𝗣𝗮𝗻𝗱𝗲𝗺𝗶 𝗖𝗼𝘃𝗶𝗱 𝟭𝟵:
𝗠𝗲𝗹𝗮𝗰𝗮𝗸 𝗝𝗲𝗷𝗮𝗸 𝗚𝗲𝗼𝗽𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝘂𝗿𝗯𝗮𝗻 𝗠𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮
Di dalam dunia tak adil dan timpang ini, jangan sekali-kali mengabaikan, apalagi meniadakan cerita konspirasi. Dari cerita itu, bermula prasangka yang wajar, agar tetap waras, terus berpikir dan berpihak. Karena tanpa ada sikap curiga, maka tak ada perjalanan menuju pengetahuan dan penemuan. Di dalam dunia kejahatan dan kebaikan bisa bertukar tempat, konspirasi adalah pengantar cerita untuk menyusun cerita besar atau wiracarita, tentang sejarah panjang sebuah kejadian, sebelum akhirnya hadir sebagai bencana. Karena melalui cerita konspirasi, kita mulai mengetahui dan merasakan bahwa peristiwa dunia selalu membentuk riwayat hidup dan mati kita, jauh atau dekat, cepat atau lambat.
Pandemi Covid 19, tahun 2020 ini, sedang kita alami, kita rasakan, sebagai bencana. Mengundang setumpuk pertanyaan dan kerisauan. Sama sekali berbeda dari sumber bencana alam, seperti gempa bumi dan tsunami, pandemi ini tidak disebabkan virus semata. Tetapi dimulai, berkembang dan diakhiri oleh tarik-menarik tak tentu arah dari seteru merebut dan menjaga kuasa, antar kekuatan global. Di atas papan catur geopolitik itu, virus dibajak, menjadi senjata saling membunuh di antara penguasa dunia. Dengan itu juga, tidak terlalu penting mencari tahu negara atau kekuatan yang sengaja 'menciptakan' atau 'menularkan' virus ini. Jauh lebih penting, karena fakta tersedia dan terbuka, kita membongkar kebohongan dan kejahatan kekuatan global yang bergerak di balik virus dan penularannya.
Sebagaimana akan dibahas di akhir tulisan, pandemi Covid 19 bukan masalah medis, melainkan perkara biomedis dunia. Tubuh, di dalamnya ada kematian dan kehidupan, diperebutkan, dijadikan matriks atau indeks politik. Pandemi pun tidak lagi ditentukan oleh pertarungan antara antibodi dan patogen, tetapi lebih ditentukan oleh seteru antara kekuatan globalis dan kekuatan populis. Untuk menentukan siapa yang harus terkapar, terbunuh dan terkubur di bulan November 2020, Donald Trump atau Joe Biden, populis atau globalis. Di atas papan catur itu pula, kita akhirnya mengerti dengan baik strategi dan taktik bertarung, menggunakan herd immunity, pembatasan berskala besar, dan lockdown. Angka kematian, otentik atau direkayasa, harus terus bergerak naik, sama cepatnya dengan kepanikan masal yang dikehendaki.
Mengingat pentingnya seteru geopolitik dunia melalui pandemi ini, kita perlu menengok kembali sejarah dunia. Setidaknya dimulai sejak periode kolonial, tersambung dengan periode-periode sejarah berikutnya, sampai menghantar kita ke periode genting 2020. Di situ kita belajar menjadi rendah hati, bahwa perang menentukan riwayat dan hikayat setiap generasi. Bahwa kurban manusia selalu diperlukan dalam pertarungan, membentuk atau menghapus persekutuan geopolitik. Di atas piramida kurban manusia, di dalam sensasi rating-angka kematian, kita kembali ke titik nadir. Bahwa manusia bisa dan selalu lebih jahat dari patogen alam di muka bumi.
𝗣𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴𝗻𝘆𝗮 𝗖𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗞𝗼𝗻𝘀𝗽𝗶𝗿𝗮𝘀𝗶
Dalam situasi pandemi Covid 19, cerita konspirasi terbelah ke dalam dua arus kepentingan. Bagi arus pertama, konspirasi adalah bualan politik dari mereka yang sedang bertarung atau kalah dalam pertarungan. Ini paham konspirasi menurut yang menang atau berkuasa. Bahwa sebuah kejadian bersejarah, pandemi covid 19, terjadi begitu saja, tidak terencana dan akan berakhir dengan sendirinya. Tujuannya sangat jelas, supaya kita tidak bertanya, tidak paham kronologi, plot, aktor utama, pemeran pembantu, dan aktor antagonis. Terpenting, niat jahat tidak terungkap dan konsekuensi tidak dibahas tuntas atau dikondisikan menjadi urusan negara atau masyarakat terdampak semata.
Arus kedua, sebaliknya, membincangkan konspirasi untuk mendapatkan titik terang dari sebuah peristiwa yang telah menimbulkan kepanikan dan mengubah sejarah. Sebuah percobaan analisis, sekonyol apa pun, untuk tidak tersesat dalam satu narasi tunggal, cerita resmi, dari buku teks orang-orang berkuasa atau merebut kuasa. Paham ini menjadi senjata pengetahuan, bagi mereka yang menolak jadi penonton, menolak menjadi tumbal sejarah pertarungan kekuasaan. Suatu pilihan sulit, panggilan akal sehat, berhadapan langsung dengan totalnya produksi, distribusi dan kontrol informasi oleh tentakel media kekuatan globalis.
Mengenali dua arus pikiran di atas, pilihan harus diambil secepatnya, sebelum terlambat dan mati dalam ketidaktahuan. Kita, orang-orang terkucilkan dan terdampak, tentu menolak dibohongi dan dipermainkan. Informasi melimpah, pertarungan sudah terbuka, dan kita pun sekarang lebih leluasa belajar dan berpendapat. Teknologi dan informasi yang dikontrol penguasa wacana sebaliknya kita gunakan mendeteksi konspirasi sistematis kekuatan global membajak pandemi Covid 19.
Sejarah dunia pun memberi kita pelajaran dan perbandingan peristiwa. Kita dapat bertolak dari cerita sejarah untuk semakin paham dengan pandemi Covid 19. Cerita konspirasi harus diberi konteks geopolitik dunia. Dari sana, tanpa kesimpulan pasti, pertanyaan baru dirumuskan lagi dan pengetahuan mendapat tempat dalam kebijakan dan diskusi publik. Komplikasi kepentingan adidaya dalam struktur dan sistem internasional hari ini mengingatkan kita pentingnya sejarah dan geopolitik. Dari situ kita makin paham, penyakit dan kesehatan tubuh mulai dihadirkan sebagai isu dunia, seperti dalam dua abad terakhir, berganti dari supremasi ras selama masa kolonial, ideologi selama perang dingin dan agama dua puluh terakhir, sebelum Covid 19 tiba, membunuh 228.504 jiwa dan 3.5 juta kasus (4/5).
