“Apa itu STIGMATA?”
Stigmata adalah tanda luka-luka Yesus yang tersalib, yang muncul secara tiba-tiba pada tubuh seseorang.
Yang termasuk dalam tanda sengsara itu adalah luka-luka paku di kaki dan tangan, luka tombak di lambung, luka di kepala akibat mahkota duri, dan luka bilur-bilur penderaan di sekujur tubuh, teristimewa di punggung.
Seorang stigmatis, yaitu orang yang menderita akibat stigmata, dapat memiliki satu, atau beberapa, atau bahkan semua tanda sengsara itu. Stigmata dapat kelihatan, dapat pula tidak kelihatan; dapat permanen, dapat pula sementara waktu saja.
Bagaimana bisa diyakini jika itu stigmata?
Memang akhir-akhir ini banyak kejadian semacam ini tetapi seorang itu dengan sengaja mengakui diri sebagai seorang stigmatis untuk mendapatkan keuntungan jika ada yang datang untuk berdoa memohon kesembuhan atau bisa juga luka karena sakit atau penyakit yang di derita orang itu atau bisa juga karena kondisi psikologis orang itu.
Hal ini Gereja tidak serta merta menerima dan tentu saja sangat berhati-hati dalam menangani kasus seperti ini. Biasanya, Gereja pertama-tama berusaha memastikan bahwa luka-luka tersebut bukan berasal dari sebab-sebab alamiah, dan mencari bukti adikodrati guna membuktikan bahwa stigmata tersebut sungguh merupakan suatu tanda dari Tuhan. Gereja juga hendak memastikan bahwa stigmata tersebut bukanlah suatu tanda dari setan guna membangkitkan suatu kegemparan rohani yang menyesatkan orang banyak. Oleh sebab itu, karena stigmata merupakan suatu tanda persatuan dengan Tuhan kita yang tersalib, seorang yang benar-benar stigmatis haruslah hidup dengan mengamalkan keutamaan-keutamaan dengan gagah berani, tabah dalam menanggung penderitaan baik fisik maupun jiwa, dan hampir senantiasa mencapai tingkat persatuan ekstasis dengan-Nya dalam doa.
Apa tanda luka-luka dari stigmata yang benar?
Tanda luka-luka dari stigmata yang benar, berbeda dari luka-luka yang timbul akibat penyakit. Ada beberapa kriteria untuk bisa memastikan apakah itu benar-benar stigmata atau tidak.
Apa saja kriterianya?
Kurang lebih ada 5 kriteria diantaranya:
1. Stigmata yang benar itu, harus sesuai dengan luka-luka Tuhan kita, sedangkan luka-luka yang timbul akibat penyakit akan muncul secara acak pada tubuh.
2. Stigmata yang benar, mencucurkan darah, teristimewa pada hari-hari di mana dikenangkan Sengsara Yesus (misalnya pada hari Jumat dan Jumat Agung), sementara luka-luka yang timbul akibat penyakit tidak demikian.
3. Stigmata yang benar, memancarkan darah yang bersih serta murni, sedangkan yang timbul akibat penyakit memancarkan darah yang disertai nanah. Darah yang memancar dari stigmata yang benar, sekali waktu dapat terpancar dalam jumlah besar tanpa mencelakakan sang stigmatis, sedangkan yang berasal dari penyakit akan melemahkan orang secara serius hingga diperlukan transfusi darah.
4. Stigmata yang benar, tak dapat disembuhkan baik melalui medis ataupun perawatan lainnya, sedangkan yang timbul akibat penyakit dapat disembuhkan.
5. Yang terakhir, stigmata yang benar, muncul secara tiba-tiba, sedangkan yang timbul akibat penyakit muncul perlahan-lahan seturut periode waktu dan dapat dihubungkan dengan penyebab psikologis dan fisik yang utama.
Para stigmatis yang benar, akan mengalami keterkejutan atas munculnya stigmata. Tanda ini bukanlah sesuatu yang mereka “mohon dalam doa”. Bahkan para stigmatis ini, seringkali mereka berusaha untuk menyembunyikannya agar tidak menarik perhatian orang terhadap dirinya. Mereka benar-benar menunjukkan sikap rendah hati.
Siapa-siapa yang pernah dapat stigmata ini yang diakui Gereja?
Tidak banyak dari antara para kudus yang dianugerahi stigmata; dan mereka yang dianugerahinya, seperti: St Fransiskus dari Assisi (1181 - 1226). Dia menjadi stigmatis pertama “yang dinyatakan sah” oleh Gereja. Dia mendapat stigmata pada bulan Agustus tahun 1224. Yang berikutnya adalah St. Katarina dari Sienna (1347-1380), yang juga dianugerahi stigmata dan pengalaman-pengalaman mistik dan penglihatan-penglihatan sejak dia masih berusia enam tahun. Dia mendapat stigmata pada bulan Februari 1375, ketika dia mengunjungi Pisa, dan ikut ambil bagian dalam Misa di Gereja St Kristina. Dan yang berikutnya lagi adalah St. Padre Pio. Dia merupakan stigmatis yang paling termasyhur. Dia juga dianugerahi penglihatan-penglihatan sejak umurnya masih lima tahun.
Pada tanggal 5 Agustus 1918, Padre Pio mendapat penglihatan di mana ia merasa dirinya ditikam dengan sebilah tombak; sesudahnya luka akibat tikaman tombak itu tinggal pada tubuhnya. Kemudian, pada tanggal 20 September 1918, saat ia memanjatkan syukur sesudah perayaan Misa, ia juga menerima luka-luka Tuhan kita di kedua kaki dan tangannya. Setiap hari, Padre Pio kehilangan sekitar satu cangkir darah; luka-luka itu tidak pernah menutup ataupun bertambah parah. Juga, bukannya bau darah, melainkan bau harum yang semerbak terpancar dari luka-lukanya. Stigmata itu tinggal dalam tubuh Padre Pio hingga akhir hayatnya.
Semoga pengalaman mereka itu menjadi inspirasi bagi kita dalam mengejar persatuan yang lebih mesra dengan Tuhan kita, teristimewa dengan sering menerima Sakramen Tobat dan menyambut Ekaristi Kudus.(MJB)
#Stigmata

Komentar
Posting Komentar