Langsung ke konten utama

Kewirausahaan - Jurnal

Repost Jurnal Skripsi 16 Nov'2018

MENINGKATKAN MOTIVASI BERWIRAUSAHA
BAGI MAHASISWA
SEKOLAH TINGGI PASTORAL KEUSKUPAN AGUNG KUPANG
MELALUI MATA KULIAH KEWIRAUSAHAAN

giosalbinveronica@gmail.com


                                                                       
                                                                   ABSTRACT

The writing of this scientific paper aims to find out the motivation for entrepreneurship in VII semester students of the 2018/2019 academic year through entrepreneurship courses. As for the background of this writing because of the large number of unemployed due to the large population with increasing population growth not accompanied by increased employment. Entrepreneurship has the potential to solve this problem.
In the theoretical basis the author discusses about the motivation of entrepreneurship, entrepreneurship, supporting factors and inhibitors of entrepreneurship, the benefits of entrepreneurship, Entrepreneurship in the course and the biblical foundation that talks about the old Theopreneur agreement and the new agreement Christopreneurs. The theological foundation is taken from the document Gaudium Et Spes art. 34 concerning the value of human activities while the pastoral basis on which this writing is based is Centesimus Annus Article 31 concerning humans as creatures of Imago Dei and Labor Exercises art.25 concerning human work. The hypothesis developed in writing is the low motivation of entrepreneurship among VII semester students so that the application of entrepreneurship courses to educational institutions will increase the motivation of entrepreneurship and give birth to new entrepreneurs who are able to think critically, creatively and innovatively and are able to read business opportunities to start entrepreneurial activities. In this writing the author uses descriptive research models and qualitative approaches. This method aims to process natural data found in the field without engineering, and displays in the form of a picture of a systematic and real situation in the form of a collection of sentences. Based on the results of interview data analysis the author knows that the understanding of students about entrepreneurship, factors that support entrepreneurship activities are very good but the motivation for entrepreneurship is still low due to inhibiting factors such as laziness, unwillingness to take risks, no willingness from within, fear of experiencing failure, limited capital, low human resources, lack of practical experience, lack of appropriate opportunities. From the existing problems and inhibiting factors, the effort that can be made is to continue to provide motivation, stimulate their entrepreneurial spirit by holding seminars and holding entrepreneurial trainings.

Keywords: Entrepreneurial Motivation, Entrepreneurship Course.


PENDAHULUAN

Pengangguran merupakan masalah serius di Indonesia yang hingga saat ini masih sulit diatasi. Penyebabnya karena jumlah penduduk yang besar dan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat, tidak disertai bertambahnya lapangan kerja. Tingkat pengangguran terdidik yang berstatus sarjanapun terus meningkat di setiap tahunnya. Ditambah dengan rendahnya motivasi generasi muda Indonesia dalam berwirausaha. Salah satu solusi yang ditempuh untuk mengatasi pengangguran di Indonesia adalah dengan menciptakan wirausaha. Dengan berwirausaha, akan membantu pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan baru. Pendidikan kewirausahaan diterapkan di perguruan tinggi sebagai upaya menciptakan wirausaha-wirausaha muda berstatus sarjana yang berkompeten untuk ikut membantu pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran. Pendidikan kewirausahaan tidak hanya memberikan landasan teoritis mengenai konsep kewirausahaan tetapi perlu membentuk sikap, perilaku, dan pola pikir (mindset) seorang wirausaha.

Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang merupakan lembaga pendidikan tinggi yang sejak diterapkannya kurikulum baru KKNI telah memasukan kewirausahaan sebagai salah satu mata kuliah. Hal ini sejalan dengan  visi lembaga yakni menjadi lembaga pendidikan tinggi keagamaan katolik yang unggul dan kompetitif di era globalisasi. Menghasilkan tenaga pendidik yang profesional, tetapi juga memiliki jiwa dan perilaku yang berwawasan global. Selain menjadi Pendidik, Peneliti dan Penulis serta Penyuluh juga wirausaha yakni menjadi wirausahawan yang kreatif, edukatif dalam bidang usaha produktif. Para lulusan diharapkan menjadi pioner dalam berbagai bidang kehidupan termasuk bidang perekonomian. Namun, tidak sedikit para lulusan dari perguruan tersebut justru menambah jumlah barisan para pencari loker alias lowongan kerja. Fenomena  diatas hendaknya tidak berlaku dalam lingkungan Civitas Akademika Sekolah Tinggi Pastoral angkatan kurikulum KKNI karena telah dibekali dan dirangsang  untuk tidak terpancing pada pencarian kerja tetapi diharapkan mereka dapat membuka lapangan usaha baru dan mandiri dengan proses pembelajaran dan pengalaman yang didapatkan ketika belajar mata kuliah kewirausahaan. Pendidikan kewirausahaan diterap berupa teori diberikan di dalam kelas juga berupa praktek kerja melalui kegiatan membuka usaha-usaha kecil yang dikelola oleh mahasiswa secara pribadi atau sesuai dengan kelompoknya untuk pembekalan sebelum mahasiswa terjun menjadi wirausaha. Sayangnya, motivasi mahasiswa dalam melaksanakan wirausaha dikarenakan hanya ingin mendapatkan nilai dan memenuhi syarat kuliah. Sebagian  mahasiswa masih takut terjun di bidang wirausaha karena merasa belum mempunyai keterampilan dalam mengelola bisnis dan dibayangi resiko ketidakberhasilan. Apabila mahasiswa mengetahui manfaat berwirausaha, maka mereka dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain dan menghasilkan pendapatan yang besar dan menguntungkan.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini sebagai berikut:

1.    Untuk mengetahui pemahaman mahasiswa semester VII Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang Tahun Akademik 2018/2019 tentang kewirausahaan.

2.    Untuk mengetahui faktor-faktor pendukung maupun penghambat rendahnya motivasi berwirausaha dikalangan mahasiswa semester VII Tahun Akademik 2018/2019.

3.    Untuk mengetahui upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi berwirausaha bagi mahasiswa semester VII Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang Tahun Akademik 2018/2019.

TELAAH PUSTAKA DAN HIPOTESIS

Pengertian Motivasi

Motivasi berasal dari kata “motif” yang diartikan sebagai daya upaya yang membuat seseorang terdorong untuk melakukan sesuatu. Motivasi berasal dari bahasa latin “Movereartinya tergerak. Motivasi adalah suatu energi penggerak, pengarah dan memperkuat tingkah laku. Motivasi belajar dapat dilihat dari karakter tingkah laku siswa yang menyangkut minat, ketajaman perhatian, konsentrasi dan tekun mencapai tujuan, (Steers dan Peters, 1991:5).

Pengertian Kewirausahaan

Istilah kewirausahaan (entrepreneur) pertama kali diperkenalkan pada awal abad ke-18 oleh ekonom Perancis, Richard Cantillon. Menurutnya, entrepreneur adalah “agent whobuys means of production at certain prices in order to combine them”. Secara etimologi wiraswasta terdiri dari tiga kata yaitu wira yang berarti manusia unggul, teladan, berani berbudi luhur; swa artinya sendiri atau mandiri; sedangkan sta artinya berdiri. Menurut etimologi bahasa sanksekerta tersebut wiraswasta diartikan sebagai manusia yang memiliki keberanian, keteladanan dan keperkasaan dalam memenuhi kebutuhan serta memecahkan permasalahan hidup dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri. Kewirausahaan adalah proses dinamik untuk menciptakan tambahan kemakmuran, (Alma, 2011:33).

Pengertian Motivasi Dan Kewirausahaan Menurut Para Ahli

1.    Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli

    Menurut Wahjosumidjo dalam Rusdiana (2014:70), motivasi merupakan proses psikologi yang mencerminkan interaksi sikap, kebutuhan, persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang. Proses psikologi timbul akibat faktor dari dalam diri seseorang berupa kepribadian, sikap, pengalaman dan pendidikan, sedangkan dari luar diri seseorang berbagai faktor lain yang sangat kompleks. Berdasarkan penjelasan di atas, motivasi adalah suatu dorongan dari dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu berupa sikap, persepsi dan keputusan guna mencapai tujuan. Seperti halnya dengan berwirausaha, kunci sukses untuk berhasil menjadi wirausaha adalah adanya motivasi yang kuat untuk berwirausaha. Motivasi untuk menjadi seseorang yang berguna bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat melalui pencapaian prestasi kerja sebagai wirausaha.

     Motivasi juga dimaknai sebagai daya pendorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau keterampilan tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya, (Siagian, 2004:138).

Menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan, (Sardiman, 2006:71-73). Dari pengertian yang dikemukakan Mc. Donald ini mengandung tiga elemen penting yaitu bahwa motivasi mengawali terjadinya perubahan energi pada diri individu, motivasi diawali dengan munculnya rasa atau feeling, dan motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Menurut Sugihartono dkk. (2007:20) motivasi diartikan sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu dan yang memberi arah dan ketahanan pada tingkah laku tersebut. Baum (dalam Antonio, J.M.L.,2008:89)mendefinisikan motivasi sebagai pendorong penting yang mengarahkan tindakan seseorang terhadap tujuan terkait, dan dengan demikian memfokuskan perhatian seseorang dan menopang dalam pengambilan tindakan. A.M. Sardiman (2006:73) juga menjelaskan bahwa motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan berkaitan dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan, dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu. Semua ini didorong karena adanya tujuan, kebutuhan atau keinginan.