𝗞𝗼𝗹𝗼𝗻𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗺𝗲, 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗗𝘂𝗻𝗶𝗮 𝗜-𝗜𝗜, 𝗱𝗮𝗻 𝗥𝗮𝘀𝗶𝘀𝗺𝗲
Sejarah dunia bukan hanya sejarah berkuasa tapi juga sejarah perlawanan. Tarik menarik antara keduanya, itulah yang membentuk cerita setiap periode, satu atau lebih generasi. Dalam ingatan kita, sejarah kolonialisme sampai sejarah dunia dalam pandemi Covid 19, tak lebih dari pertarungan merebut, menguasai dan membebaskan tubuh, teritori dan sumber daya dari monopoli kebenaran atau kuasa ekonomi-politik tertentu. Dalam setiap periode sejarah modern itu, kehidupan dan kematian memiliki pengertian yang khusus. Demikian halnya dengan penderitaan dan kebahagian, atau kemajuan, kemunduran dan keterbelakangan.
Sejarah kolonial adalah cerita besar tentang penemuan benua-benua baru bagi Eropa yang bangkit dari gulita Abad Pertengahan dan memuja pencerahan bernama pengetahuan. Sekaligus cerita lima ratus tahun tentang genosida, perbudakan lintas benua dan penindasan di tanah terjajah. Kota-kota dagang bertumbuh di pesisir pantai kontinen bersalju dan London jadi pusat dunia, berbagi koloni dengan Lisbon dan Paris.
Di negeri jajahan, manusia dan ekonomi disetel ulang. Konsep waktu dan ruang pun bergeser, mengikuti pola perekonomian kolonial. Populasi dibagi ke dalam kelas-kelas baru, dimulai dari strata atas kulit putih, warga negara kelas dua kulit berwarna dan kelas inlander dari penduduk setempat atau didatangkan dari wilayah sekitar. Suatu model pengaturan ekonomi yang nantinya bertanggung jawab lahirnya masyarakat baru atau campuran, bernama penduduk asli, penduduk pribumi dan pendatang jauh. Tiga tipologi manusia yang melahirkan nasionalisme anti-kolonial sekaligus berperang saling meniadakan, merebut tampuk pemerintahan, di Asia, Afrika dan Amerika Selatan, setelah kemerdekaan sampai hari ini.
Jurus utama kuasa kolonial adalah konsep ras, membentuk masyarakat dan ekonomi berbasis ras. Tidak ada perbudakan kolonial tanpa rasisme. Kolonialisme abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20, adalah puncak kekejaman rasime di perkebunan, pabrik dan pertambangan. Amerika Serikat adalah ilustrasi terbaik sebuah negara koloni migran Eropa dari segala golongan, dibangun dengan meniadakan penduduk asli termasuk melalui pandemi penyakit dan ditopang ekonomi perbudakan kulit hitam sampai tahun 1960.
Sementara di Amerika Latin tak kalah bengisnya, menghasilkan dua jenis ras, murni dan bercampur, bertarung sampai hari ini dalam politik negara-negara selatan kontinen tersebut. Afrika tidak hanya dijajah, manusianya dikapalkan ke seberang Antlantik, menjadi budak lintas generasi. Bahkan Afrika Selatan baru dilepaskan dari model bernegara kolonial, apartheid, tahun 1994. Sementara Indonesia mengalami kekejaman tanam paksa, 1830-1870, sebelum akhirnya diakhiri dengan politik etis yang memberi insentif bagi nasionalisme anti-kolonial.
Lain halnya Vietnam, lokasi strategis bagi geopolitik, baru berhasil mengusir Perancis tahun 1954 sekaligus memasuki perang geopolitik blok komunis dan kapitalis sejak 1961 sampai 1975. Di ujung barat Asia, Palestina menjadi koloni kekejaman Israel sejak 1948 sampai hari ini. Sementara negara-negara di sekitarnya terbentuk saat kejayaan Otoman di Turki berakhir setelah Perang Dunia Pertama.
Rasisme, ekonomi-politik berbasis diskriminasi ras, membentuk apa yang disebut Barat dan Timur. Berlangsung produksi pengetahuan, jenis manusia dan masyarakat dengan ras sebagai matriks atau register biologis, ekonomi dan etis-politik sekaligus. Teori evolusi Darwin dibajak untuk membenarkan penindasan atas nama pencerahan di Timur dan kemakmuran ekonomi di Barat. Bahkan kitab suci ditafsir sesuai selera burjuis dan hasrat berkuasa. Timur adalah kegelapan, dikendalikan magis dan mitos, sementara Barat adalah cahaya, membawa perubahan dan peradaban. Dalam periode ini, biologi dan teologi disatukan menjadi bahasa kuasa, tak terbantahkan.
Di lain pihak, dalam periode kolonial ini, cerita Barat yang berdarah, perang silih berganti atas nama agama dan ekspansi kerajaan, sampai Perang Dunia I dan Perang Dunia II, tidak mendapat tempat dalam buku resmi sejarah dunia. Dengan kedok sebagai sejarah dunia, kebiadaban perang 3 abad, berebut membentuk Eropa dari dalam dirinya, digantikan cerita pencerahan, filsafat, sastra dan penemuan ilmiah. Etnologi dan antropologi dikerahkan, sebagai instrumen koleksi data dan analisis terhadap sistem budaya, ekonomi dan sosial masyarakat koloni. Sementara sosiologi muncul untuk memahami krisis sosial dari masyarakat ekonomi transisi di dalam Eropa dan psikologi-psikiatri untuk memahami dan mendisplinkan kegilaan dari masyarakat industrial baru.
Satu abad setelah Perang Napoloen mencabik-cabik kontinen ini, 1810-1815, Eropa berdarah dengan Perang Dunia I. Perang ini, 1914-1918 mengubah konstelasi imperium internal Eropa, menyeret masuknya Tsar dan Rusia dalam pertarungan itu. Pandemi Flu Spanyol mengakhiri perang, membunuh jutaan tentara di parit-parit pertahanan, yang akhirnya menjadi garis batas negera-negara baru. Dalam perang ini, Amerika Serikat bergabung dan membawa malapetaka pandemi ke negerinya sendiri. Sementara Lenin mendapatkan kesempatan emas melancarkan revolusi Bolshevik 1917 melahirkan Uni Soviet Desember 1922, blok geopolitik dunia sampai berakhirnya Periode Perang Dingin tahun 1989.
Dua dekade kemudian, 1939-1945, rasisme kolonial balik memakan tubuh Eropa dari dalam dirinya sendiri. Hitler dan Jerman yang dipermalukan perjanjian Versailles 1919, membangun kekuatan militer dan mulai menggasak Polandia September 1939. Berbekal aliansi dengan Spanyol dan Italia, Eropa ditaklukan dan Inggris disasar. Tapi perang sesungguhnya adalah pertempuran 4 tahun di wilayah Uni Soviet, disebut Front Timur, membunuh 24 juta penduduk dan tentara Stalin. Perang di front inilah, terutama di kota Stalingard, yang mengakhir ambisi ras unggul Hitler. Musim dingin dan penyakit membuat Jenderal Paulus dan tentara Nazi menyerah dan dimulai ekspansi Stalin dan Jenderal Georgy Zhukov balik menuju Berlin, membebaskan satu persatu negara menuju Jerman.
