Perziarahan Orang untuk Mencari Makna Hidup
Pengalaman hidup manusia yang terdalam ialah mengalami Allah yang hidup. Kerinduan ini tak bisa disangkal oleh siapapun. Dalam pengalaman-pengalaman kepedihan, kerinduan itu akan semakin menguat. Pengalaman ini dirasakan dalam pengalaman religius maupun pengalaman iman yang tersembunyi di balik pengalaman konkret. Namun, ada bermacam-macam rintangan yang bisa menghalangi manusia masuk ke dalam pengalaman dengan Allah seperti rasionalisme dan empirisme. Terkadang, dalam upayanya menafsir kehadiran Allah dalam setiap pengalaman konkret, agama institusional bisa gagal mempertemukan manusia dengan Allah.
Untuk mencapai tujuan Gereja yang sesungguhnya, pengalaman akan Allah yang tercatat dalam kisah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru harus menjadi sumber pengetahuan kita tentang bagaimana cara Allah menyapa umat-Nya. Pengalaman akan Allah yang nyata ditunjukkan oleh Yesus. Yesus sendiri memperlihatkan secara jelas bagaimana Allah hadir dalam seluruh segi kehidupan manusia, ke dalam pengalaman-pengalaman konkret manusia. Ia bahkan memperlihatkan bagaimana Allah membawa manusia keluar dari penderitaan akibat dosa dengan mengorbankan darah-Nya sendiri. Allah sendiri dengan besarnya kasih setia kepada ciptaan-Nya, Ia rela mengadakan kurban penebusan agar manusia yang terpisah dari Allah akibat dosanya dapat bersatu dalam persekutuan dengan Allah.
Semua pengalaman akan Allah menunjukkan bahwa Allah memiliki sebuah karya besar bagi manusia yaitu karya keselamatan, sebuah harapan akan terbentuknya persekutuan hidup baru sebagai Israael Baru. Harapan ini merupakan sebuah perjalanan panjang penuh rintangan. Maka sebagai sebuah persekutuan baru, kita harus mengusahkannya secara bersama-sama. Di dalam usaha itu kita masing-masing memiliki tanggung. Tanggung jawab kita tidak hanya berkaitan dengan sesama manusia tetapi juga ditujukan dalam hubungan dengan alam semesta.
Perkembangan Kesadaran Diri Gereja
Asal-usul Gereja terletak dalam seluruh peristiwa Yesus terkhusus misteri wafat dan kebangkitan serta pencurahan Roh Kudus. Kisah ini tampak dalam Kitab Suci Perjanjian Baru yang juga diwartakan oleh para rasul. Kesaksian para rasul pasca peristiwa paskah membentuk jemaat perdana. Dari situ, Gereja mula-mula berusaha untuk terus belajar dan bersaksi tentang wafat dan kebangkitan Yesus karena peristiwa Salib menjadi dasar pewartaan Gereja. Melalui pewartaan inilah Gereja kemudian hidup, tumbuh dan terus berkembang hingga masa parusia.
Pengalaman paskah yang dialami para rasul dan jemaat perdana disadari sebagai suatu yang dipersiapkan Yesus di muka umum. Pewartaan Yesus saat itu terjadi dalam konteks Yudaisme yaitu tentang harapan akan terhimpunnya Israel baru yang sejati. Jadi terbentuknya jemaat perdana memakai gambaran umat Allah yang mengingatkan mereka pada penyebutan umat Yahwe pada Perjanjian Lama dengan relasi antara Yahwe dan Israel bercorak soterial (tindakan penyelamatan).