Dari beberapa definisi para ahli diatas penulis menarik kesimpulan bahwa motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong individu melakukan tindakan yang berkaitan dengan gejala kejiwaannya untuk mencapai tujuan tertentu.

2.    Pengertian Kewirausahaan Menurut Para Ahli

Kewirausahaan memiliki arti yang berbeda di antara para ahli atau sumber referensi untuk gravitasi yang berbeda dan penekanan.

1.    Thomas W Zimmerer, kewirausahaan adalah keinovasian aplikasi dan kreativitas untuk memecahkan masalah dan memanfaatkan peluang yang dihadapi setiap hari.

2.    Andrew J Dubrin, kewirausahaan adalah seorang yang menjalankan dan membangun bisnis yang inovatif.

3.    Robbin & Coulter, kewirausahaan adalah proses dimana seorang individu atau kelompok individu menggunakan upaya terorganisir dan peluang dan menciptakan nilai untuk tumbuh untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui inovasi dan keunikan, tidak peduli sumber daya apa yang digunakan saat ini.

4.    Raymond, kewirausahaan adalah seseorang yang inovatif, kreatif dan mampu berkreasi untuk meningkatkan kesejahteraan diri dalam lingkungan dan masyarakat.

5.    Kasmir, kewirausahaan adalah jiwa pemberani yang berani mengambil risiko untuk memulai bisnis di berbagai kesempatan.

6.    Peter F Drucker, Kemampuan untuk membuat atau menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda, mampu memanfaatkan peluang.

7.  Joseph Schumpeter, kewirausahaan adalah salah satu yang mendapat kesempatan dan menciptakan sebuah organisasi untuk mengejar kesempatan seperti itu, (Alma, 2005:20-21).

Dari definisi dan beberapa pendapat para ahli tentang kewirausahaan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa wirausaha adalah sebuah perilaku yang inovatif dan kreatif untuk memanfaatkan peluang yang ada dengan memperhitungkan resiko yang akan dihadapinya dalam persaingan bisnis dan dapat mengambil tindakan yang tepat guna untuk memastikan keberhasilan usahanya. Wirausaha bukanlah faktor keturunan atau bakat, tetapi sesuatu yang dapat dipelajari dan dikembangkan. Dengan demikian kegiatan berwirausaha dapat dijalankan oleh siapa saja.

Kewirausahaan/Entrepreneurship

Kewirausahaan (entrepreneur) dimaknai sebagai jiwa, semangat, sikap, perilaku dan potensi kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar, (Subijanto, 2012: 454-455)

Menurut Rambat Lupiyoadi (2007), mengatakan bahwa wirausaha adalah orang kreatif dan inovatif serta mampu mewujudkannya untuk peningkatan kesejahteraan diri, masyarakat dan lingkungannya. Seorang wirausaha tidak pernah lupa memikirkan kesejahteraan masyarakat sehingga mereka selalu berfikir kritis untuk selalu mencari inovasi dalam penciptaan produk untuk masyarakat. Seorang wirausaha senantiasa berfikir ke depan untuk mencapai kesuksesan, mereka juga tidak pernah berhenti menambah keterampilan yang mereka miliki. Wirausaha mencakup semua aspek pekerjaan, baik dari pedagang, pengusaha, karyawan swasta maupun pemerintahan. Siapa saja yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan mengembangkan ide dan meramu sumber daya untuk menemukan peluang (opportunity) dan perbaikan (preparation) hidup, itulah yang disebut sebagai wirausaha, (Soeparman Soemahamidjaja dalam Rusdiana, 2014). Menurut penjelasan di atas, wirausaha adalah seseorang yang mengaktualisasi potensi diri dalam berfikir kreatif dan inovatif untuk menciptakan produk baru dan bernilai tambah guna kepentingan bersama.

Menurut Kasmir (2006), kewirausahaan adalah suatu kemampuan menciptakan kegiatan usaha. Kemampuan menciptakan dan memerlukan adanya kreativitas dan inovasi dari yang sudah ada sebelumnya. Kemampuan berwirausaha yang kreatif dan inovatif dapat dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses, (Suryana, 2006:2). Peluang sukses di masa depan dapat diraih apabila seorang wirausaha benar-benar memanfaatkan peluang dengan baik dan mempunyai disiplin diri.

Menurut Zimmerer dalam Suryana (2006:14), kewirausahaan merupakan penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan memanfaatkan peluang yang dihadapi. Kreativitas diartikan sebagai kemampuan mengembangkan ide-ide dan menemukan cara-cara baru dalam memecahkan masalah, sedangkan inovasi diartikan sebagai kemampuan menerapkan kreativitas untuk memecahkan masalah dan peluang untuk meningkatkan kekayaan hidup. Kekuatan pemikiran wirausaha harus dinyatakan dengan pengetahuan akan berbagai pendekatan bisnis, tidak hanya pikiran yang tajam tetapi seorang wirausaha juga memiliki pengetahuan tentang keuangan dan masalah sosial. Pengetahuan ini dapat diperoleh melalui instansi terkait maupun sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Kewirausahaan memiliki berbagai nilai yang sangat diperlukan oleh peserta didik dan dapat ditanamkan melalui pendidikan kewirausahaan.

Stoner dalam Jamal Ma’mur Asmani (2011:5) menyatakan bahwa pada dasarnya kewirausahaan bergerak dari kebutuhan dasar manusia untuk berprestasi. Kewirausahaan memiliki andil dalam membentuk manusia untuk berkarya dan berfikir kreatif dalam menciptakan sesuatu yang baru untuk menjadi seorang inovator dan kreatifator. Kewirausahaan dibentuk pada diri seseorang melalui pendidikan atau pelatihan. Pendidikan atau pelatihan kewirausahaan merupakan proses pembelajaran konsep dan skill untuk mengenali peluang-peluang yang orang lain tidak mampu melihatnya. Kewirausahaan mengacu pada perilaku yang meliputi: pengambilan inisiatif dan mengorganisasi untuk mengubah sumber daya terhadap resiko dan kegagalan.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kewirausahaan adalah suatu kemampuan kreatif dan inovatif dalam menciptakan sesuatu yang baru memiliki manfaat bagi diri sendiri dan orang lain serta mampu menghadapi masalah dengan memanfaatkan peluang. Esensi kewirausahaan adalah menciptakan nilai tambah melalui proses pengkombinasian sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda agar dapat bersaing.

Tujuan Dan Manfaat Berwirausaha

1.    Tujuan Berwirausaha

   Pada dasarnya, kewirausahaan mempunyai beberapa tujuan tertentu, di antaranya adalah: meningkatkan jumlah wirausaha yang berkualitas, menyadarkan masyarakat atau memberikan kesadaran berwirausaha yang tangguh dan kuat terhadap masyarakat, menghasilkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, membudayakan semangat, sikap, perilaku dan kemampuan kewirausahaan di kalangan masyarakat, (Suryana, 2002:12). Selain itu, dengan berwirausaha setidaknya mengurangi angka pengangguran, membantu meningkatkan pembangunan bangsa serta memanfaatkan sumber daya yang ada agar tidak mubazir demi kesejahteraan banyak orang.

2.    Manfaat Berwirausaha

Adapun manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan berwirausaha, di antaranya adalah: menambah daya tampung tenaga kerja, sebagai generator pembangunan lingkungan, pribadi, distribusi, pemeliharaan lingkungan dan kesejahteraan, memberi contoh bagaimana bekerja keras, tekun dan memiliki pribadi unggul yang patuh diteladani, mendidik karyawan jadi orang mandiri, disiplin, tekun, jujur dalam menghadapi pekerjaan, mendidik masyarakat hidup efisien dan sederhana, (Suryana, 2002:12).

Karakteristik Berwirausaha

       Karakteristik wirausahawan yang sukses menurut Musselman (1989:155) dalam (Suryana, 2002:15), diantaranya: Kemampuan berinovatif, toleransi terhadap kemenduaan (ambiguity), keinginan untuk berprestasi, kemampuan perencanaan realistis, kepemimpinan terorientasi kepada tujuan, obyektivitas, tanggung jawab pribadi, kemampuan beradaptasi, kemampuan sebagai pengorganisasi dan administrator, tegas dan yakin pada kemampuan sendiri.

Faktor Pendukung Dan Penghambat Dalam Berwirausaha

      Menurut Zimmerer (Suryana, 2002:44-45) ada beberapa faktor yang menjadi pendukung dan penghambat dalam menjalankan kewirausahaan:

1.    Faktor Penghambat

Faktor yang menjadi penghambat usaha adalah : tidak kompeten dalam manajerial, kurang pengalaman, lemahnya kendali keuangan, gagal mengembangkan perencanaan strategis, pertumbuhan tak terkendali, pengendalian persediaan dan ketidakmampuan membuat transisi kewirausahaan.

2.    Faktor Pendukung

     Faktor yang menjadi pendukung usaha adalah: memiliki kreativitas, selalu berinovasi, dan memunculkan peluang ide baru dalam berbisnis, memiliki pengetahuan dan kompetensi kewirausahaan, berani bermimpi, berani mencoba dan berani gagal, dapat membaca peluang pasar, mampu memanage keuangan, mengambil inspirasi dari mega wirausaha, berjiwa honesty (jujur) dan lucky (keberuntungan).