Amerika Serikat dan Inggris datang terlambat, atau setidaknya hanya mempercepat kejatuhan Jerman di front barat dan selatan yang tak sepenuhnya diperkuat Hitler. Amerika Serikat bergerak di dua front sekaligus, Eropa dan Asia. Serangan Pearl Harbour Desember 1941, membawa Franklin Roosevelt dan AS ke Asia sampai hari ini, dengan memukul mundur tentara Jepang dari Pasifik, dan menjatuhkan bom atom pertama kali di Hirosima dan Nagasaki, membunuh dua ratus ribu lebih penduduk tak bersalah. Kekalahan Jepang di Asia sepenuhnya tak terlepas dari perlawanan kaum nasionalis dalam negeri-negeri terjajah, tetapi terutama perlawanan rakyat China dengan 10 juta jiwa terbunuh, melemahkan logistik dan ketersediaan tentara bagi Kaisar Hirohito di berbagai kawasan termasuk Indonesia.
Dengan itu, Perang Dunia Kedua adalah peristiwa terpenting bagi sejarah dunia sampai hari ini. Bagi Eropa Kolonial dan bagi Koloni-koloni jajahan di Asia, Afrika, dan Amerika Tengah dan Selatan. Tak terduga, Hitler merusak Barat kolonial-rasis dengan rasisme internal di dalam tubuh Eropa sendiri. Eropa kolonial yang berantakan1939-45, membuka peluang bagi terbentuknya kesadaran nasional di negeri-negeri terjajah. Tumbuh rasisme revolusioner, menggunakan ras atau bangsa sebagai konsep kemerdekaan dan konsolidasi perlawanan terhadap kekuatan kolonial yg sudah dilemahkan Hitler. Hadirnya Nippon di Asia tak lebih dari hitungan taktis, menaklukan koloni-koloni yang tak bertuan, dan memberi janji merdeka bagi kaum nasional yang sudah terbentuk, asalkan membantu Hirohito menghadang Jenderal Douglas MacArthur dan tentara AS dari Pasifik.
Koloni-koloni yang merdeka selama dan sesudah PD II merupakan produk dari proses geopolitik. Itulah sebabnya para pendiri negara-bangsa pasca kolonial memiliki pengetahuan sejarah dan geopolitik dunia pada masanya. Demikian halnya, terbentuknya Indonesia tidak terlepas dari kecerdasan Sukarno dan kesadaran gerakan nasionalis, memproklamirkan kemerdekaan, 17 Agustus 1945, setelah Jerman menyerah Mei 1945 dan Jepang mengakui kekalahannya 14 Agustus 1945. Proyek dekolonisasi berlangsung serempak di Asia dan Afrika, sampai memasuki periode Perang Dingin, antara blok Kapitalis dan blok komunis. Sementara negeri-negeri di Amerika Latin sebagian besar sudah terlebih dahulu merdeka di akhir abad ke-19.
𝗣𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗗𝗶𝗻𝗴𝗶𝗻, 𝗕𝗹𝗼𝗸 𝗞𝗮𝗽𝗶𝘁𝗮𝗹𝗶𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝗹𝗼𝗸 𝗞𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶𝘀
Periode Perang Dingin, sangat panjang, empat dasawarsa, sejak Oktober 1945 PBB didirikan sampai bubarnya Uni Soviet oleh Gorbachev Desember 1991. Jerman dibagi dua, barat dan timur, sekaligus membagi Eropa mengikuti garis ideologi dan geopolitik tersebut. Blok Timur dikendalikan Kremlin, mencakup negara-negara yang dibebaskan Stalin dari NAZI, antara lain Jerman Timur, Polandia, Cekoslowakia, Bulgaria, Hungaria dan Rumania. Sementara Blok Barat dikendalikan Washington di seberang Antlantik, mencakup Jerman Barat, Inggris, Perancis, Spanyol, Italia, Portugis, dan Belanda. Jelas, Eropa kembali terbelah dan ikut membelah dunia bersamanya. Sementara Jepang yang kalah perang tak lebih dari proksi Barat, dilucuti kekuatan militernya, sampai hari ini.
Periode perang ideologi dimulai, kendati pun Hak Asasi Manusia dideklarasikan tahun 1948. Berbagi hak veto lima negara pemenang tak lebih dari diplomasi sambil lalu, seraya memperkuat perkubuan di dunia dan memperkeruh pertarungan politik di negara-negara pascakolonial. Bukannya menghentikan perang dunia, sebaliknya, dunia dibuat berdarah dengan perang saudara dalam negeri di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Lalu disebut perang dingin, karena dua monster, AS dan Uni Soviet, itu tak mau beradu kepala nuklir di muka bumi. Nuklir, senjata pamungkas akhir masa, diperbanyak dan semakin canggih, hanya untuk saling mengancam dan berganti perang proksi berebut pengaruh di lima benua.
Perang ideologi bergolak di seluruh kawasan dunia. Amerika Latin memulai dengan Fidel Castro dan Kuba tahun 1959. Ideologi kiri itu menjalari separuh kontinen dan Amerika Serikat memulai politik junta militer, memasang pemerintahan bengis, menyelamatkan bisnis tanaman komoditas dan minyak. Argentina, Guetemala, Equador, Kolombia sampai Cili, Bolivia dan Argentina, menyimpan sejarah berdarah itu sampai hari ini dan berulang dalam pertarungan politik terkini. Termasuk peristiwa membahayakan dunia, tahun 1961, ketika Khrushchev dan Kennedy nyaris beradu rudal nuklir di Teluk Babi, antara Kuba dan Florida. Dari segi lain, Katolik Amerika Latin dibelah ke dalam pertarungan ideologis, antara hispanik kelas atas dan kelas pekerja, pertarungan yang terus berlanjut hari ini dalam kotak suara, kudeta miiter dan pemaksulan.
Di Asia Barat atau Timur Tengah, tarung ideologi menempuh dua periode berdarah. Dimulai dengan kudeta militer terhadap pemerintah sosialis-sekuler Mosaddegh di Iran tahun 1955. Kudeta terbuka ini dirancang CIA dan M16, serta menempatkan Reza Shah Pahlavi, aristoktat warisan Persia, sebagai presiden boneka sampai munculnya Khomeni dengan Revolusi Islam tahun 1979. Sebagian besar negara-negara Timteng adalah sekuler dan berorientasi sosialis. Membentuk Pan-Nasionalis Arabia, menghadang Israel yang berusaha meniadakan Palestina, secara terbuka dan terselubung. Arab Saudi masih bersekutu dalam barisan ini. Dalam periode blok Arabia ini, Washington dan Kremlin, bermain aman, sampai kekuatan pelobi Israel AIPAC terbentuk 1963, berurat berakar dalam sistem politik AS satu dekade berikutnya dengan Perang Enam Hari 1967 dan Perang Ramadhan-Yom Kippur tahun 1973.
