Langsung ke konten utama

π™Έπš—πšπšŠπš•πš’πš‹πš’πš•πš’πšπšŠπšœ π™³πšŠπš•πšŠπš– π™ΆπšŽπš›πšŽπš“πšŠ π™ΊπšŠπšπš˜πš•πš’πš”





π™ΌπšŽπš—πšπšŠπš™πšŠ dalam Gereja Katolik ada ajaran tentang  Infallibilitas Paus?

Sebenarnya yang memiliki Infallibilitas bukannya hanya Paus, tetapi juga Konsili, dan sidang para Uskup sedunia bersama Paus.

Lalu apa itu Infallibilitas?

Sebelum membahas tentang hal ini, kita pahami bersama dahulu tentang Tugas Gereja, yaitu: Mengajar, Menguduskan dan Memimpin! 

Nah, “Infallibiltas” masuk ke dalam Tugas Mengajar Gereja. Infallibilitas adalah salah satu ciri dalam Gereja, yakni Dalam Wewenang Mengajar, Gereja terlindungi dari kesesatan.

Gereja Katolik tidak sesat dalam hal apa?

Gereja Katolik (yang dipimpin oleh Paus dan para uskup) tidak dapat salah mengajarkan dan menginterpretasi Alkitab.

Dalam Gereja Katolik yang menjadi sumber iman dan pewartaan Gereja adalah Kitab Suci. Gereja-lah yang bertugas mewartakan dan menafsirkannya.  Inilah yang dimaksud dengan “Magisterium Gereja”.
Dalam Dei Verbum dan Kateksimus Gereja Katolik dikatakan begini, "Adapun tugas menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu, dipercayakan hanya kepada Wewenang Mengajar Gereja yang hidup, yang kewibawaannya dilaksanakan atas nama Yesus Kristus" (DV 10) (KGK 85).

Apakah wewenang mengajar itu berada di atas Kitab Suci?

Wewenang Mengajar itu tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, yakni dengan  hanya mengajarkan apa yang diturunkan saja, sejauh Sabda itu, karena perintah ilahi dan dengan bantuan Roh Kudus, didengarkannya dengan khidmat, dipelihara dengan suci, dan diterangkannya dengan-setia; dan itu semua diambilnya dari satu perbendaharaan iman itu, yang diajukannya untuk diimani sebagai hal-hal yang diwahyukan oleh Allah" (DV 10) (KGK 86).

Lalu, kuasa infalibilitas ini diberikan oleh siapa?

Tentu oleh Tuhan Yesus sendiri yang memberikan kuasa infalibilitas ini kepada para pemimpin Gereja yang disebut sebagai Magisterium. Magisterium adalah Wewenang Mengajar Gereja, yang terdiri dari Bapa Paus (sebagai pengganti Rasul Petrus) dan para uskup (sebagai pengganti para rasul) dalam persekutuan dengannya.  

Apakah kuasa infalibilitas ini berlaku untuk semua hal ?

Jawabannya Tidak! Artinya “tidak dapat sesat atau infalibilitas” yang diberikan oleh Yesus, itu terbatas dalam hal pengajaran mengenai iman dan moral. Maka kita ketahui bahwa sifat infalibilitas ini tidak berlaku dalam segala hal, namun hanya pada saat mereka mengajar secara definitif tentang iman dan moral, seperti yang tercantum dalam Dogma dan doktrin resmi Gereja Katolik.

Mengapa karisma infalibilitas ini perlu dan penting?
Karena justru dengan karisma inilah Tuhan Yesus melindungi Gereja yang didirikan-Nya dari perpecahan. Tanpa kuasa wewenang mengajar dari Magisterium, maka seseorang dapat mengatakan pemahamannya yang paling benar, dan dengan demikian memisahkan diri dari kesatuan Gereja, seperti yang sudah terjadi berkali-kali dalam sejarah Gereja. Kuasa infalibilitas dari Yesus kepada Petrus dan para penerusnya diberikan  oleh Yesus, pada saat Ia mengatakan kepada Petrus sesaat setelah Ia mengatakan bahwa akan mendirikan Gereja-Nya atas Petrus (Mat 16:18). Yesus berkata, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:19).