Motivasi Berwirausaha

Motivasi berwirausaha adalah dorongan kuat dari dalam diri seseorang untuk memulai mengaktualisasi potensi diri dalam berfikir kreatif dan inovatif untuk menciptakan produk baru dan bernilai tambah guna kepentingan bersama. Wirausaha akan muncul ketika seseorang berani mengembangkan usaha-usaha dan ide-ide barunya. Membuat seseorang menjadi berani mengembangkan usaha dan idenya melalui motivasi berwirausaha yang kuat. Dua hal tersebut harus saling berhubungan agar tercipta wirausaha yang kuat dan tangguh serta berkualitas. Bagi sebagian orang, motivasi kewirausahaan merupakan “hadiah” (given) dan bagi sebagian orang lainnya perlu “perjuangan” untuk menumbuhkan. Oleh karena itu, pengenalan motif kewirausahaan mungkin dapat menjadi salah satu titik awal untuk membangkitkan semangat kewirausahaan, (Hidayati dan Suparno, 2012:4).

Faktor  Timbulnya Motivasi Berwirausaha

Motivasi merupakan salah satu faktor keberhasilan wirausaha dalam menyelesaikan tugasnya. Semakin besar motivasi maka semakin besar kesuksesan yang dicapai.

Menurut Basrowi (2011:67-68), motivasi seseorang menjadi wirausaha, yaitu:

1.    Lab:  seorang wirausaha dapat menentukan berapa laba yang dkehendaki dan keuntungan yang akan diperoleh serta berapa yang akan dibayarkan kepada pihak lain dan karyawannya.

2.    Kebebasan: bebas mengatur waktu, bebas dari aturan yang menekan dan bebas dari aturan budaya organisasi.

3.    Impian personal: bebas mencapai standar hidup yang diinginkan, bebas dari rutinitas kerja yang membosankan. Imbalan untuk menentukan misi, visi dan impian sendiri.

4.    Kemandirian: memiliki rasa bangga, karena dapat mandiri dalam segala hal   dengan usaha sendiri.

Berwirausaha akan membuat seseorang termotivasi untuk memperoleh imbalan berupa laba, kebebasan dan impian pribadi yang akan menjadi kenyataan. Serta memiliki kemandirian karena dapat menentukan nasibnya sendiri. Wirausaha tidak memiliki hari gajian atau tanggal gajian tetapi setiap hari diharapkan memperoleh pendapatan rutin.

Jenis-Jenis Motivasi Berwirausaha

Menurut pendapat Otto Wilman dalam Rusdiana (2014:72), jenis motivasi dibagi menjadi enam, yaitu:

1.    Motivasi psikologi merupakan dorongan alamiah yang ada pada setiap wirausaha untuk berkembang dan berkreativitas.

2.    Motivasi praktis merupakan suatu dorongan pada setiap wirausaha untuk  memenuhi tuntutan nilai-nilai ketuhanan.

3.    Motivasi pembentukan pribadi merupakan dorongan untuk membentuk dan mengembangkan kepribadian masing-masing wirausaha.

4.     Motivasi kesusilaan merupakan dokumen agar wirausaha dapat menjadi lebih  baik.

5.    Motivasi sosial merupakan dorongan wirausaha untuk mempelajari sesuatu yang layak dikerjakan dalam berinterkasi dengan orang lain.

6.    Motivasi kebutuhan dapat mendorong wirausaha untuk mengabdi kepada Tuhan dan menghargai sesama.

Aspek-Aspek Motivasi Berwirausaha

Aspek-aspek motivasi berwirausaha menurut (Hidayati dan Suparno, 2012: 2170) adalah:

1.    Kemandirian, merupakan kemampuan berdiri sendiri yang ditafsirkan secara kritis dan dinamis bukan berarti harus bekerja sendiri tanpa berhubungan atau bekerjasama dengan siapapun.

2.    Inovatif, merupakan kemampuan seorang pengusaha untuk mempunyai mentalitas kewirausahaan yang menilai tinggi orientasi ke depan, menilai tinggi hasrat untuk menemukan ide-ide baru, berorientasi pada hasil karya dan menilai tinggi kemampuan, disiplin dan bertanggungjawab disertai dengan hasrat untuk berprestasi pada bidangnya.

3.    Menanggung resiko, yaitu kemampuan individu untuk menghadapi segala tantangan dan kemungkinan yang akan terjadi dengan penuh perhitungan, seperti persaingan, naik turunnya harga, barang tidak laku dan sebagainya.

Dari beberapa pemaparan oleh para ahli di atas penulis menarik kesimpulan bahwa aspek-aspek motivasi berwirausaha adalah hasrat untuk berprestasi, kemauan menghadapi resiko, locus of control internal, efikasi diri, kemandirian, dan penetapan tujuan.

Kewirausahaan Pada Mata Kuliah

Konsep Dasar Kewirausahaan

Ilmu kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapinya, (Suryana, 2002:7). Secara epistimologis, kewirausahaan pada prinsipnya merupakan suatu kemampuan berpikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, motivator, tujuan, siasat/strategi dan kiat-kiat dalam menghadapi tantangan hidup. Sebelumnya kewirausahaan dianggap hanya dapat dilakukan melalui pengalaman langsung di lapangan dan merupakan bakat yang dibawa sejak lahir (entrepreneurship are born not made), sehingga kewirausahaan tidak dapat diajarkan atau dipelajari. Kini seseorang yang memiliki bakat kewirausahaan dapat mengembangkan bakatnya melalui pendidikan. Mereka yang menjadi enterpreneur adalah orang-orang yang mengenal potensi (traits) dan belajar mengembangkan potensi untuk menangkap peluang serta mengorganisir usaha dalam mewujudkan cita-citanya. Untuk menjadi wirausaha perlu memiliki pengetahuan mengenai segala aspek usaha yang ditekuninya, (Suryana, 2002:7).

Menurut Agus Wibowo (2011:76), terdapat dua cara untuk menanamkan mental kewirausahaan kepada para mahasiswa di kampus. Pertama, mengintegrasikan pendidikan kewirausahaan ke dalam kurikulum. Dalam kurikulum, karakter keilmuan kewirausahaan sebaiknya didesain untuk mengetahui (to know), melakukan (to do), dan menjadi (to be) entrepreneur.

Tujuan pendidikan to know dan to do terintegrasi di dalam kurikulum program studi, terdistribusi di dalam berbagai mata kuliah keilmuan. Perguruan Tinggi menyediakan mata kuliah kewirausahaan yang ditujukan untuk bekal motivasi dan pembentukan sikap mental wirausaha. Untuk tujuan to be entrepreneur, diberikan dalam pelatihan keterampilan bisnis praktis. Kedua, aktivitas ekstrakurikuler mahasiswa perlu dikemas sistemik dan diarahkan untuk membangun motivasi dan sikap mental wirausaha. Pembinaan mahasiswa dalam berbagai kegiatan minat dan bakat, keilmuan, kesejahteraan atau keorganisasian hendaknya juga diarahkan untuk memberikan keterampilan berwirausaha. Keberhasilan pendidikan kewirausahaan tidak mungkin diraih dengan begitu saja, tetapi harus melalui tahapan. Secara umum keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi kegagalan tanpa kehilangan semangat. Dalam konteks ini keberhasilan merupakan output ataupun hasil yang didapat dari suatu pembelajaran yaitu pendidikan kewirausahaan.

     Keberhasilan seorang wirausaha biasanya erat kaitannya dengan hal-hal berikut, jujur, disiplin dan berani dan dapat melaksanakan prinsip managemen yang baik. Sedangkan hal-hal yang menyebabkan kegagalan antara lain, tidak ada perencanaan yang matang, bakat yang tidak cocok, kurang pengalaman, tidak mempunyai semangat berwirausaha, kurangnya modal, lemahnya pemasaran, dan tidak mempunyai etos kerja yang tinggi. Sehingga dalam proses pendidikan kewirausahaan mahasiswa diberikan motivasi agar mempunyai jiwa kewirausahaan.

     Kriteria keberhasilan pendidikan kewirausahaan, adalah memiliki kemandirian yang tinggi, memiliki kreatifitas yang tinggi, berani mengambil resiko, berorientasi pada tindakan, memiliki karakter kepemimpinan yang tinggi, memiliki keterampilan/skill berwirausaha, memahami konsep-konsep kewirausahaan dan memiliki karakter pekerja keras. Menurut Churchill dalam Rambat Lupyoadi (2007), pendidikan sangat penting bagi keberhasilan wirausaha. Kegagalan pertama dari seorang wirausaha adalah karena lebih mengandalkan pengalaman daripada pendidikan. Namun, juga tidak menganggap remeh arti pengalaman bagi seorang wirausaha. Baginya kegagalan kedua adalah jika seorang wirausaha hanya bermodalkan pendidikan tapi miskin pengalaman lapangan. Oleh karena itu perpaduan antara pendidikan dan pengalaman adalah faktor utama yang menentukan keberhasilan berwirausaha.

Pentingnya Diajarkan Mata Kuliah Kewirausahaan           

Menurut Soeharto Prawirokusumo dalam Daryanto (2012:4), pendidikan kewirausahaan perlu diajarkan sebagai disiplin ilmu tersendiri yang independen, karena:

1.    Kewirausahaan berisi body of knowledge yang utuh dan nyata, yaitu ada teori, konsep, dan metode ilmiah yang lengkap.

2.    Kewirausahaan memiliki dua konsep, yaitu venture start-up dan venture-  growth, ini jelas tidak masuk dalam kerangka pendidikan    manajemen umum yang memisahkan antara manajemen dan kepemilikan usaha.