Kekalahan dalam perang 1973 itu mengubah secara dramatis tekstur politik negara-negara Arab, termasuk mengubah orientasi ideologis perlawanan Palestina, dari nasionalis PLO menjadi Intifada menuju Hamas. Kecewa dengan nasionalisme Arabia, aspirasi politik menghadirkan revolusi Islam dan Khoemeni di Teheran. Pahlevi diusir dari Iran dan kedutaan AS disandera selama 14 bulan, peristiwa geopolitik terpenting yang memalukan Jimmy Carter dan AS sampai hari ini. AS kemudian mendorong Saddam Husein dan mempersenjati Irak, berperang dengan Iran di perbatasan selama 8 tahun, 1980-1988. Sementara di Afganistan yang sekuler, pemerintah sosialis-komunis di Kabul meminta bantuan Uni Soviet menghadang Mujahidin dan Taliban yang disponsori Arab Saudi dan Amerika Serikat, selama 14 tahun, 1978-1992, sebelum akhirnya dimenangkan Mujahidin.
Berbede dari gejolak ideologis nasionalisme menuju Islamisme di Timteng, Indocina menjadi arena pertarungan terbuka antara Kremlin-Beijing dan Washington di Vietnam termasuk Laos dan Kamboja. Terusirnya Perancis dari Vietnam Utara oleh nasionalis-komunis 1957, mendorong Amerika Serikat terjung langsung ke hutan dan lembah, sejak 1961 pasca terbunuhnya Kennedy digantikan Lyndon Jhonson sampai pemerintahan Nixon menuju Ford tahun 1974. Perang geopolitik ini, kekalahan terbesar AS di Asia, membunuh 2 juta penduduk Vietnam dan 56 ribu tentara AS. Lalu dunia disuguhi tentara superman, Rambo, cerita khayal yang terus dipertontonkan sampai hari ini.
AS terusir dari Indochina meski satu dekade sebelumnya bergembira setelah militer Indonesia yang disponsori dengan murah meriah berhasil menumbangkan PKI dan Sukarno anti--imperialisme yang bisa mengunci Australia, Singapura dan Malaysia.Terbunuh sekitar 500 ribu sampai 2 juta anggota dan simpatisan PKI, serta mengubah politik Indonesia dari negara pelopor aliansi geopolitik non-blok menjadi negara boneka blok Barat sampai tumbangnya Soeharto 1998.
Periode ideologis Perang Dingin dinyatakan berakhir dengan keputusan geopolitik penting di akhir abad ke--20 oleh Gorbachev dan Polit Biro tahun 1991. Mengubah Uni Soviet menjadi 14 negara otonom termasuk Rusia. Di perbatasan Eropa Timur terdapat Ukraina, Belarusia, Latvia, Estonia, Lituania, yang kemudian basis konflik EU-AS dan Rusia pada periode Global War on Terrorism sampai sekarang. Sementara di bagian selatan terdapat Kazakstan, Uzbekistan, Kyrgistan, Turkmenistan dan Tajikistan, yang menjadi basis konsolidasi China dan Rusia dalam periode GWOT sampai hari ini.
Perubahan di atas disambut gembira blok-Barat dan dimulai upaya memasukan negara-negara satelit ke dalam Uni Eropa dan aliansi militer NATO. Sementara pergolakan akhir perang dingin di Yugoslavia berujung seteru berdarah atas nama ras dan agama. Perang 4 tahun itu, 1991-1995, membagi negeri Josep Tito itu ke dalam 5 negara berdaulat, antara lain Serbia, Kroasia, Slovenia, Bosnia-Herzegovina, Makedonia dan belakangan Montenegro dan Kosovo. Perang ini nyaris mempertemukan AS dan Rusia dalam konflik terbuka.
Lain halnya di Afrika, akhir Perang Dingin membuka perang saudara antar suku di Rwanda 1994, Somalia 1992-3, Kongo 1998 dan berakhirnya pemerintahan Apartheid di Afsel 1994. Perang di Afrika tidak berpengaruh secara geopolitik tetapi memicu atensi internasional dengan tanggap krisis kemanusiaan. Patut dicatat sebagian Afrika selama Perang Dingin menjadi eksperimentasi pembangunan ekonomi blok-Barat dan terbukti gagal. Afrika ditinggalkan AS dan blok Barat yang lalu perlahan dikendalikan ekonomi China selama GWOT sampai hari ini, terutama setelah Libya, negara paling makmur dan pelopor Afrika bersatu dihancurkan AS dan NATO tahun 2011.
𝗠𝗼𝗺𝗲𝗻 𝗨𝗻𝗶𝗽𝗼𝗹𝗮𝗿, 𝗞𝗼𝗻𝘀𝗼𝗹𝗶𝗱𝗮𝘀𝗶 𝗞𝗲𝗸𝘂𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗚𝗹𝗼𝗯𝗮𝗹𝗶𝘀
Periode 1990-2001 adalah momen unipolar dalam geopolitik dunia di mana Amerika Serikat, pusat blok kapitalis, menjadi pusat dengan sekutu Uni Eropa dan NATO di seberang Atlantik. Rusia berantakan di tangan Yeltsin, ekonomi dikendalikan oligarki transnasional selama satu dekade dan perang chechnya 4 tahun, 1994-1999, dikompori CIA dan Arab Saudi membiayai jihadis dari kawasan Kaukus. Sementara Timur Tengah absen dari perang proksi setelah Irak menduduki Kuwait dan diusir AS tahun 1991.
Dalam momen unipolar ini, agenda globalisasi ekonomi dunia berlangsung di bawah kendali Bill Clinton selama 2 periode pemerintahannya, estafet kebijakan ekonomi neoliberal warisan Reagan dan Thatcher sebelum Perang Dingin berakhir. China menjadi rekan bisnis kekuatan globalis Barat, tempat produksi manufaktur dan teknologi. Perusahaan multi-nasional berkembang biak dan China termasuk India dijadikan markas produksi, padat karya dan berbiaya murah, dalam rantai ekonomi global.
Konsolidasi ini pun mengikat negara-negara Uni Eropa termasuk Inggris yang memperkenalkan ekonomi jalan ketiga di bawah kendali John Brown dan Tony Blair dari Partai Buruh, 1997-2010. Sementara di AS sektor industri manufaktur berlahan beralih ke Cina dan negara-negara lain. Sementara industri jasa dan teknologi informasi berkembang pesat di bawah Bill Gates, Soros, termasuk tentakel media massa sebagai corong propaganda globalisasi.
Sampai akhir periode terbentuk satu kekuatan globalis dalam momen unipolar di blok-Barat. Partai politik dan korporasi transnasional bersekutu dalam suatu barisan bersama aparatus ideologis seperti NGO internasional, universitas dan lembaga-lembaga Think Tank. Aliansi keamanan lama, NATO, tampil kokoh sendiri, sementara Uni Eropa makin berakar dalam sistem ekonomi-politik neoliberal yang dikendalikan Washington.
