"Mixta Religio"
Seorang OMK menjalin hubungan statud pacaran dengan seorang pemudi dari Gereja Protestan. Mereka menjalani hubungan itu sudah hampir tiga tahun. Rencananya mereka akan menikah dua atau tiga tahun mendatang. Sampai sekarang, hubungan mereka berdua berjalan baik, hanya saja masalahnya mereka berdua berbeda keyakinan. Walaupun begitu mereka berdua tidak meributkan soal keyakinan mereka. Mereka juga mempertahankan agama masing-masing. Sebab mereka berdua adalah aktivis di gereja masing-masing. Mereka berdua berencana menikah beda agama dan tetap aktif dalam kegiatan di gereja masing-masing.
Kira-kira apa konsekuensi dengan pernikahan beda agama ini, adakah permasalahan yang akan mereka jumpai dalam hubungan mereka selanjutnya ketika mereka telah berumah tangga?
Pertama-tama perlu ditegaskan bahwa kasus yang sedang dihadapi adalah rencana menikah beda Gereja, bukan beda agama. Pernikahan beda Gereja (mixta religio) sering menjadi kabur karena orang menyamakan setiap Gereja sebagai “sama Yesus-nya”. Padahal ada berapa hal yang dapat dijadikan bahan permenungan untuk semua yang mengalami situasi seperti itu.
Perkawinan, dengan segala variasi mempunyai dua peluang besar: peluang untuk hidup bahagia atau mungkin bermasalah. Satu-satunya yang membedakan adalah mengenai agama dan iman orang-orang yang menikah. Agama membantu orang memikirkan pengalaman duniawi ini, dan menanggapi dengan cara berbeda. Dalam keanekaragaman Gereja pun, masing-masing orang dari Gereja berbeda menangkap setiap peristiwa dengan pemikiran iman yang berbeda. Ada yang merasa nyaman dengan berdoa kepada Santo-Santa dan Bunda Maria, tapi ada pula yang menentang, dan banyak lagi perbedaan.
Bagaimana hubungan mereka setelah menikah?
Semua tergantung dari cara mereka berelasi, berkomunikasi, saling mengerti, saling menerima, dan masih banyak cara lain yang akan mempengaruhi kebersamaan mereka, dan salah satunya adalah soal iman yang berbeda itu. Persoalan iman, sejauh perbedaan kedua pihak ada, maka akan tetap menjadi persoalan, meskipun ada kerinduan toleransi satu sama lain diantara mereka.
Semestinya mereka berdua membicarakan soal perbedaan itu dengan baik dari awal. Jangan menganggap perbedaan agama sebagai hal kecil, remeh, dan sederhana. Perbedaan bisa menjadi hal yang merepotkan atau bahkan penyebab perceraian karena salah mengerti dan kurang komunikasi. Dan jangan membiarkan perbedaan itu menjadi “bom waktu” karena mereka berdua enggan untuk mendiskusikannya.
Bahkan hal kecil saja bisa jadi pemicu keributan di dalam rumah tangga mereka nantinya.
Persoalan yang seringkali terjadi adalah tentang pembaptisan dan pendidikan anak-anak; perwujudan iman bersama dalam keluarga, atau hal ekspresi iman yang lain. Dalam Kitab Hukum Kanonik dikatakan, “Perkawinan antara dua orang dibaptis, yang diantaranya satu dibaptis dalam Gereja Katolik atau diterima di dalamnya setelah baptis dan tidak meninggalkannya dengan tindakan formal, sedangkan pihak yang lain menjadi anggota Gereja atau persekutuan gerejawi yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, tanpa izin jelas dari otoritas yang berwenang, dilarang” (KHK kan.1124).
Ini mau menegaskan bahwa perkawinan beda Gereja bukan perkawinan yang ideal. Pernikahan ideal tetap Katolik dengan Katolik sehingga dapat mewujudkan sakramentalitas perkawinan sepenuhnya bersama semua anak. Kita tidak mempunyai masalah iman dengan Gereja lain, tapi kerinduan membangun hubungan baik tidak menghindarkan pasangan yang menikah dari ancaman perceraian yang dipandang berbeda dalam tiap Gereja. Gereja Katolik jelas menolak perceraian, karena pernikahan sekali untuk seumur hidup.
Bagi yang sedang pacaran, silahkan melanjutkan masa perkenalannya, dan belajarlah jujur dengan kenyataan. Jika memang dalam perjalanan berdua akhirnya menemukan hambatan karena beda iman, maka bicarakan itu dengan baik-baik. Komunikasi adalah kunci untuk memutuskan semuanya dengan lebih bijaksana.(MJB)
#Katekese
#PacaranbedaGereja

Komentar
Posting Komentar