“Allah menyelamatkan manusia." Mengapa harus menyelamatkan manusia? Untuk menyelamatkan manusia Allah merendahkan diri-Nya dalam rupa kemanusiaan Yesus melalui peristiwa Salib. Mengapa harus melalui peristiwa Salib? "Dua tesis ini kemudian ditentang oleh antitesis... "Allah adalah mahakuasa maha segalanya, yang bisa melakukan apapun tanpa harus turun menjadi manusia dan menderita. "Hubungan dari tesis dan antitesis ini memunculkan tesis baru, "Salib menjadi jalan terakhir bagi manusia untuk memahami cinta Allah."
Manusia Diciptakan oleh Cinta: Sebuah Perjalanan Menuju Keselamatan
“Cinta merupakan sumber segala sesuatu; dunia dan kehidupannya muncul karena kekuatan yang bernama cinta. Cinta adalah substansi dari segala bentuk kehidupan di dunia” (Jalaluddin Rumi). Cinta memungkinkan penciptaan; tanpa cinta, tak ada kehidupan, pengorbanan, atau keselamatan.
Kisah penciptaan dan jatuhnya manusia pertama dalam dosa di kitab Kejadian menjelaskan bahwa manusia diciptakan Allah atas dasar cinta dan dipanggil untuk mengalami kebahagiaan dalam kehidupan Allah sendiri. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kej. 1:27), menunjukkan bahwa keberadaan manusia, hidupnya, dan karyanya diarahkan pada cinta kepada Allah. Allah juga menciptakan manusia bukan sebagai makhluk tunggal; Ia menempatkan manusia lain yang sepadan agar mereka saling melengkapi, menunjukkan kehadiran Allah yang selalu menyertai manusia, bahkan melalui sesama. Allah memberi mereka kuasa dan kewajiban untuk memelihara Taman Eden, tetapi sesuai kehendak-Nya. Manusia pertama tak perlu bersusah payah bekerja karena segala kebutuhan tersedia, kecuali buah dari pohon kehidupan yang dilarang. Buah terlarang melambangkan aturan, norma, dan hukum sebagai batas yang tak boleh dilewati; manusia dituntut menjaga kepercayaan dan mengatur diri dalam menggunakan kebebasan yang diberikan Allah. Itulah gambaran surga: cinta, kebahagiaan, sukacita, dan persahabatan hangat antara Allah dan manusia.
Kebebasan yang Disalahgunakan
Allah begitu mencintai manusia sehingga memberikan rahmat kebebasan, kemampuan untuk menentukan diri sendiri. Rahmat ini memungkinkan manusia mencapai kebahagiaan (keselamatan, kehidupan kekal surgawi). Kebebasan adalah anugerah cuma-cuma; manusia bebas bergerak menuju kebahagiaan melalui tindakannya. Allah memberikannya agar manusia memilih yang baik. Namun, Allah tahu manusia akan melawan-Nya. Manusia menyalahgunakan kebebasan dengan memakan buah terlarang, akibatnya mereka keluar dari Taman Eden dan mengalami kerasnya kehidupan di luar Allah.
Hubungan mereka dengan Allah terputus; itu disebut dosa. Sejak dosa pertama, dosa membanjiri bumi. Semua manusia terlibat dalam dosa Adam. Santo Paulus berkata, “oleh ketidaktaatan satu orang, semua orang telah menjadi orang berdosa” (Roma 5:19). “Sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12). Manusia menjadi hamba dosa, kehilangan kemuliaan Allah, terperangkap dalam kegelapan maut dan kematian (penderitaan, kesesatan, penolakan, penindasan, kegagalan, kesulitan hidup). Manusia membutuhkan pembebasan dan penebusan, yang hanya bisa dilakukan oleh Allah. Penebus yang dijanjikan adalah manusia tanpa dosa, dan keselamatan tak mungkin tanpa penderitaan Penebus ini. Semua ini tergenapi dalam Yesus Kristus.
Rencana Keselamatan Allah
Rencana keselamatan Allah bukan hanya setelah manusia berdosa, tetapi sejak penciptaan dunia. Titik tolaknya adalah cinta-Nya yang besar. Setelah manusia berdosa (Kejadian 3:1-14), Allah mempersiapkan jalan keluar: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kejadian 3:15 – janji tentang Mesias). Keselamatan adalah inisiatif Allah.