3.    Kewirausahaan merupakan disiplin ilmu yang memiliki obyek tersendiri,  yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.

4.    Kewirausahaan merupakan alat untuk menciptakan pemerataan berusaha  dan pemerataan pendapatan.

Landasan Biblis, Teologis dan Pastoral Tentang Kewirausahaan

Landasan Biblis

Konsep utama yang menjadi temuan dalam kajian ini adalah Theospreneurship dan Christopreneurship. Kata Theospreneurship untuk pertama kali disimbolkan dalam dunia entrepreneurship. Theospreneurship dimaknai sebagai daya cipta, kreativitas-inovatif dan Christopreneurship sebagai model-teladan Christian Entrepreneurship. Menggabungkan antara kata “theos” dan “entrepreneurship” untuk memaknai fenomena entrepreneurship dapat saja dianggap sesuatu yang bertentangan karena menggabungkan antara yang Teologis dan Praxis. Kata “Theos” sering dianggap sebagai wilayah yang sakral/suci, berkaitan dengan nama Tuhan sang Pencipta, bersifat tabu, ada di Surga, tidak berkaitan dengan uang dan jual-beli karena itu lalu membatasi pemikiran kita, (Julianto, 2017:158).

“Entrepreneurship” adalah sesuatu yang bersifat pendorong untuk mencipta gagasan, mengembangkan kreativitas dan inovasi sehingga terjadi perubahan baik secara evolusioner maupun revolusioner. Sering dianggap berorientasi profit/bisnis, berkaitan dengan uang dan jual beli. Dua kata ini sangat kontradiksi; yang satu bersifat curiga terhadap kreativitas, yang lain bersifat spirit yang memotivasi orang untuk mengembangkan kreativitas, (Julianto,  2017:159).

Dalam Alkitab memang tidak menemukan secara tereksplisit memaparkan tentang praktek kewirausahaan tetapi dapat ditemukan bentuk organisasi kewirausahaan yang masih dalam bentuk sederhana baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru yakni penggambaran tentang Tuhan sebagai Kreator dan Inovator. Oleh karena itu, berwirausaha adalah refleksi atas konteks ciptaan yang diberikan Tuhan pada setiap manusia.

Kitab Suci  Perjanjian Lama

TEOPRENEUR: Allah sebagai Figur Enterpreneur

   Berwirausaha adalah refleksi atas konteks ciptaan yang diberikan Tuhan pada setiap manusia. “Apa yang ada pada kita yang telah Tuhan ciptakan bagi kita, itulah yang akan menjadi modal dan model kita berwirausaha.” Hal ini senada dengan cara manusia pertama melakukan persembahan kepada Tuhan, didasarkan atas apa yang mereka punyai sesuai dengan konteks pekerjaan mereka. Kita melihat bahwa apa yang dilakukan Kain dan Habel dalam memberikan persembahan (terlepas dari hak prerogatif Allah yang berhak memilih persembahan siapa yang diterima), ternyata mereka memberi sesuai dengan dunia mereka yaitu peternakan dan pertanian, (Bdk.Kej.4:2-5).

Kisah penciptaan sebagai dasar dari kewirausahaan jemaat, yaitu dengan menempatkan TUHAN sebagai seorang interpreneur/wirausaha. Allah sebagai figure interpreneur/wirausaha. Dalam kisah penciptaan akan didapati bahwa Allah adalah pekerja yang ulet, lebih lanjut lagi perlu dilihat bahwa sungguh pun kerja disebut dalam kaitan manusia yang berdosa harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, (Kejadian 3:17). Namun sebenarnya sejak awal penciptaan Allah sudah menunjukkan bahwa bekerja bukan sekadar hukuman, bekerja harus dilihat sebagai “irama hidup” Allah. Dalam kenyataannya penciptaan tidak pernah berhenti, Allah senantiasa melakukan penciptaan yang selalu baru tiap hari, (Ratapan 3:3).

Selain itu, kisah penciptaan juga menyebut kata “BARA” yang berarti menjadikan/ menciptakan. Allah menciptakan dunia dengan prinsip “Creatio Ex Nihilo” yang mengarah pada kreativitas Allah yang luar biasa, yaitu dengan melakukan tindakan kerja “Out of the box” yang membuat semua dari yang tidak ada. Memang manusia tidak mungkin melakukan hal yang sebagaimana Allah sudah lakukan, namun pemahaman sederhana tentang “BARA” mendorong manusia untuk hidup dalam ciptaan Allah dan turut terlibat dalam proses penciptaan selanjutnya. Manusia dipanggil untuk memahami bahwa bekerja adalah berkreasi, mendulang kreativitas untuk mencapai yang semakin sempurna. Hal inilah dapat dikatakan bahwa Allah pada diriNya adalah sumber iman dari Interpreneur/wirausaha di dunia, (Julianto, 2017:74).

Perjanjian lama menggambarkan bahwa Allah bekerja sebagai tukang pembuat periuk menggambarkan bahwa Allah adalah pekerja yang pasti bekerja sangat teliti, keras dan kreatif. “…Engkaulah Bapa Kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami semua adalah buatan tanganMu”, (Bdk.Yes.64:8). Allah membentuk manusia dari tanah liat lalu memberikan napas kehidupan. Ini mau menunjukkan daya kreasi dan seni Allah. Allahpun menghendaki penciptaNya untuk memiliki daya kreasi dan seni dalam mengelolah alam dan kehidupan ini.

 Manusia diciptakan sangat sempurna, apabila dipandang dari sudut proses penciptaan dimana Allah dijuluki sebagai tukang periuk, (bdk.Yer.18:1-17). Maka, dapat disimpulkan bahwa si pembuat manusia pasti telah mendesain dengan sangat teliti, terbukti betapa manusia adalah makhluk yang sangat detail yang merupakan kesatuan tubuh-jiwa-roh. Tubuh manusia satu dengan lainnya sangat khas, tidak terduplikasi pada tubuh yang lain, menunjukkan bahwa setiap ada manusia yang baru selalu ada kreativitas yang baru pula. Tidak dapat disangkal bahwa untuk itu semua membutuhkan kerja yang luar biasa berat dan keras. Berdasar atas pemahaman tersebut, penulis melihat bahwa Allah adalah figur interpreneur/wirausaha yang tangguh.

Adapun ciri-ciri enterpreneurship Allah dapat disebutkan sebagai berikut:

1.    Ruach Elohim” melayang-layang, (Kejadian 1:1), menunjuk pada ethos kerja Allah yang dalam pendekatan antropomorfisme layak disebut “Allah yang dinamis/tidak tinggal diam” yaitu Allah yang giat bekerja. Karya-karya-Nya yang dinamis dan inovatif (menggambarkan sifat dan kegiatan Allah) dapat dilihat seperti; pembentuk (pembuat periuk), perancang, pengusaha, pemberi mandat dan mitra umat-Nya dalam mengelola serta mengusahakan sumber daya yang diciptakan-Nya.

2.    Konsep penciptaan “creatio ex nihilo” menunjukkan kreativitas Allah dalam melihat visi ke depan, melihat yang tidak ada harus diadakan demi masa depan yang semakin baik.

3.    Allah memberi teladan tentang manajemen kerja yang baik, kita menyaksikan bagaimana hal itu diterapkan dengan menata urutan penciptaan hari pertama sampai terakhir. Seorang interpreneur adalah orang yang harus pula mempunyai kecakapan penatalayanan/ manajemen supaya dapat melakukan kewirausahaan yang digelutinya.

4.    Etos kerja keras Allah yang luar biasa, terencana dan tertata, yang dibuktikan dengan melakukan semua dalam enam hari kerja Allah

5.    Allah melakukan proses evaluasi & refleksi, ketika sebuah proses dilakukan maka Allah melakukan pengamatan untuk memastikan “semua baik”,  (Bdk.Kej.1:10;12;18;25;31).

6.    Bagian menarik dari Enterpreneurship Allah adalah pengaturan ritme kerja dengan memberi diri istirahat yaitu dengan pengaturan hari “sabat”. “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu” (Bdk.Kej.2:2-3).

Definisi Theopreneurship berdasarkan kejadian 1:28 tersebut diatas adalah pendayagunaan talenta kita untuk mengelola sumber-sumber yang diberikan oleh Tuhan. Allah digambarkan sebagai Creator-Pencipta (Kej. 1: 21,27; 2:2-3). Allah menciptakan bumi dan segala isinya termasuk manusia. Allah digambarkan sebagai seorang pekerja. Karena Allah sebagai pekerja maka, Dia menghendaki agar umat manusia menghargai pekerjaan, apapun pekerjaan itu.

“Lihat, telah Kutunjuk Bezale el bin uri bin Hur, dari suku Yehuda, dan telah kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan, untuk berbuat berbagai macam rancangan” (Bdk.Kel. 31:2-6).

Karya Tuhan melalui Roh Kudus, memampukan manusia sebagai co-creator untuk beraktivitas dengan kreatif dan inovatif. Setiap manusia telah diberi keahlian oleh Allah untuk merancang dan membangun dunia, mengusahakan, memelihara dan mengembangkan segala yang ada sebagai bentuk tanggungjawab atas mandat dari Allah sendiri. Hal ini dimulai dari hati sebagai pusat batin untuk membangun komunikasi pribadi dengan Allah.