Puncak dari pewartaan diri Yesus terlihat pada peristiwa Paskah. Salib dan kebangkitan Yesus menandakan identifikasi akhir Allah terhadap manusia dalam seluruh karya penyelamatan Allah bagi manusia. Dengan mengambil jalan salib, Allah tidak hanya mengambil bagian dalam penderitaan manusia tetapi menyerap dan mengubanya menjadi pengharapan yang tampak dalam kebangkitan, yaitu keselamatan manusia. Di sini terlihat hubungan yang kuat antara salib dan kebangkitan. Hubungan ini menegaskan bahwa untuk mengalami kebangkitan harus dimulai dengan mengakui kerusakan yang ditimbulkan oleh ketidakadilan, penderitaan dan kematian (penyaliban). Tanpa melalui ini, manusia yang telah rusak tidak dapat mengalami keadilan, penyembuhan dan hidup baru (kebangkitan). Atau dengan kata lain, karya penyelamatan Allah bagi manusia yang kita alami dikerjakan Allah dengan turun ke dunia orang mati melalui wafat-Nya di salib.
Berkenaan dengan pewartaan dan karya Yesus yang menjadi dasar pendasaran kesadaran diri Gereja dapat dijelaskan dalam beberapa segi, yaitu 1) eskatologis berhubungan dengan harapan akan penyelesaian akhir oleh Allah terhadap rencana penyelamatan-Nya. Harapan itu telah dimulai tetapi belum mencapai pemenuhan. Harapan akan pemenuhan itulah yang dinantikan. 2) pewahyuan, berkaitan dengan pernyataan diri Allah sebagai manusia dalam diri Yesus Kristus. Yesus menghadirkan Allah dengan cara yang baru, hidup bersama manusia, terlibat dalam semua segi kehidupan manusia termasuk keberpihakan terhadap yang kecil dan miskin, sampai masuk ke dalam fase terakhir, yaitu kematian. 3) soteriologis, berkaitan dengan karya keselamatan. Yesus datang untuk membawa keselamatan bagi manusia. Keselamatan akan memungkinkan manusia hidup dalam persekutuan dengan yang dulu telah dirusakan oleh dosa. 4) Kristologi, berkaitan dengan Yesus yang mengaitkan sikap terhadap diri-Nya sebagai unsur pernyambutan Kerajaan Allah, yaitu bahwa Kerajaan Allah menjadi nyata lewat sabda dan tindakan-Nya.
Pada masa awal pembentukan Gereja terjadi peralihan, yaitu dari Gereja Yerusalem ke Gereja para bangsa. Pewartaan Yesus yang diarahkan kepada bangsa-bangsa Yehudi kini beralih kepada segala bangsa. Begitupun disaat berlalunya generasi para rasul, terjadi peralihan dari jemaat-jemaat Kristiani pertama menuju ke Gereja Pasca Rasuli. Saat inilah terjadi suatu proses yang disebut tradisi dimana iman para rasul diwariskan dari angkatan ke angkatan. Warisan tidak hanya berkaitan dengan ajaran iman tetapi juga penerusan kepemimpinan (successio apostolica).
Paham-paham tentang Gereja dalam Sejarah
Pada zaman klasik, Gereja ditandai dengan motif dasar mysterium. Di sini, Gereja dilihat sebagai rahasia iman yang artinya yang dilihat sebagai persekutuan yang muncul dari rencana ilahi. Motif dasar mysterium ini tampak dalam pengembangan ungkapan alkitabiah seperti, Gereja sebagai Umat Allah yang baru, Gereja sebagai Rumah Allah atau Bait Allah, Gereja sebagai Mempelai Kristus, Gereja sebagai Ibu, yaitu fungsi Gereja sebagai perantara kebenaran dan keselamatan. Masa sesudah itu, ada perkembangan arti gereja sebagai imperium. Di sini dilihat perkembangan Gereja dalam kekaisaran Romawi di mana Paus menjalankan fungsinya dengan pola kekaisaran. Muncul juga masalah tentang kuasa dan wewenang, hubungan antara Kaisar–Paus. Paus turut serta dalam urusan temporal keduniawian. Gereja juga disamakan dengan hierarki. Saksi iman, dulu disebut martir dan saat imperium dipraktekan dengan maju berperang. Pada masa reformasi gereja mengalami kemerosotan. Wewenang dan wibawa Roma dipertanyakan. Muncul tokoh-tokoh baru seperti Luther yang mengatakan bahwa Gereja merupakan himpunan orang beriman yang dibenarkan dan diselamatkan oleh imannya. Pada zaman Fajar Budi dan Romantik, Gereja dilihat sebagai lembaga moral. Saat terjadi revolusi Perancis, yang akhirnya bermuara pada pemisahan Gereja dengan kerajaan, wibawa moral kepausan meningkat. Di sini, dilihat Gereja sebagai persekutuan, dalam aspek lahiriah sebagai manifestasi dari batiniah dan aspek inkarnasi dari atas ke bawah. Pada masa Konsili Vatikan I (Pastor Aeternus) dibicarakan tentang institusi primat, suksesi, corak, sifat, wewenang mengajar. Ada beberapa corak: kuasa dan wewenang, prioritas aspek insitusional dan sosial, orientasi dan kepausan (primat), prioritas pada hierarki. Menjelang Konsili vatikan II, ada beberapa hal yang mendasari perubahan seperti corak institusional kurang perhatikan persekutuan, sumbangan Paus Pius, perkembangan studi Alkitab, gerakan sosial dan ekumenis.