Apa maksudnya Perkataan Yesus itu?

Yesus memberikan kuasa kepada Petrus untuk mengajarkan tentang iman dan moral, sebagai ketentuan yang ‘mengikat’ manusia di dunia dan kelak diperhitungkan di sorga. Tanpa kesatuan pemahaman tentang iman dan moral, maka yang terjadi adalah relativisme, dan perpecahan gereja, dan ini sudah terbukti sendiri dengan adanya banyak sekali denominasi Protestan (sekitar 28.000), yang dimulai umumnya dengan ketidaksesuaian pemahaman dalam hal doktrin (baik iman maupun moral) antara para pemimpin gereja Protestan, sehingga yang tidak setuju memisahkan diri.

Karenanya, karisma infalibilitas itu sangat perlu dan penting, jika tidak maka bisa ada banyak gereja-gereja baru lagi dalam Gereja Katolik.

Yesus, dalam kapasitas-Nya sebagai Allah yang Mahatahu, sudah mengetahui akan kemungkinan ini pada masa Ia hidup di dunia sebagai manusia. Makanya, Yesus hanya mendirikan SATU Gereja, dan Ia berjanji bahwa Gereja-Nya tidak akan dikuasai oleh maut (lih. Mat 16:18), artinya tidak akan disesatkan oleh Iblis hingga binasa.

Itulah keterikatan hubungan Kitab Suci dengan Gereja. Hal itu sebagai alasan, bahwa penting bagi  orang Katolik untuk memahami Kitab Suci sesuai dengan pengajaran para rasul, agar dapat sungguh melaksanakan apa yang menjadi ajaran Kristus. Dan tidak seenaknya menafsirkan sendiri sesuka hati lalu mulai memberontak dan lalu membentuk Gereja sendiri.

Karena keinginan Yesus untuk mempertahankan kesatuan Gereja-Nya, maka sudah menjadi konsekuensi bahwa Ia memberikan kuasa tidak dapat sesat/ infalibilitas kepada pemimpinnya (yaitu Paus) untuk mengajarkan hal iman dan moral. Maka infalibilitas hanya berlaku pada: 
1) Ajaran yang  diajarkan Paus secara “ex-cathedra” (artinya dari kursi Petrus/atas nama Rasul Petrus), maupun dalam pernyataan ajarannya yang lain, yang otentik dalam kapasitasnya sebagai Imam Agung di Roma; 
2) Ajaran Paus itu menyangkut pengajaran definitif tentang iman dan moral, 
3) Ajaran tersebut berlaku untuk Gereja secara universal; 
4) Namun demikian, jika para uskup dalam persekutuan dengan Paus mengajarkan secara definitif tentang iman dan moral, ajaran mereka pun juga infallible/  tidak dapat sesat. 
Dan keempat hal ini dijabarkan dalam Konsili Vatikan II, menegaskan kembali apa yang telah ditetapkan dalam Konsili di Konstantinopel (869-70), Lyons (1274) dan Florence (1438-45). 

Dan pada saat ketiga syarat di atas terpenuhi, maka pengajaran tersebut dapat dikatakan sebagai pengajaran Magisterium, dan ajarannya termasuk dalam Tradisi Suci.

Tradisi Suci dan Kitab Suci harus dilihat sebagai “deposit of faith“, perbendaharaan iman, dan keduanya tidak terpisahkan, karena bersumber pada sumber yang sama yaitu pengajaran Kristus dan para rasul. Namun, jika ketiga syarat di atas tidak dipenuhi, misalnya Paus mengajar atas nama pribadi, dan bukan tentang iman dan moral, tidak pula menyangkut Gereja universal, maka pengajarannya tidak dapat dikatakan “infallible/ tidak dapat sesat.”