Dalam semangat American Exceptionalism di tahun pertama abad ke-21, kekuatan kekuatan globalis, dengan AIPAC sebagai pengendali, menargetkan Republik Islam Iran. Dibutuhkan ancaman global untuk mengepung dan menghabisi Khomeini yang anti Israel, membiayai Hamas dan Hezbollah di selatan Libanon. Demikianlah dunia disuguhkan aksi teror Twin Tower di New York, pusat ekonomi global, 11 september 2001. Dibuka periode perang terhadap terorisme, yang telah disiapkan matang, menghabisi 7 negara Islam sekuler anti-Amerika, menuju Iran, sebagaimana testimoni Jenderal Wesley Clark, mantan Komandan NATO, pada tahun 2003.
Periode Global War on Terrorism, GWOT, dimulai dengan deklarasi Bush seminggu setelah kejadian, 20 September 2001. Osama bin dan Alqaida dikejar tapi tidak ditangkap dan dihancurkan sekejab. Dibiarkan menakuti dunia bertahun-tahun, lalu diberantas setelah tak lagi berguna. Tujuan utama menguasai Afganistan, sebagai basis di Asia Tengah menuju Timur Tengah dan membendung bakal pengaruh Rusia di bawah Putin yang anti-globalis sejak ditunjuk sebagai Presiden pada Mei 2000. Kendati Rusia dan China mendukung GWOT, dukungan itu memiliki tujuan geopolitik berbeda untuk kedua negara. Rusia butuh koalisi dengan AS untuk perangi teroris di Kaukus, tentu dengan sikap waspada akan muslihat CIA, sementara China mendapat sinyal masuk ke WTO tahun 2002 sekaligus mengantisipasi Xinjiang Uighur, provinsi otonom paling barat yang kaya minyak dan gas itu, menjadi sarang gerakan teroris.
Tak jelas hasil 2 tahun di Afganistan, sekretaris negara, Collin Powel, menyatakan perang terhadap Irak dengan dalil memiliki WMOD dan mendukung teroris. Kebohongan terbuka di depan Dewan Keamanan PBB, mengawali penghancuran kota Baghdad tahun 2003, memicu perang sipil Suni-Siah 2004-2006, dan Saddam dihukum gantung tahun 2005.Pemerintahan koalisi berganti-ganti dan perang sipil terus berlanjut sampai 2009, membuka kesempatan radikalisasi gerakan islamis wahabi, sampai menjelmakan ISIS di bawah pengawasan AS di kota Mosul.
Sebelum ISIS dihadirkan, percobaan Arab Spring dilakukan dengan kemasan berita dan monopoli informasi. Facebook, milik Zukenberg, menjadi sarana konsolidasi gerakan anti-Qaddafi, anti-Mubarak dan anti-Assad, tiga pemimpin sekuler yang kritis terhadap agenda koalisi AS, Uni Eropa, NATO, Arab Saudi dan Israel. Gerakan ini awalnya tidak memuaskan AS di Kairo karena meloloskan Morsi dari Ikhwanul Muslim sebagai presiden 2012 yang kemudian dikudeta Fatah El-Sisi tahun 2013.
Berhasil menjatuh Qaddafi di Tripoli, menggunakan kelompok jihadis di Benghazi dengan dukungan bom udara NATO sekaligus dibayar dengan dibunuhnya Duta Besar AS Cristopher Stevens di kota tersebut dan hancurnya Libya pasca Qaddafi. Kegagalan politik luar negeri AS dan Hillary Clinton, sekretaris negara kala, sekaligus salah satu isu utama di balik ketidakpercayaan publik terhadap dirinya dalam Pilpres 2016. Skandal ini merapatkan barisan CIA, FBI, partai Demokrat dan Media Massa globalis, menghadang Trump dengan propaganda russiagate dan memburu jurnalisme investigatif seperti Wikileaks dan Julian Assage yang dijadikan sumber informasi membongkar kelalaian dan kejahatan Hillary lainnya.
𝗠𝗼𝗺𝗲𝗻 𝗠𝘂𝗹𝘁𝗶𝗽𝗼𝗹𝗮𝗿, 𝗥𝘂𝘀𝗶𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗖𝗵𝗶𝗻𝗮
Selama dekade kedua GWOT, 2011-2019, perilaku geopolitik kekuatan globalis semakin tidak terkendali. Bersembunyi di balik paras lugu Obama, intervensi militer dan manipulasi diplomasi dilakukan di titik-titik sentral geopolitik. Kekuatan ini, bukannya menghancurkan ISIS, malah menggunakan gerakan teror ini sebagai proksi angkatan darat AS, bergerak melewati perbatasan dari Irak bagian utara menuju Damaskus. Ibu kota Suriah ini terancam sementara Raqqa, separuh Alepo, Daraa dan Der-Zoir sudah dikuasai tentara bayaran berjubah hitam ini. Tentara Assad yang sedang menggempur atau menghadang serangan, berkali-kali dibom dan menjadi skandal tetapi ditutupi media global.
Invasi globalis ke Suriah, bertopeng ISIS, membuat berang Rusia dan Iran, dengan kepentingan berbeda. Atas permintaan resmi Assad, SU 27 dan SU 35 dari pangkalan militer Rusia di lepas pantai Latakia mengusir pesawat-pesawat udara AS yang berkeliaran di langit Suriah. Sejak September 2015, peta pertarungan geopolitik di Suriah berbalik arah, memperkuat pengaruh Putin di Timur Tengah. Erdogan yang pelin-pelan terpaksa bergandeng tangan dengan Khomeini bersama Putin. Turki, kedua terbesar di NATO, merapuhkan konsolidasi sayap militer globalis. Dari situ, publik disuguhi berita dari corong propaganda tentang White Helmet, organisasi teroris berkedok aktivis tenaga medis yang dibiayai resmi AS dan Inggris, Assad menggunakan senjata biologis, atau Assad membombardir rumah sakit, dan propaganda lainnya.
Eksperimen gagal di Suriah tidak terlepas dari eksperimen globalis yang terlalu berani di Ukraina, negara batas antara Rusia dan Eropa versi globalis, tahun 2014. Sama seperti kejadian di Suriah 2011, Victoria Nuland, dubes AS, turun ke jalan bersama demostran fasis di Kiev. Demonstrasi didanai, disiapkan matang sebelumnya, akhirnya menjatuhkan Yanokovitch pro-Rusia dengan dugaan korupsi. Ukraina berdarah, wilayah timur, Donetsk dan Luganks, berontak memisahkan diri, dan Crimea, wilayah paling strategis bagi geopolitik Kremlin, diambil Putin dari Ukraina. Dipasangnya Poroshenko, presiden boneka EU-NATO, justru semakin melemahkan pengaruh globalis di kawasan Eropa Timur dan memaksa Angela Merkel Jerman dan Immanuel Macron Perancis bernegosiasi dengan Vladimir Putin, sampai hari ini.
