šŽ๐š™๐š›๐š’๐š‘๐šŠ๐š๐š’๐š—๐š—๐šข๐šŠ ๐š๐šŽ๐š›๐š‘๐šŠ๐š๐šŠ๐š™ ๐š’๐šœ๐šž-๐š’๐šœ๐šž  ๐š˜๐š›๐šŠ๐š—๐š ๐š–๐šž๐š๐šŠ. ๐™น๐šŠ๐š ๐šŠ๐š‹๐š”๐šž "๐š‘๐šŠ๐š›๐šž๐šœ๐š—๐šข๐šŠ ๐š’๐š๐šž ๐š™๐šž๐š— ๐š–๐š—๐š“๐šŠ๐š๐š’ ๐š•๐š˜๐šŒ๐šž๐šœ ๐š”๐š’๐š๐šŠ ๐šž๐š๐š” ๐š‹๐šŽ๐š›๐š๐šŽ๐š˜๐š•๐š˜๐š๐š’".  ๐™ผ๐šŽ๐š›๐šŽ๐š—๐šž๐š—๐š ๐š–๐šŠ๐š”๐š—๐šŠ ๐š๐š’๐š”๐šœ๐š’ ๐š’๐š—๐š’, ๐šœ๐šŠ๐šข๐šŠ ๐š–๐šŽ๐š–๐š‹๐šŠ๐šข๐šŠ๐š—๐š๐š”๐šŠ๐š— ๐šœ๐š’๐š๐šž๐šŠ๐šœ๐š’ ๐š‹๐šŠ๐š๐š‘๐š’๐š— ๐š˜๐š›๐šŠ๐š—๐š2 ๐šข๐š ๐š™๐šŽ๐š›๐š—๐šŠ๐š‘ ๐š—๐š๐šŠ๐š•๐šŠ๐š–๐š’๐š— ๐š‘๐šŠ๐š• ๐šœ๐šŽ๐š›๐šž๐š™๐šŠ ๐š‹๐šž๐š”๐šŠ๐š— ๐šœ๐šŠ๐š“๐šŠ ๐šœ๐š˜๐šŠ๐š• ๐‘Ÿ๐‘’๐‘™๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘›๐‘ โ„Ž๐‘–๐‘ ๐š™๐šŠ๐šœ๐šŠ๐š—๐š๐šŠ๐š—, ๐š‹๐š’๐šœ๐šŠ ๐š“๐šŠ๐š๐š’๐š”๐šŠ๐š— ๐š˜๐š›๐šŠ๐š—๐š ๐š๐šž๐šŠ ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š๐š’๐š‹๐šŠ-๐š๐š’๐š‹๐šŠ ๐š๐š’-๐š๐š‘๐š˜๐šœ๐š๐š’๐š—๐š ...