Kitab Suci Perjanjian Baru

CHRISTOPRENEUR: Melihat Sisi Enterpreneur Kristus

Menurut Beberapa catatan sejarah Yesus Kristus dan lifestyle Yesus Kristus juga menunjukkan sebenarnya DIA layak disebut “enterpreneur” adalah sebagai berikut:

1)   Kristus Manusia dibesarkan oleh keluarga pekerja keras, DIA adalah anak Yusuf dan Maria yang berprofesi sebagai tukang kayu. Hal ini menggambarkan bahwa sebelum memulai karyanya sebagai MESIAS (yang dilakukan setelah usia 30an) Yesus dididik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga pekerja keras. Tukang kayu adalah profesi yang secara material di bawah rata-rata pada saat itu (sejajar dengan penjala ikan, petani kecil) yang membawa konsekuensi hidup yang bekerja dengan sangat keras. Hal tersebut membawa pemahaman kita pada kondisi pertumbuhan Yesuspun baik fisik dan psikisnya terkonstruksi sebagai “hard worker” yaitu pekerja keras. Hal ini yang secara umum dibutuhkan seseorang untuk menjadi enterpreneur. Dengan demikian ada bakat terpendam dalam diri Yesus untuk dikembangkan menjadi enterpreneur.

2)   Cerita Kanak-Kanak Yesus di Bait Allah (Luk 2:41-51) dijelaskan dengan penggambaran bahwa pertumbuhan yang dialami oleh Yesus adalah pertumbuhan seorang anak yang berimbang, bukan hanya secara fisik dan mental namun juga secara spiritual. Di mana dalam kisah tersebut, Lukas menceritakan pada umur 12 tahun Yesus terpisah dari orang tuanya saat perayaan Paskah dan bertemu dengan para ahli Taurat dan Imam di Bait Allah. Para Ahli Taurat dan imam sangat heran dengan kecakapan-Nya yang luar biasa. Penulis melihat bahwa peristiwa ini menunjukan pribadi Yesus yang mempunyai kecakapan, kemandirian, kreativitas dan inovasi diluar pada umumnya. Sekali lagi hal ini adalah potensi yang dibutuhkan oleh seorang interpreneur.

3)   Cerita-cerita yang menunjukan bahwa Yesus mempunyai jiwa interpreneur:

a. Perjamuan Kana (Yoh. 2:1-11), bukan sekadar cerita mujizat air menjadi anggur, melainkan juga menggambarkan bahwa kehadiran Yesus dalam perjamuan perkawinan di dusun Kana menekankan tentang prinsip “right decition at wrong situation”. Yesus sedang mengajarkan tentang bagaimana memainkan kecakapan pengambilan keputusan.

b. Cerita tentang Yesus yang memberi makan 5000 orang (Mat 14:13-21; Mrk 6:32-34; Luk 9:10-17; Yoh 8:1-15) menggambarkan kepekaan Yesus terhadap situasi yang terjadi, keberanian mengambil tindakan yang beresiko. Dalam perikope tersebut terjadi mujizat dengan memakai lima roti dan dua ikan. Penulis melihat bahwa di samping berbagi sebagaimana yang diajarkan oleh seorang anak kecil. kisah Injil ini juga berbicara tentang banyak hal sehubungan dengan bahasan ini yaitu kewirausahaan:

-      Memulai dari apa yang ada, yaitu dengan memakai lima roti dan dua ikan.

-      Memaknai kesediaan sebagai modal yang besar, kesediaan untuk memberi meskipun yang dipunyai sedikit.

-      Mengajarkan pengorganisasian dalam sebuah kegiatan, konsekuensi memberi makan 5000 orang tersebut adalah dengan menata dan mengorganisasikan mereka sehingga tidak terjadi kekacauan.

-      Yesus mengajarkan tentang pentingnya sikap efektif dan efisien, oleh karena itu pada saat terakhir terjadilah modal mujizat baru “sisa 12 keranjang” yang harus dimaknai dengan perlunya kegiatan fundraising dalam kehidupan,  (Julianto, 2017:22).

Landasan Teologis

Gaudium Et Spes Artikel 34

“Dimanapun laki-laki dan perempuan menunaikan tugas-tugasnya dengan setia, memang dengan tepat mereka berpandangan bahwa mereka mengembangkan karya Sang Pencipta, ikut memenuhi kepentingan sesama saudara, dan menyumbangkan kegiatan mereka pribadi demi terlaksananya rencana Ilahi dalam sejarah”.

Sebagai ciptaan Allah yang sempurna, manusia mempunyai tanggungjawab mengurus dunia ini apapun jenis pekerjaan. Apapun bentuk kerja manusia, semuanya merupakan partisipasi dalam kerja Allah. Pekerjaan seorang wirausahawan/pengusaha pun merupakan wujud dari partisipasi manusia dalam karya Sang Pencipta.

Landasan Pastoral Menurut Ajaran Sosial Gereja

1.    Centesimus Annus Artikel 31

Manusia sebagai makhluk imago Dei, memiliki peran kerja yang sangat penting sebagai faktor produktif, untuk memenuhi kepenuhan material dan non material. Hal ini jelas karena dalam melakukan pekerjaan, seseorang secara alami terhubung dengan manusia atau pekerjaan orang lain. Dengan bekerja, manusia berada dengan manusia lain. Dengan demikian, pekerjaan membuat manusia menghasilkan sesuatu, menjadi berbuah dan produktif. Karena sumberdaya manusia yang bekerja, jauh lebih luas daripada sumber daya alam. Dan karena itu membuat manusia semakin sadar untuk mengolahnya.

Sebagai citra Allah, manusia diberi  tugas dan tanggung jawab untuk mengolah alam demi pemenuhan kebutuhan hidup (Bdk.CE. Art.31).

2.    Laborem Exercens Artikel 25

 Kerja manusia merupakan wujud atau bentuk partisipasi dalam karya Allah. Sabda pewahyuan Allah secara mendalam ditandai oleh kebenaran fundamental bahwa manusia, dengan diciptakan menurut gambar dan wajah Allah, berpartisipasi dalam kegiatan Sang Pencipta melalui pekerjaannya dan bahwa, dalam batas-batas kemampuan manusiawinya, manusia dalam arti tertentu melanjutkan perkembangan kegiatan penciptaan tersebut dan menyempurnakannya melalui kemajuan manusia dalam penemuan sumber-sumber dan nilai-nilai yang terkandung dalam keseluruhan ciptaan” (Bdk.LE Art.25).

     Secara teologis dapat dipahami bahwa entrepreneur merupakan salah satu usaha kerja yang dikehendaki Tuhan.Umat perlu didorong untuk mengembangkan potensi, kreativitas dan inovasinya dalam mengubah berbagai kesulitan yang dihadapi untuk menjadi peluang. Dalam Kej 1:27 dikatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri. Tujuannya adalah agar manusia berpartisipasi dalam karya-Nya. Berpartisipasi dalam karyanya berarti mengembangkan segala yang ada di muka bumi.

Dari uraian diatas, penulis berkesimpulan bahwa ketika manusia ingin berpartisipasi bersama Allah untuk mengembangkan apa yang sudah Tuhan ciptakan adalah dengan bekerja. Allah telah bekerja menciptakan dunia dan segala isinya kemudian diserahkan kepada manusia untuk memeliharanya (Kej 1:1-2:3). Maka sebagai ciptaan manusia tidak melulu memelihara tetapi bekerja mengembangkannya. Manusia sebagai co-creator Allah. Manusia menjadi patner Allah dalam mengolah alam untuk menghasilkan sesuatu untuk pemenuhan kebutuhan hidup sendiri serta untuk kebaikan bersama (bonum comune).

Hipotesis

            Hipotesis adalah dugaan sementara yang dianggap secara kemungkin menjadi jawaban benar. Karena hipotesis masih bersifat dugaan, maka pada penulisan ini peneliti mempunyai asumsi bahwa motivasi berwirausaha dikalangan mahasiswa masih sangat rendah. Oleh karena itu, dengan menerapkannya mata kuliah kewirausahaan pada lembaga pendidikan akan memotivasi mahasiswa untuk memiliki jiwa dan semangat berwirausaha serta meningkatkan motivasi berwirausaha dikalangan mahasiswa semester VII dan melahirkan wirausaha-wirausaha baru yang mampu berpikir kritis, kreatif dan inovatif serta mampu membaca peluang usaha untuk memulai kegiatan berwirausaha.

METODOLOGI PENELITIAN

1.    Jenis Penelitian

Penulis dalam penelitian ini menggunakan model penelitian deskriptif dan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan penelitian yang tidak menggunakan perhitungan statistik tetapi melalui analisi isi (content analysis).

Sumber Data

     Sumber data atau informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: para mahasiswa semester VII Tahun Akademik 2018/2019 yang sedang memprogram mata kuliah kewirausahaan. Tokoh-tokoh ini dianggap penting untuk digunakan dalam penelitian karena dapat memenuhi kriteria-kriteria sebagai sampel, dan bisa memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana “Meningkatkan Motivasi Berwirausaha Bagi Mahasiswa Semester VII Tahun Akademik 2018/2019 Melalui Mata Kuliah Kewirausahaan.” Mengenai jumlah sampel tidak dapat dikemukakan karena akan berkembang pada saat penelitian selesai dilakukan.

2.    Teknik Pengumpulan Data

Pertama, Observasi participant Atau Teknik pengamatan terlibat. Melalui teknik ini penulis sebagai peneliti langsung ke lapangan untuk mengamati perilaku dan produk-produk  yang dihasilkan masyarakat secara garis besar saja.