Pengertian – Diri Gereja
Terjadinya Lumen Gentium (dan juga Gaudium et Spes) merupakan proses yang menunjukkan berubahnya paham tentang Gereja sendiri sejauh dialami oleh para bapa konsili. Perubahan dasariah yang terjadi dalam proses konstitusi Lumen Gentium adalah peralihan pola pikir institusional tentang Gereja ke pola pikir sakramental tentang Gereja. Berdasarkan pola pikir ini maka Gereja tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang penuh teka-teki, tetapi berkaitan dengan rencana Allah terhadap manusia. Dengan demikian, pengertian diri Gereja sebagai sakramen dipandang dalam kerangka seluruh karya dan sejarah keselamatan Allah. Kata mysterion dalam Yunani yang berarti rahasia, ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Latin (Vulgata) menggunakan kata sacramentum. Kata sakramen dalam penggunaannya mengarah pada lingkup ibadat. Pemahaman ini muncul dari pengertian tentang sakramentalitas Gereja seluruhnya.
Dari pemahaman ini maka Kristuslah yang disebut Sakramen Utama. Sebab seluruh hidup Yesus, sabda, perbuatan, sampai pada peristiwa paskah merupakan sakramen utama yang Allah kerjakan dengan cara yang paling manusiawi. Dalam peristiwa paskah, Yesus menyelesaikan karya penebusan dosa yang membawa kepada keselamatan. Tindakan Yesus yang dikerjakan dengan cara manusiawi itu justru menjadi perantara keselamatan sebab Allah tidak lagi berada di tengah-tengah seakan terdapat jarak, tetapi ada sebagai manusia yang menunjukkan ketiadaan jarak. Dengan cara ini ketika Yesus dimuliahkan, maka kemanusiaan Yesus ikut dimuliakan sebagai Putera Allah. Dalam kodrat kemanusiaan yang dimuliakan itu, Roh Kudus akan dilimpahkan kepada semua manusia. Dan di sinilah keselamatan ditawarkan bagi semua manusia sampai pada akhir zaman.
Pewartaan dan perwujudan keselamatan sampai pada akhir zaman itu (parusia) dilaksanakan dalam suatu persekutuan yang dilimpahi oleh pencurahan Roh Kudus. Persekutuan itulah yang disebut Gereja. Ada dua momen yang terkandung dalam persekutuan ini 1) persekutuan orang beriman yaitu mereka yang menyambut dan sudah mulai menikmati keselamatan Allah yang masih menantikan penyempurnaan, 2) untuk terus mewartakan dan mewujudkan keselamatan Kristus, untuk terus mewartakan dan mewujudkan keselamatan bagi orang-orang lain. Persekutuan ini mencerminkan persatuan yang bersifat Trinitaris. Corak dari persatuan ini sering dirumuskan dengan istilah communio. Ada tiga arti yang bisa dijelaskan 1) persatuan timbal balik antara manusia dan Allah, 2) hubungan pribadi yang membawa ikatan dunia, 3) persatuan dengan Allah mendasari persatuan antarmanusia. Persatuan ini bisa terwujud karena ada pencurahan Roh Kudus. Gereja yang seperti inilah yang disebut sebagai sakramen, yaitu tanda dan sarana keselamatan.
