π£ππ‘π§π¨ π§ππ₯π§π¨π§π¨π£
Keterkejutan empat orang asing dalam sebuah ruangan dengan pintu tertutup.
Keempatnya tak saling mengenal sebelumnya. Masing-masing mereka merasa tatapan orang lain menggelikan dan menyesakkan dada.
Ini pertemuan tak terduga. Aroma keterasingan menyengat di dalam ruangan, apalagi pintu terkunci.
Joseph Garcin, Petugas valet, Inez Serrano, Estelle Rigault. Inilah tokoh-tokoh yang terlempar mampat ke dalam ruangan pintu tertutup.
Inez Serrano mengira ia akan mendapatkan penyiksaan hebat dengan alat-alat represif fisik menakutkan. Ia salah. Tak ada alat penyiksa di sana.
Justru perdebatan dan pertukaran kata-kata berputar-putar di dalam ruangan. Mungkin juga droplet percikan ludah bertebaran disana. Irama ketakutan, plus sedikit aura kebencian satu sama lain.
Perdebatan itu lebih menggairahkan adrenalin membangkitkan amarah sekaligus ketakutan satu sama lain. Kata-kata melampaui alat-alat penyiksa fisik. Kata-kata, roh pembunuh yang menakutkan. Dan ia tak terlihat.
Sesekali terdengar pintu digedor, seseorang masuk. Kemudian, cekrekkk bunyi Pintu dibuka, seseorang keluar. Tetapi pintu tetap tertutup. Pintu tertutup sama dengan pintu terkunci?
Intinya keempatnya merasa terasing dan saling mencurigai. Tatapan demi tatapan yang mengarah ke pribadi tertentu selalu menyuguhkan rasa keterasingan
yang begitu luar biasa.
Keterasingan, atau neraka bagi orang lain adalah salah satu message penting Dalam drama "Huis Clos" [Pintu Tertutup].
Drama singkat satu babak, goresan tangan Sartre.(FJF)
#JeanePaulSartreFilsuf
Komentar
Posting Komentar