Kedua, Teknik wawancara. Wawancara adalah teknik pengambilan data dengan proses tanya jawab antara penulis dan informan untuk mendapatkan data secara lisan.  

Ketiga, Teknik dokumentasi. Teknik ini dibuat dalam rangka menjaring kekayaan data, baik untuk menegaskan data yang telah diperoleh maupun untuk memperkaya data yang sudah ada, karena belum dapat ditangkap secara maksimal melalui teknik pengamatan terlibat dan teknik wawancara.

3.    Teknik Analisa Data

     Teknik analisis data yang digunakan adalah analisa data yang bersifat kualitatif dengan deskriptif analitik non statistik. Analisis ini digunakan untuk mengungkapkan hasil penelitian berhubungan dengan “Meningkatkan Motivasi Berwirausaha Melalui Mata Kuliah Kewirausahaan”. Proses analisis data dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data melalui beberapa tahapan mulai dari proses pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi atau penarikan kesimpulan.

1.    Data Collection (Pengumpulan Data)

     Data dikumpulkan dengan berbagai teknik pengumpulan data (Triangulasi), yaitu merupakan penggabungan dari berbagai macam pengumpulan data baik wawancara, observasi maupun dengan menggunakan dokumen. Semakin banyak data yang terkumpul maka hasil penelitian akan semakin bagus.

Dari hasil yang telah penulis lakukan dengan metode pengamatan, yaitu penulis memahami kegiatan yang ada Sekolah Tinggi pastoral Keuskupan Agung Kupang. Selanjutnya penulis melakukan metode wawancara secara mendalam dengan para mahasiswa. Kemudian penulis juga menggunakan metode dokumentasi, yaitu mencari dan mengumpulkan dokumen-dokumen dan arsip-arsip  yang berkaitan dengan penelitian yang telah dilakukan, selanjutnya penulis berusaha mempelajari secara mendalam untuk mencari tahu tentang bagaimana meningkatkan motivasi berwirausaha pada mata kuliah kewirausahaan dengan kenyataan yang ada di lapangan, setelah itu data dianalisis dengan model interaktif deskriptif analitik non statistik.

2.    Data Reduction (Reduksi Data)

     Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Kemudian data dirangkum, dipilih hal-hal pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting dan dicari tema serta polanya. Data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah penulis untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencari data berikutnya jika diperlukan data-data tidak terpakai dibuang sehingga penulis lebih fokus pada data yang telah direduksi.

Reduksi data berdasarkan relevansi dan kecukupan informasi untuk menjelaskan bagaimana dampak mata kuliah kewirausahaan, selanjutnya dianalisis dan dihubungkan dengan motivasi mahasiswa dalam menanggapi peluang usaha untuk berwirausaha. Oleh karena itu, penulis memilih data yang relevan dan bermakna yang akan disajikan. Penulis melakukan seleksi dan memfokuskan data yang mengarah untuk menjawab pertanyaan penelitian, kemudian menyederhanakan dan menyusun secara sistematis dengan menonjolkan hal-hal yang dianggap penting dari hasil temuan yang berkaitan dengan upaya meningkatkan motivasi berwirausaha melalui mata kuliah kewirausahaan.

3.    Data Display (Penyajian Data) 

     Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Penyajian data dalam bentuk kumpulan kalimat. Melalui penyajian data dalam bentuk display, maka dapat terorganisasi dalam pola hubungan sehingga akan semakin mudah dipahami. Display data juga dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan hubungan antara kategori dan flowchard. Penyajian data menggunakan teks yang bersifat naratif. Hasil dari reduksi data kemudian disajikan dalam bentuk display data untuk penyajian data, penulis menggunakan uraian secara naratif dengan tujuan agar dapat mengetahui sejauh mana motivasi berwirausaha di kalangan mahasiswa semester VII.

4.    Conclusion Drawing/Verification(Penarikan Kesimpulan/ Verifikasi)

     Langkah berikutnya dalam analisis data adalah verifikasi yaitu memverifikasi data dan menarik kesimpulan. Kesimpulan yang diambil harus didukung oleh data-data yang valid dan konsisten, sehingga kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan yang diperoleh merupakan kesimpulan jawaban dari fokus penelitian yang dirumuskan sejak awal dan dapat berkembang sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. Kesimpulan yang diperoleh juga dapat berupa temuan baru yang belum pernah ada sebelumnya. Membuat kesimpulan (verifikasi) dengan melihat kembali dengan melihat reduksi data maupun display data, sehingga dengan demikian kesimpulan tidak menyimpang dari data yang dianalisis

HASIL PENELITIAN

1.    Profil Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang

a) Gambaran Umum Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung  Kupang

Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang (STIPAS KAK) merupakan lembaga pendidikan tinggi Katolik yang terletak dekat Gereja Santa Maria Assumpta Kupang. Sekolah Tinggi tersebut memiliki satu jurusan yakni jurusan kateketik pastoral dengan satu program studi yaitu Pendidikan Keagamaan Katolik. Sekolah Tinggi Keuskupan Agung Kupang ini didirikan pada tahun 2001 oleh yang Mulia Uskup Agung Kupang sehingga secara resmi bernaung pada yayasan Swastisari  Keuskupan Agung Kupang. Saat ini Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang sudah terakreditasi C oleh Departemen Kementrian Agama pada tahun 2015 dan saat ini sedang dalam proses persiapan akreditasi institusi dan reakreditasi program studi. Sangat diharapkan untuk hasil yang lebih baik. Oleh karena itu, dukungan dan kerja sama setiap elemen dalam lembaga sangat mempengaruhi proses yang dimaksud. Mahasiswa yang menempuh pendidikan di lembaga ini berasal dari berbagai latar belakang suku, adat dan budaya serta selain awam juga para biarawan biarawatipun terpanggil untuk menuntut ilmu di lembaga Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang.

b)   Sejarah Singkat Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang

    Eksistensi sebuah lembaga pendidikan tentu memiliki sejarah terbentuknya. Dengan diketahuinya sejarah lembaga pendidikan diharapkan meningkatkannya rasa cinta terhadap almamater sekaligus semangat berjuang untuk meraih cita-cita, semangat untuk membangun kebersamaan, semangat menjalani hidup berkelompok dan semangat untuk berorganisasi. Jika menelisik lebih jauh ke belakang, tentu akan menemukan cerita sejarah awal yang unik tentang lembaga pendidikan ini. Lembaga ini ternyata terbentuk di tengah situasi krisis multi dimensi yang melanda negeri ini. Krisis pendidikan nilai (iman dan moral) menjadi keprihatinan dasar dan mendorong para tokoh untuk mendirikannya. Oleh karena itu, kehadiran dan keberadaannya sungguh menjadi wujud tanggungjawab Gereja Keuskupan Agung Kupang dalam menjawabi tantangan zaman yang kian berubah-ubah.

     Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang secara resmi didirikan oleh Yang Mulia Uskup Agung Kupang pada tahun 2001 dan sejak tahun itu sudah dimulai persiapan dan perkuliahan untuk tahun akademik 2001/2002. Pada tanggal 6 November 2001 diadakan Misa Pembukaan Tahun Ajaran Akademik secara resmi yang dipimpin oleh RD. Piet Olin ( mantan vikjen KAK) yang adalah ketua badan penyelenggara. Dengan demikian, tanggal 6 November ditetapkan sebagai Hari Dies Natalis Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang. Saat ini Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang memiliki 350 Mahasiswa-mahasiswi, 28 Dosen dan 8 orang pegawai.

c)    Letak Geografis Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang

Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang secara geografis terletak tepat pada jantung kota Kupang yang beralamat di Jln. Perintis Kemerdekaan Wali Kota Baru. Sebelah barat Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang (STIPAS KAK) berbatasan dengan SMPK Assumpta, sebelah timur berbatasan dengan kantor Badan Arsip Daerah dan Kantor Agama, sebelah selatan berbatasan dengan Universitas Muhamadya dan SMA Muhamadya Kupang dan sebelah utara berbatasan dengan Biara RVM dan Gereja Assumpta.

Karakteristik Sumber Data

Penelitian dilakukan dengan informan sebanyak 15 (lima belas) orang. Penulis mengambil data dari 15 (lima belas) orang informan. Karakteristik informan menurut jenis kelamin, usia dan status/tugas sangat variatif sebagaimana terlihat pada tabel berikut.

     Karakteristik Informan Berdasarkan Jenis Kelamin, Usia Dan Status/Tugas

No.

Nama

Kelompok Menurut

Jumlah

Jenis Kelamin

Usia

Status/tugas

1

Melania Wea

P

20

Mahasiswa

1 Orang

2

Maria Tania Mosa

P

21

Mahasiswa

1 Orang

3

Gustianus Niar

L

24

Mahasiswa

1 Orang

4

Aloysia Y.I Mogi

P

23

Mahasiswa

1 Orang

5

Maria Goreti M. Leton

P

22

Mahasiswa

1 Orang

6

Maria K.B. Leton

P

22

Mahasiswa

1 Orang

7

Marta Lende

P

26

Mahasiswa

1 Orang

8

Agnes Esse

P

25

Mahasiswa

1 Orang

9

Petra Teresia Ine Flor

P

25

Mahasiswa

1 Orang

10

Emilia Barek Ola

P

23

Mahasiswa

1 Orang

11

Agnes T. Weking

P

22

Mahasiswa

1 Orang

12

Maria Imaculata Nahak

P

21

Mahasiswa

1 Orang

13

Joriandel Un Seran

P

21

Mahasiswa

1 Orang

14

Abdul Mocthar

L

45

Wirausahawan

1 Orang

15

Maria H.L.Ngongo, Lic.Spirt.