Konsili Vatikan II juga memakai salah satu pengertian diri Gereja sebagai Umat Allah. Paham ini mengingatkan orang akan1) corak Gereja sebagai suatu persekutuan konkret dari masing-masing individu namun tidak diartikan sebagai penjumlahan hidup iman individu tetapi masing-masing individu menempuh jalan keselamatan lewat perannya sebagai anggota umat melalui hak dan kewajiban bagi semua orang. 2) konteks sejarah keselamatan dari eksistensi Gereja yang dimulai sejak Perjanjian Lama, berasal dari Allah dan merupakan inisiatif Allah yang dimulai saat panggilan Abraham dan mencapai puncak pada Yesus sebagai keturunan Abraham. 3) Solidaritas mendalam dengan seluruh umat manusia.
Ada empat ciri Gereja (notae ecclesiae) yang disebut dalam syahadat panjang, yaitu 1) Satu, yang menjelaskan tentang asal dan sumber gereja hanya satu yaitu Allah, Tritunggal Mahakudus, dan Roh Kudus yang menyatukan semua umat dalam satu kesatuan tubuh Kristus. 2) Kudus, yang menjelaskan bahwa Allah yang adalah sumber itu adalah Mahakudus. Ia menguduskan Gereja sepanjang waktu sehingga mendorong semua warga gereja menuju kekudusan sejati. 3) Katolik, yang berarti menyeluruh, merangkum keseluruhan dan keutuhan. Ini berarti Gereja terbuka kepada semua bangsa dan budaya tanpa ada pengecualian. 4) Apostolik, yaitu gereja yang berasal dari para rasul, berkaitan dengan ajaran dan kepemimpinan.
Misi Gereja
Misi Gereja dirumuskan dalam kaitan dengan rencana Allah Tritunggal sebagai partisipasi dalam karya keselamatan yang sedang berlangsung. Mengikuti apa yang sudah dimulai oleh Yesus maka misi Gereja adalah untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah dan turut menjadi saksi dan tanda perwujudan awalnya di dunia ini. Bagi Gereja pewartaan Injil berarti membawa kabar gembira ke setiap sektor umat manusia, sehingga berkat daya kabar tersebut masuk ke dalam hati manusia dan memperbarui umat manusia dari dalam. Proses ini tentu terwujud lewat bermacam-macam cara. Namun yang perlu diperhatikan adalah bukan soal kuantitas dari seberapa banyak dan jauh pewartaan Injil itu tetapi berkaitan dengan kualitas yaitu terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia.
Dunia merupakan bidang perwujudan relasi dengan Allah. Kekhasan dunia terletak pada pelaksanaan dirinya sebagai subjek otonom (perwujudan iman). Sedangkan Gereja selalu berkaitan dengan rencana Allah yaitu manusia yang mengungkapkan tanggapan atas tawaran keselamatan dalam persekutuan umat beriman (pengungkapan Iman). Hubungan antara keduanya menandakan hubungan antara dunia dan Gereja.
Problematik pokok misioner Gereja dan dunia adalah terbentuknya Gereja lokal. Namun persoalanya bukan terletak pada pengertian Gereja sebagai institusi melainkan berkaitan dengan Kerajaan Allah. Gereja harus melayani dunia dalam keterarahannya kepada Kerajaan Allah. Ini berarti Gereja harus menjelmakan dinamika kehendak penyelamatan Allah ke dalam situasi masyarakat konkret. Interaksi ke situasi konkret ini dirumuskan sebagai dialog kritis dan konstruktif. Jadi ada usaha yang dikerjakan untuk membangun nilai-nilai Kerajaan Allah seperti menjadikan budaya-budaya yang majemuk sebagai sarana dan wahana pewartaan Injil. Secara konkret berarti melawan secara sekuat tenaga segala apa yang menurunkan derajat manusia, dosa dan ungkapan-ungkapannya baik kepada perorangan maupun ungkapan sosial.
