Sebagai orang katolik yang hidup di sebuah realitas keberagaman seringkali kita diperhadapkan dengan ujian-ujian entah itu sekedar pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang iman dan keyakinan. Sebetulnya itu bukanlah sebuah masalah yang perlu diperdebatkan jika kita memiliki pengetahuan yang cukup tentang iman kita. Cukup dengan memberikan pemahaman-pemahaman sederhana, mudah dipahami dan menyejukan. Bahkan sudah menjadi keharusan untuk kita saling memberikan katekese sederhana kepada sesama saudara/i seiman yang kurang memahami tentang apa yang diyakininya.
Berikut ada beberapa pertanyaan yang seringkali ditanyakan dan kita coba dalami.
"Apakah Bunda Maria mengalami sakit saat melahirkan?”
Dalam ajaran tentang keperawanan Maria dikenal tiga pengertian dan keyakinan:
Pertama, virginitas ante partum, perawan sebelum melahirkan, sebab Dia dikandung oleh Roh Kudus.
Kedua, virginitas in partum, Maria tetap perawan saat melahirkan, betapapun melahirkan anak dia tetap perawan, melahirkan tanpa merasa sakit.
Ketiga, virginitas post partum, tetap perawan setelah melahirkan, karena betapapun hidup suami-isteri, namun Yosef menjaga keperawanan Maria tersebut.
Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, di situ dikisahkan bahwa Hawa akan mengalami sakit saat melahirkan. Apakah Bunda Maria juga mengalami sakit saat melahirkan?
Persoalan ini tentu terkait dengan pemahaman yang kedua, yakni: keperawanan Maria yang nyata pada saat dia melahirkan Yesus, karena melahirkan tanpa rasa sakit.
Injil Lukas dalam kisah kelahiran sama sekali tidak sebut soal itu,). Hanya dikatakan di dalamnya, “…ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung…” (Luk 2:7), hanya itu.
Sementara baik Matius, Markus maupun Yohanes tidak memberitakan kisah kelahiran Yesus, dan bagaimana saat Dia dilahirkan. Oleh karenanya, tentang hal ini perlu menelusuri warta Kitab Suci sejak awal dan bagaimana Gereja menafsirkannya dalam terang dan keyakinan imannya akan keperawanan Maria, bahwa Maria tetap perawan selamanya.
Paus Leo Agung di tahun 449 telah menulis bahwa Maria tidak kehilangan keperawanannya pada saat melahirkan, maka tidak ada yang luka atau rusak dari tubuhnya. Hal itu terjadi karena tubuhnya kuat, karena dia tidak dikuasai oleh dosa, dan juga karena dia senantiasa disertai dan dilindungi oleh Roh Kudus. Santo Hieronimus juga pernah berkata bahwa saat melahirkan Rahim Maria dibuka, tanpa keperawanannya dinodai. Dan Doktrin Gereja juga mengatakan hal yang sama bahwa ia melahirkan Yesus dengan tetap perawan.
Akan tetapi dalam kitab Kejadian 3:16, dikatakan, “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu”.
Bagaimana ini dijelaskan berkaitan dengan permasalah itu?
Sakit saat melahirkan diperlihatkan sebagai tanda atau buah dari keberdosaan, suatu luka yang harus ditanggung akibat dari ketidaksetiaan umat manusia. Berbicara tentang Bunda Maria, dia dilahirkan tanpa noda dosa, bahkan kemudian disebut sebagai Hawa baru. Maria yang justru mematahkan belenggu dosa itu akibat dari dosa Hawa, oleh karenanya Maria tidak terkena oleh noda dosa itu, sehingga dia pun tidak mengalami dampak dari keberdosaan: sakit pada saat melahirkan. Maria yang mematahkan belenggu dosa.
Bahkan Maria juga adalah bunda kehidupan, mengandung dengan sukacita serta melahirkan pun dalam sukacita, bukan dalam kesakitan. Maria juga adalah bunda kehidupan sejati, yang memberikan hidup baru, lewat dan dalam Putera yang dilahirkannya, karenanya Maria dibebaskan dari keberdosaan.
Lalu mengapa dalam kitab Imamat 12:1-6, diperlihatkan bahwa seseorang yang setelah melahirkan itu najis dan menantikan saat pentahiran. Jika kita baca lagi dalam Luk 2:21-24, di situpun dikisahkan Maria dan Yosep mempersembahkan dua ekor burung tekukur untuk pentahiran. Apakah itu bukan untuk pentahiran Maria?
Maria dan Yosep yang mempersembahkan dua ekor burung tekukur untuk pentahiran (lih Luk 2:21-24) itu lebih sebagai pelaksanaan hukum atau tradisi, bukan karena mereka membutuhkan itu.
Karena kenyataan penjelmaan itu yang membuat Yosep dan Maria harus mengikuti tatanan norma dan tradisi yang berlaku.
Yang mendasari pemahaman itu, tidak lain adalah keyakinan iman akan kesucian Yesus dan kemurnian Maria, bahwa yang dikandungnya adalah kudus dari Allah (lih. Luk 1:35). Maka kalau saat Yesus dilahirkan, Maria tidak mengalami kesakitan, itu sesuai dengan kodrat Yesus yang dilahirkannya, sesuai dengan intensi penjelmaan-Nya untuk penghapusan dosa dan sesuai dengan kesucian Maria.
Keperawanan Maria adalah rahmat Allah yang dilimpahkan secara khusus kepada Maria. Hal ini lebih menunjukkan pada kemurahan hati Allah dan cara Allah dalam mempersiapkan rencana keselamatan-Nya. Maka bukan terutama Maria yang utama, melainkan Allah.
Itulah mengapa Maria disebut oleh Malaikat Gabriel sebagai “penuh rahmat” (gratia plena), karena memang Roh Kudus yang menaunginya.(MJB)

Komentar
Posting Komentar