Pertarungan geopolitik di Suriah dan Ukraina adalah terakhir dan paling berbahaya bagi dunia, dibandingkan upaya globalis menggantikan Maduro di Venezuela atau upaya memisahkan Hongkong dari China. Timur Tengah dan Eropa Timur merupakan kawasan strategis dan taktis bagi kepentingan ekonomi, politik dan kemanan Rusia dan China, dua negara pemegang veto yang kian kompak sejak 2011. Dalam seteru ini, pada akhirnya Iran, Rusia dan Turki bersatu sementara AS, Arab Saudi dan Israel keluar dari gelanggang dengan sejumlah trik yang tak berguna. Sekali lagi, disebut seteru paling berbahaya pasca Perang Dingin terutama karena ancaman perang nuklir sangat nyata antara Putin dan kekuatan globalis di balik Obama.
Dalam arsitektur geopolitik baru itu, Rusia bermain dengan apik, termasuk bernegosiasi dengan bin salman dan netanyahu. Ankara membeli sistem pertahanan udara tercanggih, S-400, dan Moscow membangun reaktor nuklir untuk Turki. Guncangan terbesar di dalam NATO setelah upaya kudeta terhadap Erdogan tahun 2016. Sementara dalam kaitan dengan seteru abadi antara Iran dan Israel, Rusia mengambil posisi penyeimbang kendati pun tahu persis Benyamin Netanyahu menggunakan Trump, membatalkan Kesepakatan Nuklir Iran warisan Obama dan NATO.
Dengan demikian memasuki periode akhir dekade kedua GWOT ini, Rusia menjadi kunci stabilitas keamanan global, termasuk kawasan Eropa. Di saat bersamaan, China menjadi kekuatan ekonomi dunia terbesar kedua. Aliansi keamanan dan integrasi ekonomi antara Rusia dan China terbentuk selama periode ini. Manuver globalis selama satu dekade mendorong Putin dan Xi Jinping bersekutu, suatu persekutuan yang diprediksi akan bertahan 5 sampai 10 tahun ke depan. Aliansi ini juga nantinya bergantung kepada hasil akhir pertarungan globalis di balik Joe Biden melawan Donald Trump melalui pandemi Covid 19, menuju peristiwa paling menentukan geopolitik dunia 2020, yaitu pemilihan presiden AS November 2020.
Putin dan Xi Jinping memegang kartu penentu masing-masing, dalam berhadapan dengan Trump maupun kekuatan globalis di balik partai Demokrat. Putin dan Xi akan terus berkuasa setidaknya 4 tahun ke depan, menanti orientasi geopolitik AS pasca pilpres AS. Sebagaimana akan diuraikan pandemi covid 19, adalah taruhan hidup mati dua kubu mewakili AS ke masa depan geopolitik baru. Karena itu, perhatian terhadap pandemi Covid di AS memiliki arti sangat penting bagi masa depan ekonomi dunia, terutama masa depan kematian dan kehidupan dari hasil dan proses pertarungan geoplitik terkini membajak virus corona.
𝗣𝗮𝗻𝗱𝗲𝗺𝗶 𝗖𝗼𝘃𝗶𝗱 𝟭𝟵, 𝗣𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗖𝗮𝘁𝘂𝗿 𝗚𝗲𝗼𝗽𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸 𝟮𝟬𝟮𝟬
Pandemi covid 19 mendadak mengingatkan kita tentang hubungan tak terpisahkan antara kehidupan dan kematian dalam politik dunia. Pengalaman pertarungan antar-kekuatan dunia lintas periode, tidak bisa menyembunyikan muslihat perang atas kehidupan manusia, atas nama ras, ideologi dan agama. Bahwa tubuh kita sedang dipertaruhkan di atas papan catur geopolitik dunia.
Kendati demikian, pengalaman geopolitik 10 tahun terakhir, pelan tapi pasti, mendorong pembacaan yang berbeda terhadap pandemi kali ini. Karena kita tidak mau mengulangi lagi keterlambatan kita memahami muslihat Global War on Terrorism yang telah membunuh jutaan manusia, meninggalkan luka dan dendam di antara sesama umat beragama dan membuat sebagian penduduk Timur Tengah meninggalkan rumah, tanah kelahirannya, tanpa kepastian kapan kembali dan berdamai dengan masa lalu berdarah. Dari ingatan yang telat tiba itu, kita akhirnya menjejaki kematian akibat pandemi Covid 19 sebagai persoalan kemanusiaan dalam kekejaman geopolitik.
Mata kita pun tertuju ke pandemi Amerika Serikat yang hari ini telah membunuh 62.800 jiwa (2/5). Kematian masal ini berlansung dalam kemelut politik global yang mendera negera ini dalam tiga tahun terakhir dan melukai dunia selama lebih dari dua dekade. Kematian sudah pasti berkaitan dengan masalah penanganan covid, tetapi pandemi dan statistik angka kematian menjadi bahan seteru, isu utama pertarungan yang menentukan stabilitas politik dalam negeri dan masa depan geopolitik dunia yang multipolar, bersama China dan Rusia, di Asia dan Eropa.
Pandemi covid 19 tak lain adalah duel hidup-mati antara Donald Trump dan kelompok globalis, menuju pilpres November 2020 dan masa depan dua ideologi politik dunia. Donald Trump mewakili nasionalisme ekonomi, atau kekuatan politik baru yang disebut populis, di Amerika dan Eropa seperti Spanyol, Italia dan Inggris. Sementara lawannya, kekuatan globalis, adalah kombinasi sejumlah kelompok kepentingan antara lain korporasi transnasional, bisnis keamanan, bisnis kesehatan, bisnis pangan dan teknologi-informasi, yang terbentuk sejak periode unipolar di bawah kendali Bill Clinton sampai Barack Obama.
Terpilihnya Trump tahun 2016 adalah kecelakaan sejarah bagi kekuatan globalis, panik dan tak percaya bahwa Washington tak lagi di bawah kendali mereka. Kita kembali teringat pidato pelantikan Preiden Trump dari atas podium, dikelilingi separuhnya keluarga dan politisi republikan dan separuhnya lagi perwakilan kekuatan globalis khususnya Barack Obama, Hillary yang kalah, dan Pelosi ketua senat yang murka. Salah satu bagian pidatonya berisi pernyataan yang mencekik leher globalis, "sejak hari ini dan seterusnya, rakyat Amerika kembali duduk di Gedung Putih". Bagian ini sering terlupakan, tak sengaja atau sengaja oleh media globalis, tetapi sebetulnya sangat penting untuk memahami seteru politik dalam negeri dan geopolitik dunia, sejak hari pertarungan dua ideologi itu dimulai.
Tiga tahun menuju pandemi 2020, berisi silih berganti terobosan berani untuk menjatuhkan Trump yang keras kepala. Upaya itu semakin gencar dan terorganisir dan mudah ditebak, menyusul pengaruh populisme Trump terhadap populisme Brexit di Inggris 2017 dan sejumlah negara Eropa. Perang dagang yang makin keras dengan China secara langsung mengganggu kepentingan integrasi bisnis globalis di berbagai kawasan, mengingat China sebagai simpul terpenting dalam rantai ekonomi global.