Ada beberapa hal yang dibicarakan dalam kaitan dengan Gereja lokal seperti inkulturasi yang merupakan proses interaksi warta Injil dengan kebudayaan setempat yang diungkapkan dan dilaksanakan oleh, dalam dan sebagai Gereja lokal. Proses ini merupakan proses pendewasaan Gereja lokal, seperti bagaimana interaksi Gereja dalam konteks budaya Indonesia menjadi Gereja yang sungguh-sungguh Indonesia yang di dalamnya terjadi proses peresapan dan penyerapan Injil yang tidak hanya mencakup penerimaan dan pengambil-alihan tetapi juga kritik bahkan konflik. Di samping itu ada juga dialog antaragama. Dialog antaragama merupakan konkretisasi dari corak dasar dialog Allah kepada manusia. Dialog itu terjadi dengan tetap menghormati kebebasan pribadi manusia dengan tulus tanpa pamrih, dibawa ke kedalaman lubuk hati manusia. Di sini sangat diperlukan berbagi pengalaman iman, tidak hanya sekedar tenggang rasa dan toleransi semata. Berkaca pada pewartaan Yesus yang memberi perhatian pada orang kecil dan miskin, demikian perwujudan Gereja lokal pun mencapai sasarannya kepada kaum tertindas ini. Mereka bukanlah objek belas kasihan atau amal melainkan mendampingi mereka untuk menjadi pelaku utama perwujudan Kerajaan Allah. Keterlibatan Gereja bagi kaum tertindas akan mencakup mekanisme tawar menawar dengan penguasa. Tentu Gereja akan mengalami benturan. Untuk itu, perjuangan ini mengandung kesediaan untuk berkorban dan menjadi korban demi kebaikan bersama.
Segala perjuangan perwujudan misioner Gereja merupakan tanda realisasi Kerajaan Allah. Namun, segala hasil yang dicapai bukan merupakan pemenuhan defenitif. Perjuangan ini harus ditandai oleh harapan eskatologis yaitu harapan bahwa akhirnya Allah sajalah yang akan mengubah hidup di dunia ini menjadi lebih baik.
Struktur Pelayanan dalam Gereja
Tugas misioner Gereja bagi dunia diperlihatkan dan ditopang oleh struktur dasariah Gereja sebagai komunio yang kesatuannya tergambar dalam kolegialitas. Untuk itu, perlu dibicarakan tentang primat Paus. Tujuan primat adalah kesatuan episkopat dan kesatuan seluruh Gereja. Petrus ditetapkan sebagai kepala para rasul bukan sebagai kehormatan semata melainkan sebagai yuridiksi. Siapapun yang menggantikan Petrus, menerima primat Petrus atas seluruh gereja. Dengan ini Paus mempunyai kekuasaan yuridiksi penuh serta tertinggi atas seluruh Gereja dan bahwa kekuasaan ini melekat pada jabatannya, langsung, immediate (tanpa lewat perantara), dan sungguh bersifat episkopal.
Berkaitan dengan infallibilitas, mengandung pengertian bebas dari kesalahan dalam hal ajaran (iman dan susila). Ini tidak berarti bahwa ketidaksesatan itu menunjuk suatu kualifikasi moral atau ilmiah. Sifat ini berkenaan dengan wibawa yang menyertai suatu pernyataan ajaran dan bukan karena ajaran itu sebagai rumusan terbaik. Dengan demikian, ketidaksesatan Paus tidaklah mutlak. Paus selalu berbicara sebagai gembala dan pengajar seluruh umat beriman dan bukan sebagai pribadi dan juga hanya berkaitan dengan iman dan susila. Segala hal di luar ini bukan menjadi objek infallibilitas. Selain itu penegasan ajaran yang tidak dapat diubah menjelaskan bahwa Paus membutuhkan gereja secara yuridiksi atau bentuk ratifikasi yang menyusul agar pernyataan defenitif daam ajaran tidak dapat diubah.