P

35

Dosen

1 Orang

          Jumlah

15 Orang

















    Sumber : Hasil Data Penelitian 2018

Pembahasan

Berdasarkan hasil wawancara serta pengolahan data yang dilakukan penulis terhadap 15 informan (mahasiswa-mahasiswi semester VII dan dua nara sumber pendukung) berkaitan dengan rumusan masalah perihal pemahaman mahasiswa tentang kewirausahaan, faktor pendukung dan penghambat kewirausahaan serta upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi berwirausaha, maka penulis menguraikannya sebagai berikut:       

Gambaran Pemahaman Tentang Kewirausahaan

Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil wawancara yang telah penulis lakukan terhadap 15 informan dalam hubungan dengan rumusan masalah pertama tentang pemahaman mahasiswa semester VII Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang Tahun Akademik 2018/2019 tentang kewirausahaan. Penulis menyimpulkan bahwa pemahaman para mahasiswa dan dua nara sumber pendukung tentang kewirausahaan cukup baik dan eksplisit bahwa kewirausahaan adalah selain sekedar sebagai disiplin ilmu juga sebuah kegiatan dimana seseorang memanfaatkan segala kemampuan dan kreatifitasnya untuk berinovasi menciptakan sesuatu yang baru dari segala sumber daya yang ada ke sesuatu yang lebih berdayaguna untuk meraih keuntungan, dan kesuksesan bagi dirinya dan orang lain. Penulis menemukan bahwa setiap informan menyadari bahwa melalui mata kuliah kewirausahaan merekapun akhirnya mempelajari, mengetahui dan menemukan banyak hal yang berkaitan dengan kewirausahaan. Dengan mempelajari kewirausahaan mereka termotivasi untuk segera melaksanakan kegiatan kewirausahaan, memacu mereka untuk terus belajar, inovatif, mengembangkan kreatifitas hingga pada akhirnya bisa secara mandiri mengembangkan sebuah usaha dengan melibatkan berbagai sumber daya baik pengetahuan, pengalaman, keterampilan mengatur sistem kerja dan pengelolaan keuangan. Hal ini senada dengan apa yang ditegaskan oleh Agus Wibowo (2011) dalam bukunya Pendidikan Kewirausahaan (Konsep dan Strategi) bahwa Perguruan Tinggi menyediakan mata kuliah kewirausahaan untuk to know, to do, yang ditujukan untuk bekal motivasi dan pembentukan sikap mental to be entrepreneur. Keberhasilan berwirausaha merupakan output dari suatu pembelajaran yaitu pendidikan kewirausahaan.

Faktor Pendukung Dan Penghambat Dalam Berwirausaha Serta Upaya Meningkatkan Motivasi Berwirausaha

   Adapun faktor-faktor yang mendukung dan menghambat yang menyebabkan rendahnya motivasi berwirausaha dikalangan mahasiswa-mahasiswi adalah sebagai berikut: 1) Faktor Pendukung. Dalam wawancara dengan kelima belas informan penulis mengetahui bahwa kesuksesan dalam berwirausaha ditentukan oleh beberapa faktor berikut yakni tingginya motivasi, memiliki karakter yang kuat, memiliki modal yang cukup, memiliki pengetahuan dan pengalaman manajemen yang baik, ketepatan dalam menangkap peluang usaha, ketepatan menetapkan waktu dan lokus usaha. Sebagaimana ditegaskan oleh Zimmerer (Suryana, 2002) dalam bukunya tentang kewirausahaan bahwa sukses dalam berwirausaha tidak diperoleh secara tiba-tiba dan instan atau secara kebetulan, tetapi dengan perencanaan, memiliki visi, misi, kerja keras, memiliki kreativitas, selalu berinovasi, dan memunculkan peluang ide baru dalam berbisnis, memiliki pengetahuan dan kompetensi kewirausahaan, berani bermimpi, berani mencoba dan berani gagal, dapat membaca peluang pasar, mampu memanage keuangan, mengambil inspirasi dari mega wirausaha, berjiwa honesty (jujur) dan lucky (keberuntungan).2) Faktor penghambat. Selain keberhasilan, seorang wirausahawan juga selalu dibayangi oleh potensi kegagalan yang akan memperlihatkan lebih banyak pelajaran dibandingkan sekadar kesuksesan. Menurut Zimmerer (Suryana, 2002) ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang wirausahawan gagal dalam menjalankan usahanya yaitu tidak kompeten dalam manajerial, kurang pengalaman, lemahnya kendali keuangan, gagal mengembangkan perencanaan strategis, pertumbuhan tak terkendali, pengendalian persediaan dan ketidakmampuan membuat transisi kewirausahaan. Sedangkan hasil temuan penulis dalam wawancara bahwa hambatan kewirausahan juga disebabkan kemalasan, tidak mau mengambil resiko, tidak ada kemauan dari dalam diri, ketakutan akan mengalami kegagalan, keterbatasan modal, rendahnya sumber daya manusia, tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan kewirausahaan, kurang tepat menangkap peluang sekaligus salah memilih tempat untuk membuka usaha serta sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha. 3) Upaya Meningkatkan Motivasi Berwirausaha. Melihat betapa pentingnya kegiatan kewirausahaan, maka perlu ada upaya untuk meningkatkan motivasi berwirausaha. Adapun upaya-upaya itu antara lain; memberikan motivasi secara terus menerus kepada kalangan mahasiswa-masiswi bahwa bergerak dibidang kewirausahaan karena itu cukup membantu perekonomian keluarga, kesempatan untuk mengendalikan nasib dan perubahan hidup yang lebih baik, merangsang semangat kewirausahaan mereka dengan mengadakan seminar-seminar yang berbicara tentang hal terkait dengan pembicaranya adalah orang-orang yang sudah sukses di bidang kewirausahaan hingga mengadakan pelatihan-pelatihan kewirausahaan.

Refleksi Pastoral

Kewirausahaan (entrepreneur) merupakan persoalan penting di dalam perekonomian suatu bangsa yang sedang berkembang. Kemajuan atau kemunduran ekonomi suatu bangsa sangat ditentukan oleh keberadaan dan peranan dari kelompok wirausahawan ini. “Tidak ada bangsa yang sejahtera dan dihargai bangsa lain tanpa kemajuan ekonomi. Kemajuan ekonomi akan dapat dicapai jika ada spirit kewirausahaan, yang kuat dari warga bangsanya”. Oleh karena itu, pemberian dorongan dan motivasi kepada kalangan generasi muda para mahasiswa-mahasiswi untuk mencintai dan menghargai pekerjaan apapun sebagai bentuk tanggungjawab atas kehidupannya, hendaknya terus dilakukan. Tidak ada kata tidak mampu, karya Tuhan melalui Roh Kuduslah, akan memampukan manusia sebagai co-creator untuk beraktivitas dengan kreatif dan inovatif. “Apa yang ada pada kita yang telah Tuhan ciptakan bagi kita, itulah yang akan menjadi modal dan model kita berwirausaha” (Bdk.Kej.4:2-5). Setiap manusia telah diberi keahlian oleh Allah untuk merancang dan membangun dunia, mengusahakan, memelihara dan mengembangkan segala yang ada sebagai bentuk tanggungjawab atas mandat dari Allah sendiri. Dengan demikian sangat disayangkan apabila seorang pribadi yang sudah dibekali dengan berbagai pengetahuan tidak mampu mengembangkan setiap talenta yang Tuhan berikan, tidak mampu mengolah sumber daya alam yang Tuhan berikan. Maka setiap output selain memiliki bekal pengetahuan sebagai agen pastoral juga harus memiliki jiwa dan semangat kewirausahaan agar mampu hidup mandiri, bebas secara finansial dan sejahtera. Dengan demikian dapat menjalankan tugasnya dengan baik sebagai agen pastoral di tengah masyarakat dalam situasi dan kondisi apapun.

PENUTUP

Kesimpulan

1)   Pemahaman Tentang Kewirausahaan

   Para mahasiswa-mahasiswi memahami kewirausahaan dengan baik, mereka memahami bahwa kewirausahaan merupakan kegiatan yang melibatkan kreativitas, kemampuan dan inovasi untuk mengolah sumber daya yang ada ke sesuatu yang lebih berdaya guna untuk memperoleh keuntungan bagi diri sendiri dan orang lain; kewirausahaan cukup menjanjikan karena apabila dijalankan dengan sungguh-sungguh akan meraih kesuskesan.

2)    Faktor Pendukung

Ketersediaan modal, pengalaman dan keterampilan; berani menanggung resiko; tingginya motivasi; memiliki karakter yang kuat; memiliki modal yang cukup; memiliki pengetahuan dan pengalaman manajemen yang baik; ketepatan dalam menangkap peluang usaha sekaligus ketepatan menetapkan waktu dan lokus usaha.      

3)   Faktor Penghambat

Kemalasan; takut mengambil resiko; tidak ada kemauan dari dalam diri; ketakutan mengalami kegagalan; keterbatasan modal; rendahnya sumber daya manusia; kurang tepat menangkap peluang dan salah memilih tempat untuk membuka usaha serta sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berwirausaha.