Demikianlah kita dapat meringkas pertarungan Trump dan kekuatan globalis ke dalam 3 jenis langkah beresiko di atas papan catur geopolitik Amerika dan politik dunia, khususnya terhadap China, Rusia, Iran, Venezuela, Israel dan Inggris dan negara-negara utama Uni Eropa. Dari ketiga langkah atau jurus itu, tentu langkah ketiga, langkah terakhir, berlangsung melalui virus corona dan taruhan angka atau rating kematian, untuk memastikan siapa yang harus terkubur di bulan November, Trump atau Biden, populis atau globalis.
Langkah pertama, adalah berusaha menjatuhkan kepercayaan publik Amerika dan dunia terhadap populisme Trump dengan menyerang kabinet dan tim penasihatnya. Isu yang dimainkan adalah dugaan campur tangan rusia dalam pilpres yang menyingkirkan ratu globalis, Hillary, isteri Bill Clinton, mantan sekretaris negara Obama periode pertama sebelum digantikan John Kerry. Upaya ini dilakukan secara sistematis sejak awal pemerintah Trump. Di atas papan catur, satu per satu benteng, perwira, kuda dan bahkan perdana menteri dikunci dan dimatikan.
Russiagate, demikian skandal rekayasa ini disebut, menjatuhkan Rex Tillerson, sekretaris negara pertama Trump sebelum digantikan Mike Pompeo. Kedekatannya dengan Putin, semasa menjabat ketua CEO Exxon Mobile yang beroperasi di Rusia, dinarasikan sebagai bagian dari boneka Putin di Gedung Putih. Selain Tillerson, Jenderal Michael Flynn, penasihat keamanan Trump, dikabarkan media globalis setiap hari, sebagai jenderal yang menjual rahasia AS ke Kremlin. Pasalnya, pernah diundang media RussiaToday News, duduk berdampingan dengan Putin di Kremlin. Termasuk yang harus dikurbankan trump adalah Steve Bannon, ketua tim pemenangan yang kemudian keliling Eropa dan dunia mendukung gerakan populis.
Konsekuensi russiagate sangat serius bagi pemerintahan Trump. Untuk memastikan bahwa dirinya bukan anteknya Putin, Trump memberi sanksi ekonomi ke Rusia tapi tidak berupa ancaman kebijakan militer. Usir mengusir diplomat pernah terjadi, merespon galaknya serangan globalis melalui partai Demokrat di Kongres. Demikian juga eskalasi hubungan dengan Iran rutin dilakukan untuk mengakomodasi sentimen anti Iran dari AIPAC, kelompok globalis pragmatis, yang menjadi corong Netanyahu di Washington. Jared Kushner, anak mantu Trump yang Yahudi itu, lalu tampil untuk urusan diplomasi AS dengan Tel Aviv dan Riyadh. Trump, yang menang pilpres karena anti-perang itu, tersandera dan terpaksa membawa AS kembali ke bisnis keamanan dan militer.
Langkah kedua, berupa serangan langsung ke sang presiden dengan jurus konstitusi. Upaya pemaksulan, skak mati, terhadap Trump dimulai tahun 2019, menempuh proses berbelit-belit, dan pada akhirnya semakin menyingkap skandal Joe Biden salah gunakan jabatan sebagai wakil presiden, tahun 2015-2016. Dua tuduhan, tak sambung, tetapi tetap dipaksakan. Tuduhan pertama, tuduhan awal, Trump berkomplot dengan Putin. Pada fase ini sayap intelijen globalis di CIA dan FBI berada di garda depan, memberi kesaksian dan analisis yang tak masuk akal tetapi tetap dibahas sebaliknya di media globalis seperti CNN dan MSNBC termasuk New York Times dan Washington Post yang sudah dibeli jeff Bezos, pemilik Amazon.
Tuduhan kedua, Trump salah gunakan jabatan, datang belakangan. Trump dituduh meminta presiden Ukraina baru terpilih, Zelensky, untuk memeriksa anak Joe Biden dalam kasus korupsi di Ukraina. Ternyata tuduhan ini bohong setelah presiden merilis seluruh isi percakapan telpon dgn presiden Ukraina itu. Tetapi tak digubris Nancy Pelosi dan Chuck Schumer yang mengontrol Kongres. Proses tertunda sebulan lalu dnyatakan tak berdasar oleh keputusan akhir senat yang dikuasai partai Republik. Keputusan presiden bebas dari pemaksulan, 5 februari 2020, sebulan sebelum pandemi melanda New York dan kota-kota besar lain.
Sama seperti dilema Trump dalam menghadapi langkah pertama globalis, presiden merespon langkah globalis kedua ini dengan memobilisasi elemen globalis yang pragmatis di sayap militer dan bisnis minyak-energi. Dalam posisi yang tersudut, Trump menaikkan anggaran militer secara fantastis, 738 milyar dolar. Ancaman serangan militer ke Caracas dan Teheran diperkeras, sanksi ekonomi dikunci mati, dan bahkan aset Venezuela di Bank Internasional Inggris dibekukan. Bisnis industri militer harus diprioritaskan terutama karena dalam seteru abadi antara populis dan globalis ini, penentu nasib Trump ada di tangan netralitas militer dan kekompakan partai Republik. Bahkan dalam kesulitan kelola pandemi sejak Maret, Trump tetap membiarkan Mike Pompeo dan militer AS meningkatkan eskalasi di laut Karibia dan selat Hormuz.
Langkah Ketiga, membajak SARS-Cov-2 atau Covid 19. Langkah globalis kali ini sangat rapi dan semakin menyingkapkan pandemi sebagai skenario terakhir menuju November 2020. Setelah percobaan dengan tubuh teroris, GWOT, balik menjadi insentif populisme dalam dan luar negeri, eksperimen berskala global ini dipusatkan di rumah sendiri, sebagaimana 9/11 2001, mengorbankan 3000 jiwa, sebagian besar warga AS sendiri. Lokasi teror tetap sama, Kota New York, pusat kendali kekuatan globalis di muka bumi, sekaligus kota markas PBB termasuk WHO.
Trump yang sebulan sebelumnya berhasil menghindar dari sergapan pemaksulan, berhadapan lagi dengan ujian baru. Tapi kali ini, tidak dengan teror kudeta atau konstitusi melainkan tubuh manusia, warga negaranya sbediri, yang harus dia selamatkan. Kuncian globalis kali ini lebih sempurna, termasuk mengontrol seluruh sistem kerja dan aparatus dunia kesehatan di dalam negeri dan WHO. Demikian halnya, tentakel media globalis di seluruh dunia dengan gencarnya, setiap hari, membentuk opini publik dunia dan pemerintahan.
Skenario pandemi menghajar Trump dan populisme bisa terdeteksi dengan sejumlah cara berikut. Pertama, memasang Dr Fauci sebagai corong medis globalis di dalam satuan tugas atasi pandemi. Ditunjuk sebagai kepala satgas, pakar globalis ini terus mendorong Trump untuk memberlakukan dan memperpanjang lockdown. Angka mati karena terpapar terus meningkat tajam dan dipersepsikan sebagai resiko abai terhadap protokol pencegahan isolasi dan lockdown. Debat dan kritik dari pakar epidemologi dan biomedis lainnya dihilangkan dari ruang publik oleh media globalis secara serempak dan rutin.