Kontekstualisasi yang lebih luas dari kuasa mengajar kepausan, dijelaskan dalam dua pernyataan 1) kuasa mengajar terpangku dalam ketidaksesatan seluruh umat Allah, 2) subjek ketidaksesatan adalah seluruh dewan para uskup dengan Paus sebagai kepalanya. Sumber kuasa ini terletak pada sakramen tabisan uskup dan bukan pada paus. Namun, penggunaannya harus berdasarkan tata aturan yang dibuat dalam kesatuan hierarkis dengan Paus sebagai kepala.
Tugas misioner Gereja di tengah-tengah dunia modern melibatkan peranan kaum awam. Strukrurasi Gereja dalam pelayanan memungkinkan partisipasi awam dalam tugas Gereja dan mengembangkan segala potensi yang sangat kaya dalam kehadiran dan peranan kaum awam di tengah dunia yang majemuk dan kompleks ini. Untuk mengarah ke situ perlu dihidupkan kembali visi tentang struktur kharismatis dan ministerial Gereja. Struktur kharismatis menggambarkan Gereja yang dibangun sebagai interaksi anugerah-anugerah Roh Kudus dalam keragamannya pada anggota-anggota Gereja yang terwujud dalam bermacam-macam pelayanan. Setiap anugerah Roh Kudus terarah untuk melengkapi dan dilengkapi yang lain, sehingga tidak ada orang atau kelompok yang mengklaim diri mempunyai Roh Kudus dan yang lain tidak. Sehingga tanggung jawab mewartakan Injil dan membangun Gereja lokal dipikul bersama-sama oleh segenap umat. Setiap orang merupakan pelayan satu bagi yang lain. Berkaitan dengan struktur ministerial menyiratkan bahwa diakon bukan katekis, katekis bukan imam, hanya beberapa saja yang memimpin dan bukan semua menjadi pemimpin. Meskipun demikian kepemimpinan dijalankan dalam konteks macam-macam kharisma dan dalam relasi dengan kharisma-kharisma itu.
Berkaitan dengan kepemimpinan mengarah pada masuknya orang beriman yang ditandai dengan penerimaan sakramen tahbisan. Tahbisan merupakan pemberian kharisma untuk memimpin Gereja. Sebagai pemimpin, ia menghadirkan Gereja universal dalam mewakili jemaatnya di hadapan jemaat-jemaat lain. Kepemimpinan pastoral ini bukan melulu soal organisatoris melainkan sesuatu yang menyangkut misteri dan identitas Gereja.
Peranan diakon menurut konsili menunjuk pada pelayanan sabda, cinta kasih dan liturgi. Tugas diakon bukan pertama-tama membantu presbyter melainkan terkait langsung dengan uskup. Tugas presbyter tidak hanya sebatas pada pelayanan misa tetapi lebih dari itu mengambil bagian sebagai rekan kerja pada kepemimpinan uskup atau suatu dioses yang dimanifestasikan dalam kepemimpinannya dalam perayaan ekaristi.
Berkaitan dengan peranan kaum awam, sebenarnya lebih mengarah pada siapa itu Gereja dan apa tugasnya. Setelah konsili, banyak terlihat bangkitnya berbagai bentuk organisasi awam. Kiranya ada empat kategori 1) berdasarkan prinsip kategorial, 2) berdasarkan prinsip lingkungan sosial dan profesional, 3) berdasarkan prinsip gaya hidup rohani, 4) berdasarkan prinsip keterlibatan sosial. Organisasi-organisasi yang berbentuk mondial jika tidak hati-hati akan menghalang kecenderungan otentik bagi Gereja-Gereja lokal untuk bertumbuh secara mandiri karen organisasi itu bisa menjadi “kelompok penekan.
.
.
#Resume
#BukuDiHimpunUntukDiutus
#C.Putranto,S.J

Komentar
Posting Komentar