4)   Upaya Meningkatkan Kewirausahaan

Memberikan motivasi, merangsang semangat kewirausahaan mereka dengan mengadakan seminar-seminar serta mengadakan pelatihan-pelatihan kewirausahaan.

Saran

Saran-saran yang diajukan oleh penulis antara lain sebagai berikut:

1)   Bagi Mahasiswa-mahasiswi

Mahasiswa sebaiknya memiliki motivasi berwirausaha yang tinggi untuk berkiprah dalam dunia usaha.

2)   Bagi Dosen

Menyeimbangkan materi perkuliahan dengan program pelatihan kewirausahaan.

3)   Bagi Lembaga

Menyediakan tenaga pendidik atau dosen yang memiliki jiwa wirausaha yang berkonsentrasi pada bidang kewirausahaan, sehingga dalam proses pembelajaran nilai-nilai jiwa wirausaha akan tergambar jelas dan terwujud dalam praktiknya.

DAFTAR PUSTAKA

DOKUMEN GEREJA DAN KAMUS

Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Tim Penyusun: Dendy Sugono dkk, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Hardawiryana.R. (Penerj.). Ajaran Sosial Gereja. Bogor: Grafika Merdi Yuana.

Lembaga Alkitab Indonesia. (2004). Alkitab. Jakarta: LBI.

Paulus II, Yohanes. (2003). Penerj. R. Hardawiryana, Konsili Vatikan II. Jakarta: Obor.

Poewardarminto, WJS. (1985). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Ten Napel Henk. (2012). Kamus Teologi, Cetakan 12. Jakarta: Gunung Mulia.

BUKU-BUKU

Alma, Buchari. (2005). Kewirausahaan. Bandung: Alfabeta.

_______. (2011). Kewirausahaan. Bandung: Alfabeta.

A.M. Sardiman. (2006). Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT.         Raja Grafindo Persada.

Antonio, J.M.L. & Marjan, G. (eds). (2008). Teaching Psychology of        Entrepreneurship. Madrid: LibrerΓ­a UNED.

Asmani, Jamal Ma’mur. (2011). Sekolah Entrepreneurship. Jogjakarta: Harmoni.

Basrowi. (2011). Kewirausahaan untuk Perguruan Tinggi. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia.

Bergant, Dianne, CSA dan Karris, J.Robert,OFM. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian  Baru, Yogyakarta: Kanisius.

Daryanto. (2012). Pendidikan Kewirausahaan. Jakarta: Gava Media.

Dwi Istikhomah Hidayati dan Suparno. (2012). Hubungan Antara Kematangan Vokasional dengan Motivasi Berwirausaha pada Siswa SMK. Laporan Penelitian. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Kasmir. (2006). Kewirausahaan. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Longenecker, J. Carlos, W. M., & Petty, W. J. (2001). Kewirausahaan manajemen usaha kecil. Terjemahan thomson learning. Jakarta: Salemba Empat.

Lupiyodi, Rambat. (2007). Wawasan Kewirausahaan. Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI

Rusdiana. (2014). Kewirausahaan (Teori dan Praktek). Bandung: CV. Pustaka Setia.

Santoso, Djoko. (2013). Kewirausahaan: Modul Pembelajaran. Jakarta: Direktur         Jenderal Pendidikan Tinggi

Saiman Leonardus, 2009, Kewirausahaan: Teori, Praktik, dan Kasus-Kasus, Jakarta, Salemba Empat.

Sadirman. (2006). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja   persada.

Siagian, Sondang P.( 2004). Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta:Rineka Cipta

Soegoto, Eddy Soeryanto.(2009). Entrepreneurship Menjadi Pembisnis Ulung. PT. Elex Media Komputindo: Jakarta.

Steers, Richard M. Dan Peters T. (1991). Motivation And Behavior. New York: McGraw-Hill International Edition, 1991.

Sugihartono, dkk. (2007). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Subijanto. (2012). Analisis Kebijakan Pendidikan Kewirausahaan, dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol 18, No 2 Edisi Juni 2012, Balitbang,    Kemdikbud.

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:             Alfabeta.

_______. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:             Alfabeta.

_______. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, R&D. Bandung:   Alfabeta.

Suryana. (2002). Kewirausahaan. Jakarta: Salemba Empat.

_______. (2004). Memahami Karakteristik Kewirausahaan. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.

_______. (2011). Kewirausahaan. Jakarta: Salemba Empat.

Wibowo, Agus. (2011). Pendidikan Kewirausahaan (Konsep dan Strategi). Jogjakarta: Pustaka Pelajar.


 ONLINE DOKUMEN

Julianto, Simon. 2017. Kewirausahaan Jemaat: Sebuah Alternatif Berteologi.

Yogyakarta: WASKITA, Jurnal Studi Agama dan Masyarakat. Jakarta: PT. Raja

Persada. Diakses pada 20 Maret 2018, jam 12.05 dari ejournal.uksw.edu›article› view.

Rosmiati dkk. 2015. Sikap, Motivasi dan Minat Berwirausaha Mahasiswa. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Vol. 17 No.1: 21-30. Diakses pada 22 Maret 2018, jam 14.05 dari Http://jurnalmanajemen petra.ac.id/index.php/man/article/ view/19227.

Wiratni, Siswo. 2012. Pelaksanaan Pendidikan Kewirausahaan Di Pendidikan Tinggi.

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 18 No.4 : 455-456. Diakses pada 16 Oktober 2018, jam 10.15 dari Http://jurnaldikbud.kemdikbud.go.id › d…

Febriyanto. 2015. Strategi Peningkatan Kewirausahaan Bagi Mahasiswa Di Pendidikan Tinggi. Jurnal Bisnis Darmajaya. Vol.01 No.01: 88-89. Diakses pada 16 Oktober 2018, jam 13.25 dari Http://jurnal.darmajaya.ac.id › view.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gereja Katolik~ nikah Dua Kali?

“Bolehkah Dilakukan Peneguhan Ganda Perkawinan?” Seorang pemuda Katolik menjalin relasi kasih dengan seorang gadis dari  Gereja Protestan. Mereka berdua sebenarnya sudah memutuskan untuk menikah secara Katolik dan pacarnya itu bersedia akan ikut suaminya pindah ke Katolik. Tapi dalam perjalanan, keinginan dan niat mereka berdua ini ternyata tidak didukung oleh keluarga sang gadis. Pihak keluarga wanita bersikukuh supaya pihak laki-laki yang mengalah dan mengikuti wanitanya. Mereka berdua lalu berdiskusi lagi dan membuat kesepakatan baru, yaitu: mereka akan berencana menikah dua kali. Rencana mereka, mereka akan menikah dulu di Gereja Protestan supaya orang tua wanita ini jangan marah, lalu setelah itu baru mereka diam-diam menikah lagi di Gereja Katolik. Apakah diperbolehkan ada peneguhan ganda dalam perkawinan? Apakah tidak akan menjadi masalah ke depannya dari calon keluarga baru tersebut kalau dari awal mereka membangun keluarga mereka dengan kebohongan? Dalam Kitab Hukum Kanoni...

Filsafat: Sebuah Perjalanan Intelektual

Filsafat adalah ilmu yang mempelajari esensi kebenaran, pengetahuan, kehidupan, dan keberadaan.  Filsafat juga dapat diartikan sebagai pandangan kritis terhadap segala sesuatu.  Menurut KBBI, filsafat/filosofi adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai inti segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya.  Kata "filsafat" berasal dari bahasa Yunani philosophia, gabungan dari philos (cinta, kecintaan) dan sophos (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan).  Dengan demikian, filsafat berarti kecintaan akan kebijaksanaan. Filsafat telah berkembang melalui berbagai zaman, dan setiap zaman memiliki ciri khasnya sendiri. Pengertian Filsafat Menurut Para Ahli 1. Aristoteles:  Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu secara umum dan universal.  Filsafat bertujuan untuk mencari kebenaran tentang segala sesuatu dan memahami hakikat realitas. 2. Plato:  Filsafat adalah upaya untuk mencapai pengetahuan yang benar dan abadi.  Filsafat merupa...

Gereja Katolik Membolehkan Menikah Lagi Setelah Cerai Sipil?

“BOLEHKAH MENIKAH LAGI SETELAH CERAI SIPIL?”   Kisah nyata seorang pria Katolik menikah melalui dispensasi 17 tahun lalu dengan seorang wanita Kristen Protestan. Sejak tahun ke-10 hubungan perkawinan mereka renggang. Bahkan mereka sudah tidak lagi melakukan hubungan seks meskipun tinggal serumah. Kemudian mereka memutuskan untuk bercerai secara sipil tahun 2016. Putri semata wayang mereka oleh pengadilan diputuskan untuk ikut dengan sang pria. Tahun 2017  sang mantan istri  menikah lagi dengan pria selingkuhannya semasa mereka masih terikat perkawinan secara hukum. Kini mereka juga sudah dikaruniai anak. Dari kisah ini apakah sang pria dapat memproses pembatalan pernikahan? Apakah ia masih boleh menerima komuni? Jika ia bertemu dengan wanita Katolik kemudian menikah dengannya secara Katolik, apakah pasangannya juga terkena sanksi tidak boleh menerima komuni juga? Dalam Injil Matius perihal perceraian ditegaskan Yesus ketika orang-orang Farisi mempertanyakannya. Tuhan Yesu...