Hadirnya Fauci di Gedung Putih adalah untuk mempermalukan trump yang dipersepsi tidak ilmiah dan hanya fokus pada pemilihan ekonomi dan bukan cegah pandemi. Berkali-kali pakar ini meralat Trump di depan media dan belakangan dibajak CNN dan MSNBC untuk menyerang sang Presiden. Sebagaimana diketahui, Fauci adalah orang dekat Bill Gates dan Hillary Clinton, yang dipromosikan sebagai pakar terbaik AS sejak masa Obama.
Kedua, propaganda lockdown sebagai solusi satu-satunya. Selain Fauci, pakar medis dan epidemologi, yang berafiliasi dengan Bill Gates, dikerahkan untuk membentuk persepsi publik melalui tentakel media globalis anti-Trump yang sudah tersedia. Lockdown adalah senjata politik globalis yang mematikan terhadap perhitungan ekonomi nasional dalam situasi pandemi. Tidak hanya Coumo, gubernur New York dari Demokrat itu, bertambah gubernur lain dari Republik yang akhirnya menerapkan lockdown ketat atau terbatas. Dengan dukungan protokol WHO yang sudah dibajak Bill Gates, lockdown menjadi pilihan cegah pandemi tanpa debat dan diskusi kepakaran atau evaluasi terhadap hasil lockdown dari segi epidemologi.
Ketiga, mengontrol dan mengendalikan WHO. Sebagai donor terbesar kedua setelah AS, Bill Gates memastikan Dr Tedros, Direktur WHO, memilih isolasi dan lockdown sebagai panduan global cegah pandemi Covid 19. Tujuan kontrol terhadap badan kesehatan Dunia ini bukan ke dalam negeri AS tetapi lebih diarahkan ke negara-negara dan publik dunia. Bahwasanya, vaksin dan anti-viral sedang diproduksi dan jalan terbaik atasi pandemi adalah sanitasi dan isolasi.
Untuk meyakinkan publik dunia dan publik AS, pengalaman lockdown Wuhan dijadikan rujukan atau kisah sukses atasi pandemi. China pun diseret ke dalam seteru globalis dan Trump di AS. Sang presiden terus menyerang China sebagai biang kerok pandemi karena tak jujur sampaikan ke dunia ketika gejala pandemi terdeteksi pertama kali di kota Wuhan. Dengan ini, WHO dijadikan arena seteru antara Trump dan kubu Bill Gates yang didukung China melalui diplomasi kambing hitam.
Keempat, membandingkan dua model kelembagaan kelola pandemi. Taktik ini berlangsung rutin, antara model kelola pandemi Trump yang berorientasi cegah 'kematian ekonomi' dan kelola pandemi Coumo beroirientasi cegah 'kematian biologis'. Tidak hanya anti-Trump, gubernur ini dengan sengaja ditampilkan tentakel media globalis setiap hari. Youtube, misalkan, menayangkan siaran langsung keterangan harian sang gubernur dan selalu menempati urutan teratas dalam tampilan youtube dan google. Popularitas Coumo melalui pandemi ini disesuaikan dengan kebutuhan elektoral demokrat globalis mendapatkan calon wakil presiden bagi Joe Biden yang sudah menyingkirkan Bernie Sanders.
Empat taktik globalis, membajak pandemi Covid 19, menghadirkan ke publik dunia para pemeran kunci dari kekuatan globalis. Dengan kesehatan sebagai pokok perkara geopolitik, maka kita makin paham pergeseran strategi globalis membekap Trump dengan isu tata kelola kesehatan, yang sepenuhnya sudah dikendalikan Bill Gates, Tedros, Coumo dan aktor-aktor kunci di balik kekuatan globalis. Agenda globalis selama 5 tahun di Davos, berakhir dengan tema kesehatan Januari 2020, bukan rahasia lagi. Membuka kotak pandora, membutuhkan krisis kesehatan dunia, untuk mengembalikan kekuatan ini sebagai pengendali, di Gedung Putih.
Eksperimen geopolitik Covid 19 ini tentu membawa sejumlah konsekuensi di dalam negeri dan di dalam hubungan dengan kekuatan multipolar baru. Pertama, proses dan dinamika kelola pandemi ini akan menentukan orientasi politik warga AS. Terbuka kemungkinan makin konsolidasi konstiuensi berbasis parpol, demokrat atau republik, globalis atau populis. Juga terbuka celah debat publik yang rasional dan kritis terkait dua model kelola pandemi dan mengubah preferensi politik pada pilpres mendatang.Termasuk munculnya komunitas warga dengan kesadaran geopolitik dan bisa melampaui dikotomi globalis dan populis dalam wacana politik elektoral.
Kedua, proses dan hasil akhir seteru politik pandemi ini akan berpengaruh terhadap diplomasi geopolitik China, Rusia dan EU menjelang pilpres November 2020. Kerasnya reaksi China terhadap tudingan Trump boleh jadi menunjukkan koalisinya dengan kekuatan globalis demokrat atau semata mempertajam kisruh untuk menjatuhkan reputasi AS sebagai kekuatan geopolitik strategis. Sementara Putin, lagi bersibuk dengan pandemi dalam negeri, tentu mengharapkan Trump yang memenangkan politik pandemi ini karena Trump sejatinya bukan anti-Rusia dibanding kekuatan globalis yang sekian lama terpapar sindrom cold war mentality. Sekaligus memperkuat daya tawar aliansi keamanan dengan China yang rentan mengalami eskalasi konflik militer dengan AS di bawah kendali Trump.
Ketiga, terpenting dari dua sebelumnya, skenario globalis memenangkan simpati publik melampaui basis politik tradisional, akan berpengaruh kembalinya kekuatan ini ke gedung putih, bukan lagi sebagai deep state, negara di dalam negara, tetapi sebagai negara globalis seperti masa unipolar 1992-2016. Di atas semunya, kemenangan demokrat dengan Biden-Coumo akan menghadirkan kontrol penuh kekuatan globalis, membajak kebijakan luar negeri AS, di bidang kesehatan, pangan dan teknologi informasi berskala internasional.
Kendati demikian, skenario kontrol 3 bidang ini tidak mudah dalam arsitektur geopolitik multipolar 2020 dan seterusnya. Jika sebaliknya terjadi, Trump tetap berkuasa, maka populisme akan menjadi kekuatan baru di berbagai negara pasca pilpres dan kubu globalis sekali lagi menguburkan mimpi oligarki non-negara mengontrol Amerika dan dunia. Tapi tidak ditutup kemungkinan, sebanyak apa pun kurban manusia dipertaruhkan, tidak membantu salah satu kubu berkuasa penuh pasca pilpres. Sekaligus menandai akhir petualangan sebuah imperium, menjadi rongsokan sejarah, warisan PD II dan Perang Dingin, seperti Uni Soviet yang berbesar hati mengubah diri, tahun 1991.(AV)
Komentar
Posting Komentar