“Bagaimana Mungkin Maria Yang Adalah Manusia Biasa Disebut Sebagai Bunda Allah?”
Ada empat dogma tentang Bunda Maria yang diajarkan oleh Gereja Katolik; salah satunya adalah dogma ‘Maria Bunda Allah’. Dogma Maria Bunda Allah ini dirumuskan dalam Konsili Efesus (431), dan dijelaskan kembali pada Konsili Kalsedon (451).
Hal tersebut tidak berarti bahwa Bunda Maria menciptakan Trinitas; dan tidak juga berarti bahwa dia sudah ada sebelum Yesus ada dalam keabadian; melainkan semata-mata berarti bahwa Yesus adalah pribadi yang ilahi, dan Bunda Maria adalah ibu dari pribadi yang ilahi tersebut.
Tidak dipungkiri bahwa cukup sulit untuk memahami tentang dogma-dogma itu.
Tidak sedikit orang gagal paham tentang dogma-dogma tersebut. Ada yang mengira bahwa dogma tersebut merupakan ajaran ‘karangan’ Gereja Katolik, yang tidak mempunyai dasar dari Kitab Suci. Namun demikian, anggapan tersebut tentu saja tidak benar, sebab semua dogma Gereja Katolik, termasuk dogma tentang Bunda Maria, ditetapkan atas dasar ajaran Kitab Suci dan Tradisi Suci, yang telah dihayati oleh Gereja sejak abad-abad awal. Bahwa perumusan dogma tentang Bunda Maria baru dilakukan di abad-abad berikutnya. Itu tidak berarti bahwa dogma tersebut adalah ajaran yang baru.
Kaum Fundamentalis juga selalu beranggapan bahwa frasa ‘Maria Bunda Allah’ itu tidak ditemukan di dalam Kitab Suci. Karenanya, mereka tidak mau menerima sebutan semacam itu sebagai sebuah kebenaran. Tapi di sini mereka lupa, bahwa istilah ‘trinitas’ pun tidak disebutkan secara gamblang di dalam Kitab Suci, tetapi tetap diterima umum sebagai sebuah kebenaran.
Lalu, apa dasar dari Dogma ‘Maria Bunda Allah’?
Dasar dari dogma ‘Maria Bunda Allah' adalah karena Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Bunda Maria adalah Allah, maka Maria disebut Bunda Allah (lih. Luk. 1:43). Logika sederhananya demikian, jika Yesus Kristus adalah sungguh Allah, maka tidak bisa tidak, Maria, ibu-Nya, adalah sungguh Bunda Allah. Jadi, Maria disebut Bunda Allah semata-mata karena Yesus, putranya, yang adalah Allah.
Bahwa banyak orang dari kalangan non-Katolik yang berpandangan bahwa Maria hanyalah ibu dari ‘kemanusiaan’ Yesus, dan karenanya Maria tidak bisa menjadi Bunda Allah. Hal ini perlu ditegaskan bahwa memang bunda Maria tidak memberikan pengaruh apa-apa pada keilahian Yesus, dan memang bukan itu arti dari seorang ibu. Seorang wanita hanya menjadi seorang ibu saat seseorang dengan sifat manusiawinya dikandung dalam rahimnya. Maria mengandung dan melahirkan pribadi ilahi, Tuhan yang berinkarnasi, Yesus Kristus. Karenanya, dia adalah ibu dari pribadi ilahi, atau oleh Gereja disebut ‘Ibu Tuhan’/ Theotokos.
Jika ada yang mempermasalahkan dan mengatakan bahwa Tuhan tidak bisa memiliki ibu karena Dia abadi…
Pernyataan ini sebetulnya akan terbantahkan dengan sendirinya karena sama saja mengatakan bahwa Tuhan tidak bisa mati di kayu salib karena Dia abadi. Padahal, kita tahu bahwa jika Allah mengambil sifat manusia seperti kita, maka, Ia tentu saja bisa dilahirkan dan mati untuk menebus dosa-dosa manusia. Lagipula, penyebutan Maria sebagai Bunda Allah ditujukan untuk membantah para bidat/bidaah yang mengatakan bahwa Yesus hanyalah manusia biasa yang menjadi Putra Allah pada saat pembaptisan atau kebangkitan-Nya. Jadi, menyebut Maria, Bunda Allah, bertujuan untuk memperkuat kepercayaan jemaat Kristen perdana bahwa Yesus sepenuhnya adalah Allah dan sepenuhnya manusia.
.
.
#Maria ~ Theotokos

Komentar
Posting Komentar