Contoh pengajaran Paus yang tidak dapat dikatakan “infallible/ tidak dapat sesat misal Paus emeritus Paus Benediktus XVI, beliau seorang pianis handal, pandai juga dalam bermain musik. Namun dalam hal musik, ajarannya tetap bisa salah, karena beliau mengajar tidak dalam kapasitas  sebagai Rasul Petrus saat itu, dan hal yang diajarkannya bukan tentang iman dan moral. Yang beliau ajarkan misalnya bagaimana bermain piano yang baik. Itu tidak ada kaitannya dengan iman dan moral, jadi bisa saja salah.

#Katekese
#Infallible

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gereja Katolik~ nikah Dua Kali?

“Bolehkah Dilakukan Peneguhan Ganda Perkawinan?” Seorang pemuda Katolik menjalin relasi kasih dengan seorang gadis dari  Gereja Protestan. Mereka berdua sebenarnya sudah memutuskan untuk menikah secara Katolik dan pacarnya itu bersedia akan ikut suaminya pindah ke Katolik. Tapi dalam perjalanan, keinginan dan niat mereka berdua ini ternyata tidak didukung oleh keluarga sang gadis. Pihak keluarga wanita bersikukuh supaya pihak laki-laki yang mengalah dan mengikuti wanitanya. Mereka berdua lalu berdiskusi lagi dan membuat kesepakatan baru, yaitu: mereka akan berencana menikah dua kali. Rencana mereka, mereka akan menikah dulu di Gereja Protestan supaya orang tua wanita ini jangan marah, lalu setelah itu baru mereka diam-diam menikah lagi di Gereja Katolik. Apakah diperbolehkan ada peneguhan ganda dalam perkawinan? Apakah tidak akan menjadi masalah ke depannya dari calon keluarga baru tersebut kalau dari awal mereka membangun keluarga mereka dengan kebohongan? Dalam Kitab Hukum Kanoni...

Filsafat: Sebuah Perjalanan Intelektual

Filsafat adalah ilmu yang mempelajari esensi kebenaran, pengetahuan, kehidupan, dan keberadaan.  Filsafat juga dapat diartikan sebagai pandangan kritis terhadap segala sesuatu.  Menurut KBBI, filsafat/filosofi adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai inti segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya.  Kata "filsafat" berasal dari bahasa Yunani philosophia, gabungan dari philos (cinta, kecintaan) dan sophos (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan).  Dengan demikian, filsafat berarti kecintaan akan kebijaksanaan. Filsafat telah berkembang melalui berbagai zaman, dan setiap zaman memiliki ciri khasnya sendiri. Pengertian Filsafat Menurut Para Ahli 1. Aristoteles:  Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu secara umum dan universal.  Filsafat bertujuan untuk mencari kebenaran tentang segala sesuatu dan memahami hakikat realitas. 2. Plato:  Filsafat adalah upaya untuk mencapai pengetahuan yang benar dan abadi.  Filsafat merupa...

Gereja Katolik Membolehkan Menikah Lagi Setelah Cerai Sipil?

“BOLEHKAH MENIKAH LAGI SETELAH CERAI SIPIL?”   Kisah nyata seorang pria Katolik menikah melalui dispensasi 17 tahun lalu dengan seorang wanita Kristen Protestan. Sejak tahun ke-10 hubungan perkawinan mereka renggang. Bahkan mereka sudah tidak lagi melakukan hubungan seks meskipun tinggal serumah. Kemudian mereka memutuskan untuk bercerai secara sipil tahun 2016. Putri semata wayang mereka oleh pengadilan diputuskan untuk ikut dengan sang pria. Tahun 2017  sang mantan istri  menikah lagi dengan pria selingkuhannya semasa mereka masih terikat perkawinan secara hukum. Kini mereka juga sudah dikaruniai anak. Dari kisah ini apakah sang pria dapat memproses pembatalan pernikahan? Apakah ia masih boleh menerima komuni? Jika ia bertemu dengan wanita Katolik kemudian menikah dengannya secara Katolik, apakah pasangannya juga terkena sanksi tidak boleh menerima komuni juga? Dalam Injil Matius perihal perceraian ditegaskan Yesus ketika orang-orang Farisi mempertanyakannya. Tuhan Yesu...