Karena cinta, Allah menyelamatkan bukan hanya melalui sabda dari ketinggian, tetapi dengan merendahkan diri, menjumpai, dan merasakan hidup manusia. Bangsa Israel mengalami Allah sebagai Allah yang hidup, terlibat, dan peduli (Imanen, bukan hanya Transenden). Keterlibatan Allah terlihat dalam sejarah panjang bangsa Israel: panggilan Abraham, pembebasan Musa dari Mesir, pemberian hukum di Sinai, dan penyertaan Allah dalam perjalanan mereka ke Kanaan. Namun, bangsa Israel sering memberontak. Allah tetap menunjukkan cinta-Nya.
Allah akhirnya turun secara langsung, bukan hanya melalui kata-kata atau nabi, melainkan melalui inkarnasi Yesus: “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada” (Ibrani 1:1-2).
Yesus mewartakan Kerajaan Allah, menunjukkan Allah yang penuh belas kasih dan cinta, datang bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan. Misi Yesus berat karena manusia tetap tertutup hati. Yesus mengalami penolakan dan penghinaan, puncaknya adalah peristiwa Salib. Salib adalah jalan terakhir agar manusia memahami cinta Allah dan puncak karya keselamatan. Yesus yang tak berdosa dibuat berdosa, disalibkan, dan dibunuh; darah-Nya menjadi darah tebusan, menyucikan manusia dari dosa, memberikan hidup baru. Keselamatan bersifat universal, tetapi harus diterima secara pribadi.
Cinta dari Salib (Via Dolorosa)
(Puisi berikut menggambarkan perjalanan Yesus menuju salib)
Terseok langkah-Mu menuju Kalvari, kaki tak beralas menjejal tanah, menindih kerikil tajam. Engkau tahu tujuan perjalanan itu: menuju puncak kematian. Beban dipundak, ditambah cambukan serdadu; darah bercampur keringat mengalir, langkah tergontai hingga jatuh berkali. Kelelahan dan sakit membuat-Mu mengerang dalam diam. Veronika mengusap darah dan keringat-Mu, setidaknya membuat mata bisa memandang wajah berdarah, tatapan hampa tanpa senyuman, namun bermakna “cinta”. Mengapa Engkau terus melangkah?
Kelelahan dan sakit-Mu bukan hanya soal bilur dan luka, tetapi ketidakmengertian manusia akan cinta. Engkau datang membawa cinta, namun menerima penistaan. Di Golgota, tubuh-Mu tergantung; tangan dan kaki-Mu yang memberkati dan melangkah kini ditembusi paku. Gelapnya langit menggambarkan manusia dilanda dosa, kutukan, dan kematian. Namun, di balik kegelapan ada secercah harapan: kesetiaan-Mu pada cinta. Terbelahnya Bait Suci dan gempa bumi menandai luluh lantaknya dosa manusia. Gelapnya langit tak abadi; terang dan cahaya menguasai bumi. Kemuliaan-Mu ditunjukkan: penderitaan tak abadi, kebangkitan dan hidup kekal adalah pasti. Manusia terkutuk oleh dosa diangkat menjadi ahli waris Kerajaan. Derita, salib, kematian, dan kebangkitan-Mu membawa manusia pada “cinta” dan jalan menuju kemenangan.
Tritunggal dan Keselamatan
Peristiwa Salib Yesus tak terpisahkan dari relasi kasih antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus (Trinitas). Allah Bapa adalah asal usul segala sesuatu, termasuk keilahian Putra dan Roh Kudus, dan tujuan segala sesuatu. Putra (Yesus Kristus) melaksanakan karya keselamatan. Roh Kudus menghadirkan dan membagikan karya keselamatan kepada setiap orang. Ketiga pribadi berbeda, namun satu dalam hakikat ilahi. Hubungan ilahi ini memungkinkan karya keselamatan bagi manusia. Yesus adalah wujud dan rupa Allah sendiri; Roh Kudus tinggal dalam diri manusia. Peristiwa Salib adalah puncak penggenapan seluruh sejarah keselamatan Allah, yang sudah dimulai sejak manusia pertama. Allah selalu mengupayakan perdamaian, keselamatan, dan persatuan dengan manusia.(VM)
.
.
#Sebuah Sintesa Integratif

Komentar
Posting Komentar